PM Inggris Targetkan 100 Hari Anggota Negara G7 Kembangkan Vaksin Covid-19

Kompas.com - 19/02/2021, 10:32 WIB
PM Inggris Boris Johnson berpidato saat konferensi pers di Downing Street no. 10, London, pada Rabu (30/12/2020). DAILY TELEGRAPH/HEATHCLIFF O'MALLEY via APPM Inggris Boris Johnson berpidato saat konferensi pers di Downing Street no. 10, London, pada Rabu (30/12/2020).

LONDON, KOMPAS.com - Inggris pada Jumat (19/2/2021) menantang para negara anggota G7 untuk mengembangkan vaksin Covid-19 masa depan dengan target 100 hari.

Melansir Reuters pada Jumat (19/2/2021), Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang menjadi presiden G7 memiliki misi untuk membangun pendekatan antarnegara yang lebih terkoordinasi terhadap pandemi Covid-19 di masa depan, termasuk pembuatan perjanjian kesehatan global.

Baca juga: Pfizer Mulai Uji Coba Vaksin Covid-19 ke Wanita Hamil

Johnson ingin mengubah kepemimpinan AS di bawah Donald Trump dalam G7 sebelumnya, dan menempatkan kehancuran Covid-19 dalam puncak agenda global, yang fokus menyoroti perihal kesehatan, perubahan iklim, serta pemulihan ekonomi yang adil.

Dia akan memulai agenda itu pada Jumat (19/2/2021) dengan berjanji untuk membagikan kelebihan dosis vaksin Covid-19 kepada negara berkembang, dan menyerukan bantuan pengembangan vaksin virus corona lebih cepat.

Baca juga: Para Pakar WHO Kecam Laporan Sesat Media AS terkait Penyelidikan Asal-Usul Covid-19 di China

“Dengan memanfaatkan kecerdikan kolektif kami, kami dapat memastikan kami memiliki vaksin, perawatan, dan tes untuk bersiap-siap menghadapi ancaman kesehatan di masa depan, saat kami mengalahkan Covid-19 dan membangun kembali bersama-sama dengan lebih baik,” ujar Johnson.

Butuh waktu 314 hari dari identifikasi pertama kluster Covid-19 di China pada Desember hingga hasil uji coba vaksin pertama berhasil.

Inggris memuji itu sebagai pencapaian besar, tetapi mengatakan ke depan pencapaian itu harus dilakukan lebih cepat.

Baca juga: Presiden Perancis: Dunia Butuh Vaksin China dan Rusia agar Menang Lawan Covid-19

Ia mendorong target 100 hari yang sebelumnya ditetapkan oleh Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi.

Johnson akan berkomitmen untuk mengirimkan sebagian besar kelebihan vaksin Covid-19 yang dimilikinya di akhir tahun ini ke skema Covax yang membantu memasok suntikan ke negara-negara miskin.

Dia akan mendorong negara G7 lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Baca juga: Vatikan Ancam Karyawan yang Tolak Vaksin Covid-19 dapat Kehilangan Pekerjaan

“Sebagai pemimpin G7, kita harus mengatakan hari ini: jangan pernah lagi (menimbun vaksin Covid-19),” ucap Johnson akan memberi tahu Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Perancis, Italia, dan Kanada.

Sementara itu, pertemuan G7 itu menjadi keterlibatan multilateral pertama Joe Biden sejak ia mengambil alih kursi pemerintahan Trump yang pendekatannya sering membuat upaya untuk membangun konsensus internasional berantakan.

Baca juga: Mahathir Beri Nasihat ke PM Malaysia jika Ingin Krisis Covid-19 Berakhir


Sumber REUTERS
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Romania Geger, Beruang Terbesar Eropa Diduga Dibunuh Seorang Pangeran

Romania Geger, Beruang Terbesar Eropa Diduga Dibunuh Seorang Pangeran

Global
Pemimpin Tertinggi Iran: Israel Itu Bukan Negara, tapi Sarang Teroris

Pemimpin Tertinggi Iran: Israel Itu Bukan Negara, tapi Sarang Teroris

Global
Masjid Al-Aqsa, Titik Pertikaian Panjang Palestina-Israel

Masjid Al-Aqsa, Titik Pertikaian Panjang Palestina-Israel

Internasional
Tuduhan Trump Bayar Uang Tutup Mulut ke Bintang Porno di Pilpres AS 2016 Ditutup

Tuduhan Trump Bayar Uang Tutup Mulut ke Bintang Porno di Pilpres AS 2016 Ditutup

Global
Bayi di Filipina Diberi Nama Ghlynnyl Hylhyr Yzzyghyl, Ini Alasannya

Bayi di Filipina Diberi Nama Ghlynnyl Hylhyr Yzzyghyl, Ini Alasannya

Global
Panjang Daftar Tunggu Tempat Tidur Setiap RS India Capai 75 Nama, Dokter Mengaku Hancur

Panjang Daftar Tunggu Tempat Tidur Setiap RS India Capai 75 Nama, Dokter Mengaku Hancur

Global
Warga Palestina Bentrok dengan Polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, 136 Orang Terluka

Warga Palestina Bentrok dengan Polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, 136 Orang Terluka

Global
Vaksin Covid-19 Sinopharm Asal China Dapat Persetujuan WHO

Vaksin Covid-19 Sinopharm Asal China Dapat Persetujuan WHO

Global
Populer Global: Nenek Menang Lotre Rp 400 Miliar | Penyebab Buruknya Tsunami Covid-19 di India

Populer Global: Nenek Menang Lotre Rp 400 Miliar | Penyebab Buruknya Tsunami Covid-19 di India

Global
Blue Book Uni Eropa-ASEAN 2021 Tandai Kerja Sama 44 Tahun

Blue Book Uni Eropa-ASEAN 2021 Tandai Kerja Sama 44 Tahun

Global
Biografi Tokoh Dunia: Abu Nawas, Penyair Tersohor Arab yang Kontroversial

Biografi Tokoh Dunia: Abu Nawas, Penyair Tersohor Arab yang Kontroversial

Internasional
Koran Perancis Ungkap Perusahaan Energi Total “Danai” Junta Militer Myanmar

Koran Perancis Ungkap Perusahaan Energi Total “Danai” Junta Militer Myanmar

Global
Afrika Berpotensi Jadi Medan Perang AS-China, Kenapa?

Afrika Berpotensi Jadi Medan Perang AS-China, Kenapa?

Global
Korea Utara Disebut Mau Melucuti Senjata Nuklirnya, Asalkan…

Korea Utara Disebut Mau Melucuti Senjata Nuklirnya, Asalkan…

Global
3 Teka-teki Kematian Misterius yang Masih Belum Terpecahkan

3 Teka-teki Kematian Misterius yang Masih Belum Terpecahkan

Global
komentar
Close Ads X