Kompas.com - 31/03/2021, 07:12 WIB
Peter Ben Embarek dan Marion Koopmans konfirmasi pers untuk menutup kunjungan tim ahli internasional dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di kota Wuhan, di provinsi Hubei China pada 9 2021. AFP PHOTO/HECTOR RETAMALPeter Ben Embarek dan Marion Koopmans konfirmasi pers untuk menutup kunjungan tim ahli internasional dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di kota Wuhan, di provinsi Hubei China pada 9 2021.

JENEWA, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara lain pada Selasa (30/3/2021) menyuarakan kekhawatiran atas studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang asal-usul Covid-19.

Pernyataan bersama dari negara-negara tersebut menyerukan pembaruan komitmen oleh WHO dan semua negara anggota WHO untuk akses, transparansi, dan ketepatan waktu atas penelitian Covid-19.

Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh lebih dari selusin pemerintah, yaitu AS, Australia, Kanada, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Israel, Jepang, Latvia, Lituania, Norwegia, Republik Korea, Slovenia, dan Inggris.

Pernyataan bersama itu menegaskan bahwa misi WHO sangat penting untuk memajukan kesehatan global dan keamanan kesehatan.

Semua pihak tersebut menyatakan dukungan penuh para ahli dan stafnya, serta mengakui kerja tak kenal lelah mereka untuk mengakhiri pandemi Covid-19, termasuk memahami bagaimana pandemi dimulai dan menyebar.

"Dengan mandat yang begitu penting, sama pentingnya bagi kami untuk menyuarakan keprihatinan bersama bahwa studi pakar internasional tentang sumber virus SARS-CoV-2, yang secara signifikan mengalami penundaan dan tidak mendapat akses ke data dan sampel yang lengkap dan asli," pernyataan bersama itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Asal Usul Covid-19: WHO Mengaku Tim di Wuhan Kesulitan dapat Akses Data dari China

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Selasa mengatakan, tim ahli internasional yang ditugaskan untuk melakukan perjalanan ke Wuhan, China, mengalami masalah dengan akses data.

"Dalam diskusi saya dengan tim, mereka mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi dalam mengakses data mentah," ujarnya saat bertemu dengan negara anggota.

"Saya berharap studi kolaboratif di masa mendatang mencakup berbagi data yang lebih tepat waktu dan komprehensif."

Menurut Tedros, untuk memahami kasus paling awal, para ilmuwan akan mendapatkan keuntungan dari akses penuh ke data termasuk sampel biologis, setidaknya dari data September 2019.

Halaman:
Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Salju Turun untuk Kali Pertama di Brasil, Warga Keheranan

Salju Turun untuk Kali Pertama di Brasil, Warga Keheranan

Global
AS Setujui Penjualan Helikopter Kargo Senilai Miliaran Dollar AS ke Israel

AS Setujui Penjualan Helikopter Kargo Senilai Miliaran Dollar AS ke Israel

Global
Terdakwa Kerusuhan Capitol Tolak Pakai Masker, Hakim Federal AS Bertindak Tegas

Terdakwa Kerusuhan Capitol Tolak Pakai Masker, Hakim Federal AS Bertindak Tegas

Global
Dokumen Terbaru CDC: Varian Delta Covid-19 Lebih Parah dari Perkiraan Sebelumnya

Dokumen Terbaru CDC: Varian Delta Covid-19 Lebih Parah dari Perkiraan Sebelumnya

Global
Sempat Diyakini Tewas, Putra Gaddafi Keluar dari Persembunyian dan Niat Berlaga di Politik Libya

Sempat Diyakini Tewas, Putra Gaddafi Keluar dari Persembunyian dan Niat Berlaga di Politik Libya

Global
Warnet Diterjang Banjir, Gamer di Filipina Tetap Lanjut Main

Warnet Diterjang Banjir, Gamer di Filipina Tetap Lanjut Main

Global
Trump Terbukti Paksa Plt Jaksa Agung Batalkan Hasil Pilpres AS 2020

Trump Terbukti Paksa Plt Jaksa Agung Batalkan Hasil Pilpres AS 2020

Global
Insiden 'Tsunami' Boston 1919, Saat Jutaan Galon Bahan Pembuat Rum Meledak

Insiden "Tsunami" Boston 1919, Saat Jutaan Galon Bahan Pembuat Rum Meledak

Global
Orang Terbang dengan Jetpack Dilaporkan Muncul Lagi di Langit AS

Orang Terbang dengan Jetpack Dilaporkan Muncul Lagi di Langit AS

Global
Profil Pemimpin Dunia: Scott Morrison, Perdana Menteri Australia

Profil Pemimpin Dunia: Scott Morrison, Perdana Menteri Australia

Global
Manfaatkan Kondom, Atlet Australia Sabet Medali Emas Olimpade Tokyo

Manfaatkan Kondom, Atlet Australia Sabet Medali Emas Olimpade Tokyo

Global
Pria Inggris Dipenjara 5 Tahun Lebih karena Bunuh 9 Kucing dengan Pisau

Pria Inggris Dipenjara 5 Tahun Lebih karena Bunuh 9 Kucing dengan Pisau

Global
Stasiun Luar Angkasa Internasional Lepas Kendali, Rusia Salahkan Perangkat Lunak

Stasiun Luar Angkasa Internasional Lepas Kendali, Rusia Salahkan Perangkat Lunak

Global
31 Juli dalam Sejarah: Gunung Fuji Meletus untuk Pertama Kalinya pada 781 SM

31 Juli dalam Sejarah: Gunung Fuji Meletus untuk Pertama Kalinya pada 781 SM

Global
Milisi Taliban Masuki Ibu Kota Provinsi, Bentrok Hebat dengan Tentara Afghanistan

Milisi Taliban Masuki Ibu Kota Provinsi, Bentrok Hebat dengan Tentara Afghanistan

Global
komentar
Close Ads X