LONDON, KOMPAS.com – Inggris dan Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi kepada perusahaan raksasa milik militer Myanmar Economic Holdings Ltd (MEHL).
Penjatuhan sanksi terhadap perusahaan tersebut diumumkan pada Kamis (25/3/2021) sebagaiaman dilansir AFP.
Perusahaan tersebut dijatuhi sanksi sebagai bagian dari tindakan lebih lanjut yang menargetkan junta militer yang melakukan kudeta pada 1 Februari.
Baca juga: Saat Kontes, Ratu Kecantikan Myanmar Memohon ke Dunia: Tolong Selamatkan Kami
Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan bahwa penjatuhan sanksi tersebut akan memutus dukungan ekonomi terhadap para jenderal yang terlibat kudeta.
"Sanksi hari ini menargetkan kepentingan keuangan militer untuk membantu mengeringkan sumber keuangan untuk kampanye penindasan mereka terhadap warga sipil," kata Raab.
Tak lama setelah Inggris mengumumkan penjatuhan sanksi, AS juga menyatakan akan menjatuhkan sanksi tak hanya kepada MEHL namun juga Myanmar Economic Corporation Limited (MEC).
Baca juga: Ayah Bocah 7 Tahun Ceritakan Detik-detik Anaknya Ditembak Mati Aparat Myanmar
MEC dan MEHL merupakan dua perusahaan swasta yang dimiliki militer Myanmar.
Kementerian Keuangan AS menyatakan, Militer Myanmar mengendalikan perekonomi negara melalui kedua perusahaan induk tersebut.
Kedua perusahaan tersebut mendominasi banyak sektor perekonomian utama termasuk perdagangan, sumber daya alam, alkohol, rokok, dan barang konsumsi.
Baca juga: Kabur dari Militer Myanmar, Ribuan Pengungsi Bersiap Masuk Wilayah Pemberontak Bersenjata
"Sanksi ini secara khusus menargetkan sumber daya ekonomi rezim militer Burma,” kata AS menggunakan kata Burma untuk Myanmar.
Washington menambahkan, militer Myanmar bertanggung jawab atas penggulingan pemerintah yang dipilih secara demokratis serta penindasan terhadap rakyat Myanmar.
"Sanksi ini tidak ditujukan pada rakyat Burma," sambung pernyataan dari Washington.
Inggris mengatakan, sanksi tersebut dijatuhkan karena muncul bukti bahwa MEHL menyumbang dana untuk mendukung militer Myanmar dalam “memberantas” etnik Rohingya pada 2017.
Baca juga: Junta Militer Myanmar Sebut Pengunjuk Rasa Anti-kudeta Teroris
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & Ketentuan
Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.