Risiko Perang Saudara Memuncak, AS Tarik Diplomat dari Myanmar

Kompas.com - 31/03/2021, 13:42 WIB
Pengunjuk rasa di Myanmar kembali ke jalan pada Minggu (28/3/2021), hanya sehari setelah pasukan keamanan menewaskan lebih dari 100 orang di hari paling berdarah sejak kudeta militer bulan lalu. APPengunjuk rasa di Myanmar kembali ke jalan pada Minggu (28/3/2021), hanya sehari setelah pasukan keamanan menewaskan lebih dari 100 orang di hari paling berdarah sejak kudeta militer bulan lalu.

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) telah memerintahkan penarikan diplomat non-essential dari Myanmar, di tengah meningkatnya ancaman perang saudara menyusul kudeta militer untuk menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi.

Protes harian yang menuntut pemulihan pemerintah terpilih terus ditanggapi dengan tindakan keras dari militer.

Tercatat korban tewas sejak kudeta Myanmar 1 Februari mencapai lebih dari 520 warga sipil.

Tanggapan kekerasan junta telah memicu kecaman internasional - dan ancaman pembalasan dari beberapa kelompok etnis bersenjata Myanmar.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyatakan sedang memerintahkan "pegawai pemerintah AS non-essential dan anggota keluarga mereka" keluar dari negara tersebut.

“Keputusan itu diambil untuk melindungi keselamatan dan keamanan staf dan keluarga mereka,” kata Departemen Luar Negeri AS melansir Guardian pada Rabu (31/3/2021).

Baca juga: Kelompok Etnik Bersenjata di Myanmar Siap Bersatu Lawan Junta Militer

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Negara-negara di dunia telah berulang kali mengutuk tindakan keras terhadap perbedaan pendapat dan menekan kader junta Myanmar dengan sanksi.

Tapi tekanan tidak memengaruhi para jenderal. Pada Sabtu (27/3/2021), Hari Angkatan Bersenjata tahunan, negara itu menyaksikan korban jiwa terbesar sejauh ini, dengan sedikitnya 107 orang tewas.

Dewan Keamanan PBB akan mengadakan sesi darurat terkait Myanmar pada Rabu (31/3/2021), atas permintaan Inggris.

Ke-15 anggota akan bertemu secara tertutup, dimulai dengan pengarahan dari utusan khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener.

Halaman:

Sumber Guardian
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.