Dicap Pengkhianat, Dubes Myanmar untuk PBB Dipecat Junta Militer

Kompas.com - 28/02/2021, 09:42 WIB
Dalam gambar yang diambil dari video oleh UNTV ini, Duta Besar Myanmar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Kyaw Moe Tun memberikan salam tiga jari, sikap menantang yang dilakukan oleh pengunjuk rasa anti-kudeta di Myanmar, di akhir pidatonya di hadapan Sidang Umum PBB jUMAT (27/2/2021). Kyaw Moe Tu menentang keras kudeta militer di negaranya dan mengimbau ?tindakan sekuat mungkin dari komunitas internasional? untuk segera memulihkan demokrasi dalam pidatonya yang dramatis di Sidang Umum PBB pada Jumat bahwa mendapat tepuk tangan meriah dari banyak diplomat di badan global 193 negara itu. UNTV via AP PHOTODalam gambar yang diambil dari video oleh UNTV ini, Duta Besar Myanmar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Kyaw Moe Tun memberikan salam tiga jari, sikap menantang yang dilakukan oleh pengunjuk rasa anti-kudeta di Myanmar, di akhir pidatonya di hadapan Sidang Umum PBB jUMAT (27/2/2021). Kyaw Moe Tu menentang keras kudeta militer di negaranya dan mengimbau ?tindakan sekuat mungkin dari komunitas internasional? untuk segera memulihkan demokrasi dalam pidatonya yang dramatis di Sidang Umum PBB pada Jumat bahwa mendapat tepuk tangan meriah dari banyak diplomat di badan global 193 negara itu.

NEW YORK, KOMPAS.com – Junta militer memecat Duta Besar Myanmar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kyaw Moe Tun karena dianggap mengkhianati negara.

Televisi pemerintah Myanmar mengumumkan pemecatannya pada Sabtu (27/2/2021) sebagaimana dilansir dari BBC.

Junta militer mengatakan, Kyaw Moe Tun mengkhianati negara dan berbicara untuk organisasi tidak resmi yang tidak mewakili Myanmar.

Kyaw Moe Tun juga dianggap telah menyalahgunakan kekuasaan dan tanggung jawab seorang duta besar.

Baca juga: Pebisnis Indonesia di Myanmar, Berbagi Kisah Kunci Bertahan di Tengah Gejolak untuk Para Entrepreneur


Sebelumnya, pada Jumat (26/2/2021), Kyaw Moe Tun memberikan pidato yang emosional dalam Sidang Umum PBB.

Dia mengatakan tidak ada yang boleh bekerja sama dengan junta militer sampai mereka menyerahkan kembali kekuasaan kepada pemerintah yang dipilih secara demokratis.

Kyaw Moe Tun mendesak masyarakat internasional untuk menggunakan segala cara yang diperlukan untuk mengambil tindakan terhadap militer guna memulihkan demokrasi.

Dia juga mengatakan bahwa dia mewakili pemerintah pemimpin de facto Aung San Suu Kyi.

Baca juga: Polisi Myanmar Berjam-jam Tembaki Pedemo Anti-Kudeta Militer

"Kami membutuhkan tindakan sekuat mungkin dari komunitas internasional untuk segera mengakhiri kudeta militer, menghentikan penindasan terhadap orang-orang yang tidak bersalah, mengembalikan kekuasaan negara kepada rakyat, dan memulihkan demokrasi," katanya.

Pidato itu disambut dengan tepuk tangan meriah. Banyak orang yang menyebut Kyaw Moe Tun pemberani atas pidatonya itu.

Halaman:

Sumber BBC,Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X