Bermodal Rp 100.000, Bisa Jadi "Jutawan" di Venezuela

Kompas.com - 07/03/2021, 13:03 WIB
Lebih dari 50 Venezuela melintasi perbatasan dengan Kolombia pada Minggu (10/2/2019) untuk menuntut masuknya bantuan kemanusiaan. (AFP) Lebih dari 50 Venezuela melintasi perbatasan dengan Kolombia pada Minggu (10/2/2019) untuk menuntut masuknya bantuan kemanusiaan. (AFP)

CARACAS, KOMPAS.com – Bank Sentral Venezuela (BCV) mengumumkan tiga pecahan uang kertas baru yakni 200.000 bolivar Venezuela, 500.000 bolivar Venezuela, dan 1 juta bolivar Venezuela.

Pengumuman itu disampaikan BCV pada Jumat (5/3/2021) sebagaimana dilansir Deutsch Welle.

Pecahan uang kertas baru tersebut akan beredar bersama pecahan uang kertas 10.000 bolivar Venezuela, 20.000 bolivar Venezuela, dan 50.000 bolivar Venezuela yang saat ini digunakan.

Faktanya, nilai tukar mata uang Venezuela sangatlah jauh dibandingkan mata uang lain di seluruh dunia, apalagi terhadap dollar AS.

Baca juga: Berkaca dari Kasus Wanita di Venezuela, Ini 5 Faktor Orang Sembunyikan Hasil Positif Covid-19

Melansir exchange-rates.org pada Sabtu, 1 dollar AS setara dengan 1,8 juta bolivar Venezuela. Sedangkan Rp 1 setara dengan 131 bolivar Venezuela.

Itu artinya, jika ada yang menukar uang Rp 100.000 ke bolivar Venezuela, maka akan mendapat sekitar Rp 13 juta bolivar Venezuela.

Pecahan uang kertas terbaru tersebut akan mulai beredar secara bertahap mulai Senin (8/3/2021), menurut pesan singkat dari BCV.

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Venezuela telah beralih ke pencetakan uang kertas baru pada denominasi yang berbeda sebagai cara untuk mengatasi inflasi yang melonjak.

Baca juga: Promosikan Obat Ajaib Covid-19, Presiden Venezuela Dibanjiri Kritik

BCV melaporkan tingkat inflasi antar-tahun berjalan berada di angka 2.665 persen pada Januari.

"Pecahan uang baru ini akan melengkapi dan mengoptimalkan denominasi saat ini, untuk memenuhi persyaratan ekonomi nasional," kata BCV dalam sebuah pernyataan.

Dilansir dari Reuters, Venezuela dulunya merupakan negara makmur karena minyak buminya yang melimpah.

Namun, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tersebut mengalami kejatuhan ekonomi selama tujuh tahun terakhir.

Baca juga: Warga Desa Miskin Panen Harta Karun di Pesisir Pantai Venezuela: Ini Agenda Tuhan

Hal itu didorong oleh jatuhnya harga minyak yang menyebabkan penurunan impor dan defisit fiskal yang menganga, mendorong bank sentral untuk mencetak lebih banyak bolivar Venezuela.

Hiperinflasi dan erosi nilai bolivar Venezuela selama bertahun-tahun telah menyebabkan rakyat Venezuela menggunakan dollar AS untuk banyak transaksi sehari-hari.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyebut penggunaan dollar AS secara informal tersebut adalah "katup pelarian" sambil menyalahkan sanksi AS atas kesengsaraan ekonomi.

Para kritikus mengatakan akar dari keruntuhan ekonomi Venezuela terletak pada kebijakan yang terlalu dianggap mengintervensi pasar oleh Maduro dan mantan Presiden Venezuela Hugo Chavez.

Baca juga: Dianggap Tak Kredibel, AS dan UE Tolak Pemilihan Parlemen Venezuela


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Putin Bersumpah Bela Kepentingan Nasional dan Mengecam 'Russophobia' dalam Perayaan Kemenangan Perang Dunia II

Putin Bersumpah Bela Kepentingan Nasional dan Mengecam "Russophobia" dalam Perayaan Kemenangan Perang Dunia II

Global
Calon Tentara AS Bajak Bus Sekolah, Malah Pusing Anak-anak Banyak Tanya

Calon Tentara AS Bajak Bus Sekolah, Malah Pusing Anak-anak Banyak Tanya

Global
Dua Pria Lemparkan Kantong Penuh Kecoak ke Restoran, Bertepatan Perjamuan Polisi

Dua Pria Lemparkan Kantong Penuh Kecoak ke Restoran, Bertepatan Perjamuan Polisi

Global
Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Internasional
Diplomat AS, China, dan Rusia Desak Kerja Sama, tapi Masih Bertikai

Diplomat AS, China, dan Rusia Desak Kerja Sama, tapi Masih Bertikai

Global
China Angkat Suara Setelah Roketnya Jatuh di Samudra Hindia

China Angkat Suara Setelah Roketnya Jatuh di Samudra Hindia

Global
Roket China Long March 5B Pernah Pecah lalu Jatuh di Afrika

Roket China Long March 5B Pernah Pecah lalu Jatuh di Afrika

Global
Di Tempat Inilah Wahana Ruang Angkasa yang Mati 'Dikuburkan'

Di Tempat Inilah Wahana Ruang Angkasa yang Mati "Dikuburkan"

Global
Rembrandt, Pelukis Beraliran Baroque Menggunakan Teknik Impasto

Rembrandt, Pelukis Beraliran Baroque Menggunakan Teknik Impasto

Internasional
Junta Militer Myanmar Masukkan Pemerintah Bayangan sebagai Teroris

Junta Militer Myanmar Masukkan Pemerintah Bayangan sebagai Teroris

Global
Muncul Bukti Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Jenderal Top Iran

Muncul Bukti Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Jenderal Top Iran

Global
Kronologi Roket China Long March 5B Jatuh di Samudra Hindia, Dunia Sempat Tegang

Kronologi Roket China Long March 5B Jatuh di Samudra Hindia, Dunia Sempat Tegang

Global
Corona India Update: 4.000 Kematian 2 Hari Berturut-turut

Corona India Update: 4.000 Kematian 2 Hari Berturut-turut

Global
Korban Tewas Ledakan Bom di Sekolah Afghanistan Bertambah Jadi 50 Orang

Korban Tewas Ledakan Bom di Sekolah Afghanistan Bertambah Jadi 50 Orang

Global
AS Sita Senjata Selundupan, Diduga Dikirim ke Yaman

AS Sita Senjata Selundupan, Diduga Dikirim ke Yaman

Global
komentar
Close Ads X