Dua Orang Australia Ditahan Militer Myanmar Ketika Mencoba Meninggalkan Negara Itu

Kompas.com - 22/03/2021, 15:10 WIB
Pengunjuk rasa memakai topeng mirip pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi, memperlihatkan salam tiga jari saat mereka berpartisipasi dalam sebuah protes terhadap kup militer di Yangon, Myanmar, Minggu (28/2/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/WSJ/cfo ANTARA FOTO/REUTERS/STRINGERPengunjuk rasa memakai topeng mirip pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi, memperlihatkan salam tiga jari saat mereka berpartisipasi dalam sebuah protes terhadap kup militer di Yangon, Myanmar, Minggu (28/2/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Stringer/WSJ/cfo

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Dua konsultan bisnis Australia telah ditahan di Myanmar ketika mencoba meninggalkan negara yang dicengkeram kudeta militer itu.

Guardian melaporkan pada Senin (22/3/2021), dua orang yang ditahan itu atas nama Matthew O'Kane dan Christa Avery, memiliki kewarganegaraan ganda Kanada-Australia.

Mereka diyakini sekarang berada dalam tahanan rumah, setelah mencoba meninggalkan negara itu dengan penerbangan bantuan pada Jumat (19/3/2021), menurut laporan AFP.

Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia telah mengonfirmasi bahwa mereka memberikan bantuan kepada dua warga Australia di Myanmar.

Sementara, Departemen Urusan Global Kanada mengatakan telah mengetahui kasus yang melibatkan warga negara Kanada dan "menyediakan layanan konsuler".

Baca juga: Militer Myanmar Berniat Balas Dendam karena 4 Temannya Tewas, 1.500 Warga Desa Mengungsi

Keduanya dilaporkan menjalankan bisnis konsultasi kecil di kota terbesar di Myanmar, Yangon.

Orang Australia ketiga, Sean Turnell, ditahan bulan lalu. Dia adalah penasihat ekonomi untuk pemimpin de facto Myanmar yang digulingkan Aung San Suu Kyi.

Protes sengit terus berlanjut di Myanmar. Warga sipil terus melancarkan perlawanan terhadap pemerintahan militer meskipun jumlah korban tewas di tangan pasukan keamanan meningkat menjadi lebih dari 200 orang.

Baca juga: Ratusan Dokter dan Perawat Ikut Demo Myanmar, Turun ke Jalan sejak Subuh

Kekerasan sejak kudeta 1 Februari terjadi setelah satu dekade langkah tentatif menuju demokrasi di Myanmar.

Negara-negara Barat mengutuk pertumpahan darah, dan Australia telah menangguhkan kerja sama militer dengan Myanmar.

“Negeri Kangguru” juga telah mengalihkan bantuan ke organisasi non-pemerintah sebagai tanggapan keras atas kudeta tersebut.

Baca juga: Dituding Pasok Beras untuk Militer Myanmar, Begini Tanggapan Tentara Thailand


Sumber Guardian
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

WHO Sebut Varian Covid-19 yang Menyebar di India Sangat Mengkhawatirkan

WHO Sebut Varian Covid-19 yang Menyebar di India Sangat Mengkhawatirkan

Global
Israel Gelar Serangan Udara ke Jalur Gaza, 20 Orang Tewas

Israel Gelar Serangan Udara ke Jalur Gaza, 20 Orang Tewas

Global
Seorang Pria Terjebak di Jembatan Kaca Terbesar China yang Rusak

Seorang Pria Terjebak di Jembatan Kaca Terbesar China yang Rusak

Global
Puluhan Jenazah Tersapu di Sungai Gangga India, Diduga Korban Covid-19

Puluhan Jenazah Tersapu di Sungai Gangga India, Diduga Korban Covid-19

Global
Serangan Udara Israel ke Jalur Gaza Menyusul Bentrokan di Masjid Al-Aqsa

Serangan Udara Israel ke Jalur Gaza Menyusul Bentrokan di Masjid Al-Aqsa

Global
POPULER GLOBAL: Mandi Massal 'Super Spreader' Tsunami Covid-19 India | Organ Dalam Penyair Myanmar Hilang

POPULER GLOBAL: Mandi Massal "Super Spreader" Tsunami Covid-19 India | Organ Dalam Penyair Myanmar Hilang

Global
Aung San Suu Kyi Akan Hadir Langsung di Pengadilan Myanmar pada 24 Mei

Aung San Suu Kyi Akan Hadir Langsung di Pengadilan Myanmar pada 24 Mei

Global
Malaysia Lockdown Nasional sampai Juni Setelah Kasus Covid-19 Melonjak

Malaysia Lockdown Nasional sampai Juni Setelah Kasus Covid-19 Melonjak

Global
Kompleks Al-Aqsa, Situs Suci Yerusalem yang Terus Bergejolak

Kompleks Al-Aqsa, Situs Suci Yerusalem yang Terus Bergejolak

Global
Iran Mengaku Sudah Berunding dengan Arab Saudi, tapi ...

Iran Mengaku Sudah Berunding dengan Arab Saudi, tapi ...

Global
Dokter yang Merawat Alexei Navalny Sempat Hilang di Hutan Siberia

Dokter yang Merawat Alexei Navalny Sempat Hilang di Hutan Siberia

Global
Dituding Kompromi dengan Ekstremis, Presiden Macron dapat Peringatan dari Militer Perancis

Dituding Kompromi dengan Ekstremis, Presiden Macron dapat Peringatan dari Militer Perancis

Global
Mandi Massal di Sungai Gangga Jadi 'Super Spreader' Tsunami Covid-19 India

Mandi Massal di Sungai Gangga Jadi "Super Spreader" Tsunami Covid-19 India

Global
Ini Penyebab Bentrok Israel dan Palestina di Masjid Al-Aqsa

Ini Penyebab Bentrok Israel dan Palestina di Masjid Al-Aqsa

Global
UPDATE: Ledakan Bom di Sekolah Afganistan, 85 Tewas Kebanyakan Pelajar Putri

UPDATE: Ledakan Bom di Sekolah Afganistan, 85 Tewas Kebanyakan Pelajar Putri

Global
komentar
Close Ads X