Pedemo Myanmar Hasut Perusahaan Asing Tak Usah Bayar Pajak

Kompas.com - 18/02/2021, 17:47 WIB
Seorang demonstran memegang plakat dan lilin selama protes menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, 16 Februari 2021. REUTERS via VOA INDONESIASeorang demonstran memegang plakat dan lilin selama protes menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, 16 Februari 2021.

KANBAUK, KOMPAS.com - Para pengunjuk rasa di Myanmar, Kamis (18/2/2021), berdemonstrasi di lokasi di mana sejumlah perusahaan asing terlibat dalam operasi pipa gas internasional.

Mereka mengimbau perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam industri itu berhenti membayar pendapatan kepada pemerintah militer yang baru.

Dalam sebuah pernyataannya, Aliansi Myanmar untuk Transparansi dan Akuntabilitas (MATA) mengatakan, transaksi pembayaran apa pun yang dilakukan "akan merusak upaya rakyat Myanmar untuk mengembalikan negara ke demokrasi."

Baca juga: Lawan Kudeta Myanmar, Hacker Serang Web Pemerintah Militer

MATA menyatakan, pembayaran pendapatan itu akan "memberi militer Myanmar sumber daya yang diperlukan untuk melanjutkan pelanggaran HAM di Myanmar."

Protes yang digelar pada Kamis (18/2/2021) mendukung seruan itu. Sekitar 200 orang berkumpul di dekat Kanbauk, di Myanmar Selatan, di dekat pusat operasi perusahaan-perusahaan internasional besar yang terlibat dalam ekstraksi gas dari ladang-ladang di lepas pantai Myanmar.

Dalam aksi mereka, para pengunjuk rasa bergerak antara lokasi milik Total Perancis, PTTEP Thailand, dan Petronas Malaysia.

Mereka membawa spanduk-spanduk bertuliskan "Uang Anda adalah oksigen untuk militer!" dan "Berhenti bekerja sama dengan militer Myanmar!"

Baca juga: Cara Unik Demo di Myanmar dengan Pura-pura Mobil Mogok di Tengah Jalan

Industri ekstraktif, seperti gas, minyak, dan pertambangan batu giok, merupakan sumber pendapatan asing utama Myanmar.

MATA mengatakan bahwa setelah kudeta 1 Februari, semua perusahaan internasional yang terlibat dalam operasi semacam itu harus memasukkan pembayaran pendapatan mereka ke rekening yang dilindungi, yang hanya akan diberikan kepada pemerintah yang terpilih secara demokratis.

Pihaknya juga mengimbau perusahaan yang terlibat dalam tahap eksplorasi untuk menghentikan kegiatan mereka hingga junta militer menyatakan mundur.

Baca juga: Myanmar Mencekam, Warga Ronda Malam untuk Cegah Penggerebekan Militer


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Para Pemimpin Islam: Salahuddin Ayyubi dan Kisah Kepemimpinan Selama Perang Salib

Para Pemimpin Islam: Salahuddin Ayyubi dan Kisah Kepemimpinan Selama Perang Salib

Internasional
Putin Bersumpah Bela Kepentingan Nasional dan Mengecam 'Russophobia' dalam Perayaan Kemenangan Perang Dunia II

Putin Bersumpah Bela Kepentingan Nasional dan Mengecam "Russophobia" dalam Perayaan Kemenangan Perang Dunia II

Global
Calon Tentara AS Bajak Bus Sekolah, Malah Pusing Anak-anak Banyak Tanya

Calon Tentara AS Bajak Bus Sekolah, Malah Pusing Anak-anak Banyak Tanya

Global
Dua Pria Lemparkan Kantong Penuh Kecoak ke Restoran, Bertepatan Perjamuan Polisi

Dua Pria Lemparkan Kantong Penuh Kecoak ke Restoran, Bertepatan Perjamuan Polisi

Global
Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Internasional
Diplomat AS, China, dan Rusia Desak Kerja Sama, tapi Masih Bertikai

Diplomat AS, China, dan Rusia Desak Kerja Sama, tapi Masih Bertikai

Global
China Angkat Suara Setelah Roketnya Jatuh di Samudra Hindia

China Angkat Suara Setelah Roketnya Jatuh di Samudra Hindia

Global
Roket China Long March 5B Pernah Pecah lalu Jatuh di Afrika

Roket China Long March 5B Pernah Pecah lalu Jatuh di Afrika

Global
Di Tempat Inilah Wahana Ruang Angkasa yang Mati 'Dikuburkan'

Di Tempat Inilah Wahana Ruang Angkasa yang Mati "Dikuburkan"

Global
Rembrandt, Pelukis Beraliran Baroque Menggunakan Teknik Impasto

Rembrandt, Pelukis Beraliran Baroque Menggunakan Teknik Impasto

Internasional
Junta Militer Myanmar Masukkan Pemerintah Bayangan sebagai Teroris

Junta Militer Myanmar Masukkan Pemerintah Bayangan sebagai Teroris

Global
Muncul Bukti Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Jenderal Top Iran

Muncul Bukti Keterlibatan Israel dalam Pembunuhan Jenderal Top Iran

Global
Kronologi Roket China Long March 5B Jatuh di Samudra Hindia, Dunia Sempat Tegang

Kronologi Roket China Long March 5B Jatuh di Samudra Hindia, Dunia Sempat Tegang

Global
Corona India Update: 4.000 Kematian 2 Hari Berturut-turut

Corona India Update: 4.000 Kematian 2 Hari Berturut-turut

Global
Korban Tewas Ledakan Bom di Sekolah Afghanistan Bertambah Jadi 50 Orang

Korban Tewas Ledakan Bom di Sekolah Afghanistan Bertambah Jadi 50 Orang

Global
komentar
Close Ads X