Kursi Myanmar di PBB Sekarang Diperebutkan Militer dan Non-militer

Kompas.com - 03/03/2021, 07:53 WIB
Dalam gambar yang diambil dari video oleh UNTV ini, Duta Besar Myanmar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Kyaw Moe Tun memberikan salam tiga jari, sikap menantang yang dilakukan oleh pengunjuk rasa anti-kudeta di Myanmar, di akhir pidatonya di hadapan Sidang Umum PBB jUMAT (27/2/2021). Kyaw Moe Tu menentang keras kudeta militer di negaranya dan mengimbau ?tindakan sekuat mungkin dari komunitas internasional? untuk segera memulihkan demokrasi dalam pidatonya yang dramatis di Sidang Umum PBB pada Jumat bahwa mendapat tepuk tangan meriah dari banyak diplomat di badan global 193 negara itu. UNTV via AP PHOTODalam gambar yang diambil dari video oleh UNTV ini, Duta Besar Myanmar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Kyaw Moe Tun memberikan salam tiga jari, sikap menantang yang dilakukan oleh pengunjuk rasa anti-kudeta di Myanmar, di akhir pidatonya di hadapan Sidang Umum PBB jUMAT (27/2/2021). Kyaw Moe Tu menentang keras kudeta militer di negaranya dan mengimbau ?tindakan sekuat mungkin dari komunitas internasional? untuk segera memulihkan demokrasi dalam pidatonya yang dramatis di Sidang Umum PBB pada Jumat bahwa mendapat tepuk tangan meriah dari banyak diplomat di badan global 193 negara itu.

JENEWA, KOMPAS.com - Perjuangan untuk menguasai Myanmar kini secara resmi sampai di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dalam surat kepada badan internasional yang dilihat CNN, Duta Besar Myanmar untuk PBB Kyaw Moe Tun mengaku masih mewakili Myanmar.

Pekan lalu, dia berpidato dengan berapi-api untuk menyatakan penolakan pengambilalihan kekuasaan oleh militer di negara itu.

Sementara itu, seorang wakil duta besar untuk PBB dari Myanmar lainnya adanya yang mengklaim sebagai “orang yang diinginkan” oleh otoritas militer untuk mewakili Myanmar di badan internasional itu.

Kedua belah pihak telah mengirim surat PBB yang menyatakan klaim mereka di atas kop surat resmi.

Pemerintah Myanmar yang terpilih secara demokratis digulingkan bulan lalu dalam kudeta militer yang membuat para pemimpin sipil termasuk Aung San Suu Kyi ditahan.

Selama berminggu-minggu, ribuan orang di negara itu keluar untuk memprotes kudeta, berhadapan dengan kekerasan mematikan dan penangkapan oleh pasukan keamanan.

"Pelaku kudeta tidak sah terhadap pemerintahan demokratis Myanmar tidak memiliki kewenangan untuk melawan otoritas sah Presiden negara saya," tulis Duta Besar Kyaw Moe Tun dalam suratnya kepada PBB melansir CNN pada Rabu (3/3/2021),

Sementara itu, kementerian luar negeri Myanmar mendukung seorang wakil duta besar lain untuk mengambil kendali atas perwakilan negara itu di PBB, menurut juru bicara PBB Stephane Dujarric.

"Ini situasi unik yang belum pernah kami lihat dalam waktu lama," kata Dujarric tentang klaim duel tersebut.

Halaman:

Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

21 Pekerja Terjebak di Tambang Banjir di Xinjiang China

21 Pekerja Terjebak di Tambang Banjir di Xinjiang China

Global
St Vincent Bersiap Hadapi Letusan Gunung La Soufriere Lagi

St Vincent Bersiap Hadapi Letusan Gunung La Soufriere Lagi

Global
Ada Efek Samping Vaksin AstraZeneca, Australia Atur Ulang Vaksinasi Covid-19

Ada Efek Samping Vaksin AstraZeneca, Australia Atur Ulang Vaksinasi Covid-19

Global
Kisah Peter Whitford, Musisi Australia yang Cinta Indonesia dan Mengidolai The Rollies

Kisah Peter Whitford, Musisi Australia yang Cinta Indonesia dan Mengidolai The Rollies

Global
Dua Tahun Tak Bertemu, Pangeran William dan Harry Akan Ambil Bagian dalam Prosesi Pemakaman Pangeran Philip

Dua Tahun Tak Bertemu, Pangeran William dan Harry Akan Ambil Bagian dalam Prosesi Pemakaman Pangeran Philip

Global
Video Viral Kucing BAB Saat Majikannya Lamaran lalu Kabur dan Hilang

Video Viral Kucing BAB Saat Majikannya Lamaran lalu Kabur dan Hilang

Global
Kecelakaan Kereta Mesir, KA Ternyata Melaju Tanpa Masinis dan Asisten

Kecelakaan Kereta Mesir, KA Ternyata Melaju Tanpa Masinis dan Asisten

Global
Pasukan Garuda di Bangui Afrika Obati Kerinduan pada Tanah Air dengan Siraman Rohani

Pasukan Garuda di Bangui Afrika Obati Kerinduan pada Tanah Air dengan Siraman Rohani

Global
Intip Kisah Cinta Pangeran Philip dan Ratu Elizabeth II yang Bersemi dari Remaja

Intip Kisah Cinta Pangeran Philip dan Ratu Elizabeth II yang Bersemi dari Remaja

Internasional
Rusia Tegaskan Tak Akan Perang dengan Ukraina, tapi...

Rusia Tegaskan Tak Akan Perang dengan Ukraina, tapi...

Global
[TRIVIA] Ramadhan 2021, Ini Negara-negara dengan Waktu Puasa Tercepat dan Terlama di Dunia

[TRIVIA] Ramadhan 2021, Ini Negara-negara dengan Waktu Puasa Tercepat dan Terlama di Dunia

Internasional
Diaspora Indonesia Luncurkan Program Mengajar dengan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Diaspora Indonesia Luncurkan Program Mengajar dengan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Global
Pemuda Myanmar Sebar “Molotov” Lawan Pemutusan Internet Junta

Pemuda Myanmar Sebar “Molotov” Lawan Pemutusan Internet Junta

Global
[Biografi Tokoh Dunia] Narciso Ramos, Sang Diplomat Pendiri ASEAN

[Biografi Tokoh Dunia] Narciso Ramos, Sang Diplomat Pendiri ASEAN

Internasional
Terjadi Kecelakaan di Fasilitas Nuklir Iran, Kedua Kalinya di Natanz sejak 2020

Terjadi Kecelakaan di Fasilitas Nuklir Iran, Kedua Kalinya di Natanz sejak 2020

Global
komentar
Close Ads X