Junta Militer Myanmar Sebut Pengunjuk Rasa Anti-kudeta "Teroris"

Kompas.com - 24/03/2021, 22:25 WIB
Para pengunjuk rasa berbaris dengan perisai buatan tangan di jalan utama selama demonstrasi di Mandalay, Myanmar, Senin (8/3/2021). Aksi protes besar-besaran terjadi setiap hari di banyak kota besar dan kecil di Myanmar. AP PHOTO/STRPara pengunjuk rasa berbaris dengan perisai buatan tangan di jalan utama selama demonstrasi di Mandalay, Myanmar, Senin (8/3/2021). Aksi protes besar-besaran terjadi setiap hari di banyak kota besar dan kecil di Myanmar.

NAYPIYDAW, KOMPAS.com - Junta militer Myanmar pada Selasa (23/3/2021) membela diri atas tindakan kekerasan selama 7 pekan yang telah menewaskan 260 pengunjuk rasa anti-kudeta militer.

Sementara, mereka bersikeras tidak mentolerir "anarki" yang menuduh kelompok masyarakat sipil yang melakukannya.

Melansir AFP pada Selasa (23/3/2021), junta militer melancarkan kekerasan mematikan saat berjuang untuk memadamkan protes nasional terhadap kudeta yang menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi, pada 1 Februari.

Dalam konferensi pers di ibu kota Naypyidaw, juru bicara junta militer, Brigjen Zaw Min Tun menyebutkan jumlah korban tewas lebih rendah menjadi 164.

Baca juga: Gadis 7 Tahun Ini Ditembak Mati Aparat Myanmar Saat Berlari ke Ayahnya

"Saya sedih karena teroris pelaku kekerasan yang meninggal ini adalah warga negara kita," kata Zaw Min Tun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jalan-jalan di kota-kota di seluruh negeri telah memiliki pemandangan kacau selama berpekan-pekan, ketika pasukan keamanan bentrok dengan pengunjuk rasa yang menuntut pemulihan demokrasi dan pembebasan Suu Kyi.

Pihak berwenang telah menggunakan gas air mata, peluru karet, dan peluru tajam untuk membubarkan protes, mendorong seorang ahli senior hak asasi PBB memperingatkan mereka terkait "kejahatan terhadap kemanusiaan".

Baca juga: Anak 7 Tahun Jadi Korban Termuda yang Ditembak Mati Junta Militer Myanmar

Di antara mereka yang tewas adalah seorang siswa laki-laki kelas 8 di Mandalay yang ditembak ketika dia pergi mengambil air dari depan rumahnya pada Senin (22/3/2021), kata kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik (AAPP) pada Selasa (23/3/2021).

Save the Children, yang melaporkan anak laki-laki itu berusia 14 tahun, mengatakan "ngeri bahwa anak-anak terus menjadi sasaran serangan fatal ini".

Namun, meskipun ada kecaman internasional yang meluas, Zaw Min Tun membela diri terhadap tanggapan tersebut.

Baca juga: Dikejar Junta Militer Myanmar, Ratusan Pembangkang Minta Perlindungan Kelompok Etnik Bersenjata

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.