Setelah 19 Hari Kerja Menteri Kesehatan Ekuador Mundur di Tengah Skandal Vaksin Covid-19

Kompas.com - 20/03/2021, 15:59 WIB
Sejumlah petugas dengan mengenakan alat pelindung diri (APD) membawa peti mati dari seseorang yang diduga meninggal akibat virus corona, di sebuah pemakaman di Guayaquil, Ekuador, Rabu (1/4/2020). Otoritas Ekuador dalam beberapa hari terakhir telah mengumpulkan setidaknya 150 jenazah dari jalan-jalan dan rumah para warga di Kota Guayaquil, di tengah lonjakan kasus virus corona di wilayah tersebut. AFP/MARCOS PINSejumlah petugas dengan mengenakan alat pelindung diri (APD) membawa peti mati dari seseorang yang diduga meninggal akibat virus corona, di sebuah pemakaman di Guayaquil, Ekuador, Rabu (1/4/2020). Otoritas Ekuador dalam beberapa hari terakhir telah mengumpulkan setidaknya 150 jenazah dari jalan-jalan dan rumah para warga di Kota Guayaquil, di tengah lonjakan kasus virus corona di wilayah tersebut.

QUITO, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan Ekuador Rodolfo Farfan mengundurkan diri pada Jumat (19/3/2021) setelah 19 hari bekerja dan tersandung skandal nepotisme distribusi vaksin Covid-19.

Melansir AFP pada Sabtu (20/3/2021), dalam surat pengunduran dirinya, Fardan menekankan bahwa ia mengundurkan diri karena alasan "sangat pribadi".

Presiden Ekuador Lenin Moreno yang segera berakhir masa jabatannya pada 24 Mei, telah menunjuk ahli bedah Mauro Falconi untuk menggantikan jabatan menteri kesehatan.

Baca juga: Jadi Klaster Covid-19, Resor Mar-a-Lago Milik Trump Ditutup Sebagian

Sebelum mengundurkan diri, Farfan tersandung kasus dugaan distribusi vaksin Covid-19 khusus ke tokoh-tokoh yang memiliki hubungan baik.

Sementara, Farfan menjabat saat itu untuk menggantikan Juan Carlos Zevallos, yang sekarang sedang diselidiki atas tuduhan nepotisme, yang menjajakan pengaruhnya untuk kepentingan sepihak.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Kepuasan Mahasiswa Australia terhadap Kampusnya Menurun Selama Pandemi Covid-19

Zevallos melarikan diri dari Ekuador ke Amerika Serikat, setelah pengunduran dirinya.

Zevallos telah mengakui bahwa ibunya yang berusia 87 tahun, dan orang lain yang dekat dengannya telah divaksinasi virus corona dengan dosis pertama yang diterima di Ekuador.

Kemudian terungkap bahwa politisi, akademisi, jurnalis dan pejabat olahraga yang memiliki hubungan baik juga telah difasilitasi untuk vaksinasi.

Baca juga: Di India, Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Lebih Banyak dari Covid-19

Padahal, program vaksinasi di Ekuador masih ditujukan untuk petugas kesehatan garis depan dan lansia di panti jompo.

Selanjutnya, negara masih berjuang untuk menjalankan program imunisasi.

Baca juga: Kematian akibat Covid-19 Melonjak, Presiden Brasil Tuding Ada Perang Melawannya

Sejauh ini hanya 119.000 orang yang menerima dosis pertama vaksin Covid-19 Pfizer, saat negara itu yang telah mencatat jumlah 307.000 kasus infeksi dan 16.333 kematian.

Ekuador bukan satu-satunya negara di kawasan ini yang terlibat dalam skandal lompat antrean vaksinasi Covid-19.

Peru dan Argentina juga dilanda aksi protes, karena orang kaya dan berkuasa di sana mendapatkan suntikan virus corona lebih awal dari pada kelompok yang rentan.

Baca juga: Bank Dunia Pinjami 700 Juta Dollar AS Lebih untuk Program Vaksinasi Covid-19 di Afghnistan, Bangladesh dan Nepal


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X