Warga Hong Kong Harus Jadi Patriot sebagai Bukti Loyalitas ke Partai Komunis China

Kompas.com - 09/03/2021, 22:17 WIB
Aktivis Hong Kong (dari kanan) Joshua Wong, Ivan Lam dan Agnes Chow tiba di pengadilan di Hong Kong pada Senin (23/11/2020). Ketiganya muncul di persidangan karena mereka menghadapi dakwaan terkait dengan pengepungan sebuah kantor polisi selama protes anti-pemerintah pada 2019. AP Photo/Vincent YAktivis Hong Kong (dari kanan) Joshua Wong, Ivan Lam dan Agnes Chow tiba di pengadilan di Hong Kong pada Senin (23/11/2020). Ketiganya muncul di persidangan karena mereka menghadapi dakwaan terkait dengan pengepungan sebuah kantor polisi selama protes anti-pemerintah pada 2019.

HONG KONG, KOMPAS.com - Loyalitas kepada Partai Komunis China akan menjadi kunci untuk memutuskan apakah seorang warga Hong Kong adalah patriot.

Aturan itu disampaikan oleh seorang pejabat senior China pada Selasa (9/3/2021), saat Beijing menyusun undang-undang baru guna mengatur politik Hong Kong.

UU baru ini termasuk perubahan besar-besaran pada sistem pemilu Hong Kong, melarang siapa pun yang tidak cukup setia untuk mencalonkan diri, dan mengurangi pengaruh sejumlah kecil posisi yang dipilih langsung.

Baca juga: Kapal Selam Jepang Tabrak Kapal Hong Kong Saat Menyembul ke Permukaan

Beijing berdalih, "aturan patriot" diperlukan untuk memulihkan stabilitas dan menutup celah yang mengakomodasi kekuatan anti-China.

Namun, para kritikus merasa aturan itu semakin mengekang demokrasi Hong Kong.

"Ketika kita berbicara tentang patriotisme, kita tidak berbicara tentang abstraksi mencintai budaya atau sejarah China, melainkan mencintai Republik Rakyat China yang ada saat ini di bawah kepemimpinan Partai Komunis China," urai Song Ru'an Wakil Komisaris Kementerian Luar Negeri China di Hong Kong.

"Patriot harus menghormati Partai Komunis China," katanya dikutip dari AFP.

"Kami akan meninjau apakah para kandidat memenuhi kriteria itu."

Baca juga: Demo Hong Kong Diajukan Raih Nobel Perdamaian

Apa maksudnya patriot?

Istilah "patriot memerintah Hong Kong" diciptakan pada 1984 oleh pemimpin reformis China saat itu, Deng Xiaoping, sebagai cara mendukung kebebasan Hong Kong tanpa melupakan tanah airnya.

Patriot, menurut Deng, harus mengakui Hong Kong bagian dari China dan mendukung kemakmurannya di masa depan, tetapi tidak perlu menjadi loyalis partai.

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Muslim Gaza Laksanakan Shalat Idul Fitri di Tengah Ancaman Serangan Udara Israel

Muslim Gaza Laksanakan Shalat Idul Fitri di Tengah Ancaman Serangan Udara Israel

Global
Pemerintah India Minta Warganya Tak Percaya Kabar Covid-19 Disebabkan Sinyal 5G

Pemerintah India Minta Warganya Tak Percaya Kabar Covid-19 Disebabkan Sinyal 5G

Global
Video Viral Tunjukkan Massa Israel Pukuli Diduga Pria Arab hingga Babak Belur

Video Viral Tunjukkan Massa Israel Pukuli Diduga Pria Arab hingga Babak Belur

Global
Selamatkan Anak Anjing Peliharaan di Kebakaran, Gadis Ini Tewas

Selamatkan Anak Anjing Peliharaan di Kebakaran, Gadis Ini Tewas

Global
India Pasang Jaring di Sungai Gangga, Tangkap Puluhan Mayat Mengambang Diduga Korban Covid-19

India Pasang Jaring di Sungai Gangga, Tangkap Puluhan Mayat Mengambang Diduga Korban Covid-19

Global
Pengantin Wanita Meninggal karena Covid-19 Beberapa Jam Setelah Menikah

Pengantin Wanita Meninggal karena Covid-19 Beberapa Jam Setelah Menikah

Global
15 Anak Tewas dalam Pengeboman di Israel dan Gaza

15 Anak Tewas dalam Pengeboman di Israel dan Gaza

Global
Rusia Berduka atas Korban Penembakan di Sekolah Kazan

Rusia Berduka atas Korban Penembakan di Sekolah Kazan

Global
Panel Ahli Internasional Ajukan Rekomendasi untuk Akhiri Pandemi Covid-19

Panel Ahli Internasional Ajukan Rekomendasi untuk Akhiri Pandemi Covid-19

Global
Panel Ahli Internasional: Besarnya Bencana Pandemi Covid-19 Seharusnya Dapat Dicegah

Panel Ahli Internasional: Besarnya Bencana Pandemi Covid-19 Seharusnya Dapat Dicegah

Global
Rentetan Serangan Israel di Gaza hingga Tewasnya Komandan Senior Hamas

Rentetan Serangan Israel di Gaza hingga Tewasnya Komandan Senior Hamas

Global
Komandan Senior Hamas Bassem Issa dan Militan Lainnya Tewas dalam Serangan Roket Israel

Komandan Senior Hamas Bassem Issa dan Militan Lainnya Tewas dalam Serangan Roket Israel

Global
Mantan Presiden Iran Ahmadinejad Kembali Mencalonkan Diri dalam Pemilihan Presiden

Mantan Presiden Iran Ahmadinejad Kembali Mencalonkan Diri dalam Pemilihan Presiden

Global
POPULER GLOBAL: Pria dengan 16 Istri dan 151 Anak, Mengaku Tak Pernah Bekerja | Sinovac Disebut Sangat Efektif di Indonesia

POPULER GLOBAL: Pria dengan 16 Istri dan 151 Anak, Mengaku Tak Pernah Bekerja | Sinovac Disebut Sangat Efektif di Indonesia

Global
Terungkap Tradisi Perpeloncoan Brutal Militer Perancis, Pilot Tempur Diikat dengan Penutup di Tiang Sasaran Tembak

Terungkap Tradisi Perpeloncoan Brutal Militer Perancis, Pilot Tempur Diikat dengan Penutup di Tiang Sasaran Tembak

Global
komentar
Close Ads X