Kabur dari Militer Myanmar, Ribuan Pengungsi Bersiap Masuk Wilayah Pemberontak Bersenjata

Kompas.com - 25/03/2021, 10:18 WIB
Para pedemo Myanmar berlindung di balik tameng dadakan, untuk menghindari tembakan polisi dalam demo anti-kudeta di kotapraja Hlaing Tharyar, Yangon, Minggu (14/3/2021). STR/AFPPara pedemo Myanmar berlindung di balik tameng dadakan, untuk menghindari tembakan polisi dalam demo anti-kudeta di kotapraja Hlaing Tharyar, Yangon, Minggu (14/3/2021).

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Gelombang pengungsi pasca kudeta militer di kota-kota Myanmar, diperkirakan bisa mencapai 7.000 pengungsi pada akhir April.

Hal itu disampaikan kelompok pemberontak etnis Rabu (24/3/2021), yang mengklaim ratusan sudah berada di daerah yang dikuasai kelompok pemberontak saat ini.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dari kekuasaannya dalam kudeta 1 Februari. Operasi itu memicu pemberontakan massal yang mendorong pasukan keamanan melakukan tindakan keras dan mematikan terhadap pengunjuk rasa.

Gerakan anti-kudeta telah mengumpulkan dukungan luas di seluruh negeri, termasuk di antara beberapa kelompok pemberontak bersenjata di negara itu. Kelompok milisi Myanmar selama beberapa dekade telah memerangi militer Myanmar untuk mendapatkan lebih banyak otonomi.

Diperkirakan sepertiga wilayah Myanmar, sebagian besar di wilayah perbatasannya, dikuasai oleh segudang kelompok pemberontak yang memiliki milisi sendiri.

Baca juga: Junta Militer Myanmar Sebut Pengunjuk Rasa Anti-kudeta Teroris

Karen National Union (KNU) salah satu kelompok bersenjata terbesar di negara itu. Menurut seorang pejabat kelompok itu, ratusan orang melarikan diri ke wilayahnya di tenggara negara bagian Karen, dekat perbatasan Thailand sejak kudeta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami pikir itu bisa meningkat menjadi antara 6.000 dan 7.000 orang pada akhir April," kata Sekretaris Jenderal KNU, Saw Tah Doh Moo kepada AFP.

Dia menambahkan bahwa sejauh ini orang yang melarikan diri dari kerusuhan anti-kudeta adalah aktivis, pengunjuk rasa dan anggota parlemen dari partai Liga Nasional untuk Demokrasi Suu Kyi.

"Mereka yang sekarang berlindung lebih banyak di level pemimpin, tapi jika mereka (militer) terus menekan ... bisa jadi populasi yang lebih luas," katanya.

KNU telah menyaksikan bentrokan baru dengan militer di wilayahnya sejak kudeta.

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sambil Bersujud, Atlet Taekwondo Thailand Persembahkan Medali Emas Olimpiade ke Sang Ayah

Sambil Bersujud, Atlet Taekwondo Thailand Persembahkan Medali Emas Olimpiade ke Sang Ayah

Global
Lagu Kebangsaan China Dihina di Hong Kong, Polisi Segera Lakukan Penyelidikan

Lagu Kebangsaan China Dihina di Hong Kong, Polisi Segera Lakukan Penyelidikan

Global
Covid-19 di China: Penularan di Nanjing Paling Luas Setelah Wuhan

Covid-19 di China: Penularan di Nanjing Paling Luas Setelah Wuhan

Global
Dikira Sopir Taksi Online, Pria Ini Bunuh Mahasiswi

Dikira Sopir Taksi Online, Pria Ini Bunuh Mahasiswi

Global
Putrinya yang Berusia 12 Tahun Melahirkan, Ibu Ini Ditangkap Polisi

Putrinya yang Berusia 12 Tahun Melahirkan, Ibu Ini Ditangkap Polisi

Global
Polisi Hong Kong Selidiki Ejekan pada Lagu Kebangsaan China saat Siaran Olimpiade

Polisi Hong Kong Selidiki Ejekan pada Lagu Kebangsaan China saat Siaran Olimpiade

Global
Keturunan Sunda, Mantan Pramugari Malaysia Ini Namanya Badjie Xatieqoutieqc

Keturunan Sunda, Mantan Pramugari Malaysia Ini Namanya Badjie Xatieqoutieqc

Global
Nasib Pengungsi di Rakhine Myanmar di Tengah Pandemi Covid-19

Nasib Pengungsi di Rakhine Myanmar di Tengah Pandemi Covid-19

Global
Biden Siapkan Insentif Vaksin Covid-19 Rp 1,4 Juta untuk Warganya

Biden Siapkan Insentif Vaksin Covid-19 Rp 1,4 Juta untuk Warganya

Global
Rangka Jembatan LRT Malaysia Ambruk, 1 Tewas, TKA Asal Indonesia Luka Ringan

Rangka Jembatan LRT Malaysia Ambruk, 1 Tewas, TKA Asal Indonesia Luka Ringan

Global
Profil Pemimpin Dunia: Moon Jae In, Presiden Korea Selatan

Profil Pemimpin Dunia: Moon Jae In, Presiden Korea Selatan

Global
China-Rusia Gelar Latihan Militer Skala Besar, 10.000 Tentara Terlibat

China-Rusia Gelar Latihan Militer Skala Besar, 10.000 Tentara Terlibat

Global
Pria di India Tewas Diinjak Gajah, Videonya Ditonton sampai 180.000 Kali

Pria di India Tewas Diinjak Gajah, Videonya Ditonton sampai 180.000 Kali

Global
Serba-serbi Olimpiade Perancis 1900 dan Hal Unik yang Terjadi

Serba-serbi Olimpiade Perancis 1900 dan Hal Unik yang Terjadi

Global
Kisah William 'Bumper' Haris, Insinyur Berkaki Satu yang Naik Eskalator Pertama di London

Kisah William "Bumper" Haris, Insinyur Berkaki Satu yang Naik Eskalator Pertama di London

Global
komentar
Close Ads X