Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga Hong Kong Harus Jadi Patriot sebagai Bukti Loyalitas ke Partai Komunis China

Kompas.com - 09/03/2021, 22:17 WIB
Aditya Jaya Iswara

Penulis

Sumber AFP

HONG KONG, KOMPAS.com - Loyalitas kepada Partai Komunis China akan menjadi kunci untuk memutuskan apakah seorang warga Hong Kong adalah patriot.

Aturan itu disampaikan oleh seorang pejabat senior China pada Selasa (9/3/2021), saat Beijing menyusun undang-undang baru guna mengatur politik Hong Kong.

UU baru ini termasuk perubahan besar-besaran pada sistem pemilu Hong Kong, melarang siapa pun yang tidak cukup setia untuk mencalonkan diri, dan mengurangi pengaruh sejumlah kecil posisi yang dipilih langsung.

Baca juga: Kapal Selam Jepang Tabrak Kapal Hong Kong Saat Menyembul ke Permukaan

Beijing berdalih, "aturan patriot" diperlukan untuk memulihkan stabilitas dan menutup celah yang mengakomodasi kekuatan anti-China.

Namun, para kritikus merasa aturan itu semakin mengekang demokrasi Hong Kong.

"Ketika kita berbicara tentang patriotisme, kita tidak berbicara tentang abstraksi mencintai budaya atau sejarah China, melainkan mencintai Republik Rakyat China yang ada saat ini di bawah kepemimpinan Partai Komunis China," urai Song Ru'an Wakil Komisaris Kementerian Luar Negeri China di Hong Kong.

"Patriot harus menghormati Partai Komunis China," katanya dikutip dari AFP.

"Kami akan meninjau apakah para kandidat memenuhi kriteria itu."

Baca juga: Demo Hong Kong Diajukan Raih Nobel Perdamaian

Apa maksudnya patriot?

Istilah "patriot memerintah Hong Kong" diciptakan pada 1984 oleh pemimpin reformis China saat itu, Deng Xiaoping, sebagai cara mendukung kebebasan Hong Kong tanpa melupakan tanah airnya.

Patriot, menurut Deng, harus mengakui Hong Kong bagian dari China dan mendukung kemakmurannya di masa depan, tetapi tidak perlu menjadi loyalis partai.

"Kami tidak menuntut mereka mendukung sistem sosialis China, kami hanya meminta mereka mencintai tanah air dan Hong Kong," teran Deng Xiaoping.

Namun, di masa kepemimpinan Xi Jinping China menerapkan langkah otoriter dan mengubah makna patriot menjadi lebih ketat.

Baca juga: Hong Kong Lockdown Terketat untuk Lawan Gelombang Keempat Covid-19

Setelah Beijing memberlakukan UU Keamanan Nasional, banyak pembangkang tenar Hong Kong dipenjara dan beberapa kabur ke luar negeri.

Menurut Song, China tidak berusaha menciptakan pemerintahan monolitik di Hong Kong.

"Hong Kong adalah masyarakat majemuk di mana ada perpaduan budaya China dan Barat."

"Tapi siapa pun yang menentang sistem fundamental negara dan merusak tatanan konstitusional Hong Kong tidak dianggap patriot sejati," lanjutnya.

Baca juga: Hong Kong Tangkap Massal Anggota Parlemen dan Aktivis Pro-demokrasi Terkait Hukum Keamanan Nasional

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Lebih dari 100 Drone Iran Hujani Israel, Pertahanan Udara Israel Berpotensi Kesulitan Menghalau

Lebih dari 100 Drone Iran Hujani Israel, Pertahanan Udara Israel Berpotensi Kesulitan Menghalau

Global
Iran Luncurkan Drone dan Rudal Balistik ke Israel, Tandai Awal Serangan Militer

Iran Luncurkan Drone dan Rudal Balistik ke Israel, Tandai Awal Serangan Militer

Global
[UNIK GLOBAL] Pasien Pertama Cangkok Ginjal Babi | Pria Tertua di Dunia Berusia 111 Tahun

[UNIK GLOBAL] Pasien Pertama Cangkok Ginjal Babi | Pria Tertua di Dunia Berusia 111 Tahun

Global
Putri CEO Berusia 6 Tahun Beri Nilai Satu Bintang Ke Etihad Airways, Ini Respons Hangat Maskapai

Putri CEO Berusia 6 Tahun Beri Nilai Satu Bintang Ke Etihad Airways, Ini Respons Hangat Maskapai

Global
Penikaman Massal Mal Sydney: Belum Ada Indikasi Terorisme, Motif Masih Diselidiki

Penikaman Massal Mal Sydney: Belum Ada Indikasi Terorisme, Motif Masih Diselidiki

Global
UPDATE Penikaman Massal di Mal Sydney: Korban Tewas Jadi 7 Orang, WNI Diimbau Hindari Keramaian 

UPDATE Penikaman Massal di Mal Sydney: Korban Tewas Jadi 7 Orang, WNI Diimbau Hindari Keramaian 

Global
Google Blokir Tautan Outlet Berita California dari Hasil Pencarian

Google Blokir Tautan Outlet Berita California dari Hasil Pencarian

Global
Kronologi dan Cerita Saksi Mata Penikaman Massal di Mal Sydney yang Tewaskan 5 Orang

Kronologi dan Cerita Saksi Mata Penikaman Massal di Mal Sydney yang Tewaskan 5 Orang

Global
Penikaman Massal di Mal Sydney, 5 Orang Tewas, Pelaku Ditembak Mati

Penikaman Massal di Mal Sydney, 5 Orang Tewas, Pelaku Ditembak Mati

Global
Meksiko Beri Peringatan Pascatemuan 'Obat Zombie' di Kota Perbatasan

Meksiko Beri Peringatan Pascatemuan "Obat Zombie" di Kota Perbatasan

Global
Saat Disinformasi Penyakit Kolera di Mozambik Korbankan Hampir 100 Nyawa...

Saat Disinformasi Penyakit Kolera di Mozambik Korbankan Hampir 100 Nyawa...

Global
Sejumlah Maskapai Penerbangan Putuskan Hindari Wilayah Udara Iran, Apa Alasannya?

Sejumlah Maskapai Penerbangan Putuskan Hindari Wilayah Udara Iran, Apa Alasannya?

Global
Singapura Keluarkan Larangan Konsumsi Permen Produk Malaysia Ini

Singapura Keluarkan Larangan Konsumsi Permen Produk Malaysia Ini

Global
Rangkuman Hari Ke-779 Serangan Rusia ke Ukraina: AS Larang Impor Produk Logam Rusia | Belanda Janjikan Rp 17, 1 Triliun untuk Ukraina

Rangkuman Hari Ke-779 Serangan Rusia ke Ukraina: AS Larang Impor Produk Logam Rusia | Belanda Janjikan Rp 17, 1 Triliun untuk Ukraina

Global
Arti Penting Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia...

Arti Penting Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia...

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com