Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mantan Tentara Myanmar Ungkap Alasan Membelot dan Memilih Bergabung dengan Gerakan Anti-kudeta

Kompas.com - 17/03/2021, 05:34 WIB
Bernadette Aderi Puspaningrum

Penulis

Sumber AFP

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Masih mengenakan seragam tentaranya, Shing Ling terlihat berpose memberi hormat tiga jari dalam unggahan media sosialnya.

Ling memberontak setelah meninggalkan militer Myanmar untuk bergabung dengan gerakan demokrasi.

Tentara berusia 30 tahun itu mengunggah gambarnya di Facebook minggu lalu, ketika tindakan keras pasukan keamanan Myanmar semakin mematikan bagi pengunjuk rasa.

Konten tersebut dibagikan kembali oleh lebih dari seribu pengguna Facebook. Komentator memuji keberaniannya, sebelum profilnya menjadi private.

Sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dari kekuasaan dalam kudeta 1 Februari, lebih dari 180 orang telah terbunuh.

Polisi dan tentara mengerahkan gas air mata, granat kejut, peluru karet dan peluru tajam selama hampir setiap hari, sebagai tindakan keras terhadap anti-kudeta demonstran.

"Saya merasa sangat bersalah dan malu sejak 1 Februari," kata Shing Ling kepada AFP dari tempat persembunyian di Yangon.

Dia mengaku merasa "terkejut" tentang penahanan Suu Kyi. Kekerasan di kotapraja Okkalapa Utara Yangon pada awal Maret adalah katalisator baginya untuk bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil nasional.

Baca juga: PBB: Peringatan Bahaya, Harga Makanan dan Bahan Bakar Mulai Naik di Myanmar

"Saya ditempatkan sangat dekat dengan Okkalapa Utara, jadi bisa jadi senjata saya yang menembak orang yang tidak bersenjata," katanya.

"Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Itu sebabnya aku memutuskan untuk bergabung."

Di akun Instagram yang masih terbuka untuk publik, tentara etnis Chin itu mengunggah foto dirinya mengenakan seragam militer sejak Oktober 2018.

Dalam postingan terbarunya, dia membagikan foto dirinya yang memberikan hormat tiga jari setelah bergabung dengan boikot nasional oleh pegawai negeri yang menolak untuk bekerja di bawah rezim junta.

Tetapi sementara ada laporan yang terisolasi tentang pembelotan polisi dan tentara, tetap jarang bagi mereka secara terbuka mengumumkan “perubahan kesetiaan” saat masih di Myanmar, karena takut akan pembalasan.

Bagi tentara, hukuman untuk desersi adalah hukuman mati, menurut hukum militer.

Hampir 200 petugas polisi dan keluarga mereka telah melarikan diri dari negara itu sejak kudeta.

Halaman:
Sumber AFP

Terkini Lainnya

Rusia Terus Maju di Garis Depan, Rebut Desa Dekat Chasiv Yar di Ukraina

Rusia Terus Maju di Garis Depan, Rebut Desa Dekat Chasiv Yar di Ukraina

Global
Bom NATO 1 Ton Disingkirkan dari Serbia, 1.300 Orang Dievakuasi

Bom NATO 1 Ton Disingkirkan dari Serbia, 1.300 Orang Dievakuasi

Global
Coba Serang Tentara Israel, 2 Warga Palestina Tewas Ditembak

Coba Serang Tentara Israel, 2 Warga Palestina Tewas Ditembak

Global
NATO dan Para Pemimpin Eropa Puji AS Usai DPR Setujui RUU Bantuan untuk Ukraina

NATO dan Para Pemimpin Eropa Puji AS Usai DPR Setujui RUU Bantuan untuk Ukraina

Global
Gadis 9 Tahun Ini Viral di India karena Angkat Beban 75 Kg

Gadis 9 Tahun Ini Viral di India karena Angkat Beban 75 Kg

Global
PM Israel Netanyahu Dilaporkan Minta Bantuan Inggris dan Jerman untuk Hindari Ditangkap ICC

PM Israel Netanyahu Dilaporkan Minta Bantuan Inggris dan Jerman untuk Hindari Ditangkap ICC

Global
2 Anak Tewas dan 15 Orang Terluka akibat Pengemudi Mabuk Tabrak Pesta Ulang Tahun

2 Anak Tewas dan 15 Orang Terluka akibat Pengemudi Mabuk Tabrak Pesta Ulang Tahun

Global
Helikopter Milter Jepang Jatuh, 1 Tewas dan 7 Orang Hilang

Helikopter Milter Jepang Jatuh, 1 Tewas dan 7 Orang Hilang

Global
Usai Seminggu Tenang, Bentrokan di Perbatasan Thailand-Myanmar Terjadi Lagi

Usai Seminggu Tenang, Bentrokan di Perbatasan Thailand-Myanmar Terjadi Lagi

Global
Israel Akan Panggil Dubes Negara-negara yang Dukung Keanggotaan Palestina di PBB

Israel Akan Panggil Dubes Negara-negara yang Dukung Keanggotaan Palestina di PBB

Global
Radio Taiwan Internasional Gelar 'Kartini Taiwan Music Festival', Apa Agendanya?

Radio Taiwan Internasional Gelar "Kartini Taiwan Music Festival", Apa Agendanya?

Global
Rangkuman Hari Ke-787 Serangan Rusia ke Ukraina: DPR AS Setujui Bantuan 61 Miliar Dollar | Rusia Mengecam

Rangkuman Hari Ke-787 Serangan Rusia ke Ukraina: DPR AS Setujui Bantuan 61 Miliar Dollar | Rusia Mengecam

Global
Begitu Dinanti Ukraina, DPR AS Akhirnya Setujui Bantuan Militer Rp 989 Triliun

Begitu Dinanti Ukraina, DPR AS Akhirnya Setujui Bantuan Militer Rp 989 Triliun

Global
Rusia: Bantuan AS untuk Ukraina, Israel, dan Taiwan Hanya Akan Perburuk Krisis Global

Rusia: Bantuan AS untuk Ukraina, Israel, dan Taiwan Hanya Akan Perburuk Krisis Global

Global
Palestina Kecam DPR AS Setujui Paket Bantuan Militer Baru untuk Israel

Palestina Kecam DPR AS Setujui Paket Bantuan Militer Baru untuk Israel

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com