Kompas.com - 30/03/2021, 12:12 WIB
Seorang pengunjuk rasa anti-kudeta melemparkan bom molotov ke arah polisi saat mereka bergerak menuju area protes di Yangon, Myanmar pada Rabu (17/3/2021). AP PHOTO STRSeorang pengunjuk rasa anti-kudeta melemparkan bom molotov ke arah polisi saat mereka bergerak menuju area protes di Yangon, Myanmar pada Rabu (17/3/2021).

NAYPIYDAW, KOMPAS.com - "Serangan sampah" menjadi taktik baru pengunjuk rasa Myanmar untuk melawan junta militer, saat jumlah korban tewas dalam demo anti-kudeta sudah mencapai lebih dari 500.

Pengunjuk rasa berusaha untuk meningkatkan kampanye pemberontakan sipil pada Selasa (30/3/2021) dengan meminta penduduk membuang sampah ke jalan-jalan di persimpangan jalan utama sebagai taktik baru, seperti yang dilansir dari Reuters pada hari yang sama.

"Aksi serangan sampah ini adalah aksi menentang junta," bunyi tulisan dari sebuah poster di media sosial.

Baca juga: Pimpinan Junta Militer Myanmar Gelar Pesta Mewah pada Hari Paling Berdarah sejak Kudeta

Aksi itu bertentangan dengan seruan dari junta militer melalui pengeras suara di beberapa lingkungan di Yangon pada Senin (29/3/2021), yang mendesak penduduk untuk membuang sampah dengan benar.

Setidaknya sudah ada 510 warga sipil yang tewas dalam hampir 2 bulan upaya junta untuk menghentikan protes anti-kudeta, menurut kelompok Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP).

Pasukan keamanan pada Senin (29/3/2021), menembakan senjata kaliber yang jauh lebih berat dari biasanya untuk membereskan barikade kantong pasir, kata saksi mata.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Belum jelas tipe senjata apa yang digunakan pasukan keamanan itu.

Baca juga: AS Jatuhkan Sanksi Ekonomi kepada Myanmar Setelah Lebih dari 100 Orang Tewas dalam Sehari

Televisi pemerintah mengatakan bahwa pasukan keamanan menggunakan "senjata anti-huru-hara" untuk membubarkan kerumunan "orang-orang teroris yang kejam" yang menghancurkan jalan dan satu orang terluka.

Pada Senin malam waktu setempat (29/3/2021), terdengar lebih banyak tembakan terdengar di daerah Dagon Selatan, yang meningkatkan kekhawatiran tentang lebih banyaknya korban, kata seorang warga setempat pada Selasa (30/3/2021).

Komite Serangan Umum Nasional, salah satu kelompok utama di balik aksi protes, pada Senin (29/3/2021), mengirimkan surat terbuka yang meminta pasukan kelompok etnis bersenjata Myanmar untuk membantu mereka melawan "penindasan yang tidak adil" dari junta militer.

Baca juga: Thailand Paksa Mundur Pengungsi yang Kabur dari Serangan Udara Myanmar

Halaman:

Sumber REUTERS
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hari Ke-7 Kebakaran Hutan Turki, Pembangkit Listrik Terancam Kobaran Api Tak Terkendali

Hari Ke-7 Kebakaran Hutan Turki, Pembangkit Listrik Terancam Kobaran Api Tak Terkendali

Global
Usaha Daging Wagyu di Australia Bangkit Cepat dari Pandemi Covid-19

Usaha Daging Wagyu di Australia Bangkit Cepat dari Pandemi Covid-19

Global
Lengser sebagai Presiden Iran, Hassan Rouhani Mengaku Pemerintah Tak Selalu Jujur

Lengser sebagai Presiden Iran, Hassan Rouhani Mengaku Pemerintah Tak Selalu Jujur

Global
Sejumlah Orang Anti-vaksin Covid-19 telah Berubah Pikiran, Ini Alasannya...

Sejumlah Orang Anti-vaksin Covid-19 telah Berubah Pikiran, Ini Alasannya...

Global
Covid-19 Kembali ke Wuhan, Warga Pun 'Panic Buying'

Covid-19 Kembali ke Wuhan, Warga Pun "Panic Buying"

Global
Jenazah yang Dibedah Ternyata Temannya, Mahasiswa Kedokteran Ini Menangis

Jenazah yang Dibedah Ternyata Temannya, Mahasiswa Kedokteran Ini Menangis

Global
Ledakan Beirut Rusak Hajatannya, Dokter Ini Enggan Pasang Foto 'Menyakitkan'

Ledakan Beirut Rusak Hajatannya, Dokter Ini Enggan Pasang Foto "Menyakitkan"

Global
Jepang Mulai Permalukan Warganya di Depan Umum terkait Pelanggaran Covid-19

Jepang Mulai Permalukan Warganya di Depan Umum terkait Pelanggaran Covid-19

Global
Heiden, Desa Swiss yang Menjadi Kelahiran Penjajah Indonesia

Heiden, Desa Swiss yang Menjadi Kelahiran Penjajah Indonesia

Global
Pakar Sejarah Sebut Swiss Terlibat Penjajahan di Indonesia

Pakar Sejarah Sebut Swiss Terlibat Penjajahan di Indonesia

Global
Dibesarkan Orangtuanya yang Anggota ISIS, Gadis AS Ini Dikeluarkan dari Suriah

Dibesarkan Orangtuanya yang Anggota ISIS, Gadis AS Ini Dikeluarkan dari Suriah

Global
Ratusan Petugas Kesehatan di Australia Jalani Isoman di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Ratusan Petugas Kesehatan di Australia Jalani Isoman di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Global
Jerman Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan, Bergabung dengan Negara Barat Lawan China

Jerman Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan, Bergabung dengan Negara Barat Lawan China

Global
Kontroversi Monumen Satu Tahun Ledakan Beirut, Keluarga Masih Berduka Tak Ada yang Bertanggung Jawab

Kontroversi Monumen Satu Tahun Ledakan Beirut, Keluarga Masih Berduka Tak Ada yang Bertanggung Jawab

Global
Momen Haru Atlet Qatar dan Italia Sepakat Berbagi Emas Olimpiade Setelah Bersaing Sengit

Momen Haru Atlet Qatar dan Italia Sepakat Berbagi Emas Olimpiade Setelah Bersaing Sengit

Global
komentar
Close Ads X