Kekerasan Meningkat di Irak, NATO Sepakat Perluas Latihan Militer

Kompas.com - 17/02/2021, 11:15 WIB
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg berbicara selama konferensi pers menjelang pertemuan menteri pertahanan NATO di markas NATO di Brussels, Senin, 15 Februari 2021. AP PHOTO/OLIVIER HOSLETSekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg berbicara selama konferensi pers menjelang pertemuan menteri pertahanan NATO di markas NATO di Brussels, Senin, 15 Februari 2021.

BRUSSELS, KOMPAS.com - NATO akan memperluas misi pelatihan aliansi militer di Irak setelah pandemi virus corona mereda, yang berpotensi memperkuat peran yang lebih luas untuk aliansi Atlantik di Timur Tengah.

Para menteri ditetapkan untuk menyetujui rencana ini selama konferensi video pada Kamis (18/2/2021).

Dengan itu misi NATO berpotensi membesar, dari maksimum sekitar 500 tentara saat ini menjadi sekitar 4.000 hingga 5.000 menurut empat diplomat kepada Reuters.

Pada Senin (15/2/2021) Sekertaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyatakan harapannya agar para menteri pertahanan menyetujui perluasan misi ini. Yaitu dengan menempatkan lebih banyak personel sekutu yang bekerja di lebih banyak lembaga keamanan di seluruh Irak.

"Misi akan berkembang secara bertahap, untuk menanggapi situasi tersebut," katanya.

Baca juga: Instalasi Militer di Irak Diserang Roket, 6 Orang Korban Termasuk Tentara AS

NATO telah memiliki misi non-tempur yaitu dengan memberikan latihan dan nasihat keamanan di Baghdad sejak Oktober 2018.

Tetapi rencana untuk memperluas misi itu ditunda sebagian karena pandemi Covid-19. Ada juga kekhawatiran tentang stabilitas regional, setelah pesawat tak berawak AS menewaskan komandan tertinggi Iran di Baghdad pada 3 Januari 2020.

Rencana ekspansi sebelumnya terutama sebagai tanggapan atas permintaan pimpinan AS saat itu, Presiden Donald Trump. Dia meminta agar NATO berbuat lebih banyak di Timur Tengah.

Menurut para diplomat, Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi, mantan kepala intelijen dan sekutu AS yang menjabat pada Mei, yang kali ini sangat menginginkan kehadiran NATO yang lebih besar di negara itu pada saat ketidakamanan meningkat.

Serangan roket terhadap pasukan pimpinan AS di Irak utara menewaskan seorang kontraktor sipil pada Senin (15/2/2021) dan melukai seorang anggota layanan AS, dalam insiden paling mematikan dalam hampir setahun.

Baca juga: 11 Pasukan Hashed al-Shaabi Tewas Diserang ISIS di Irak

Kelompok paramiliter yang bersekutu dengan Iran di Irak dan Yaman telah melancarkan serangan terhadap Amerika Serikat dan sekutu Arabnya dalam beberapa pekan terakhir. Salah satunya termasuk serangan pesawat tak berawak di bandara Arab Saudi dan serangan roket ke Kedutaan Besar AS di Baghdad.

NATO kemungkinan akan mengambil alih beberapa kegiatan pelatihan yang dilakukan oleh koalisi pimpinan AS melawan ISIS.

Misi sekutu, yang melibatkan sekutu termasuk Inggris, Turki dan Denmark dan dipimpin oleh seorang komandan Denmark, dipandang lebih dapat diterima oleh Irak daripada pasukan pelatihan AS, kata para diplomat.

Saat ini, misi NATO hanya melatih dan memberi nasihat kepada anggota lembaga dan pasukan keamanan Irak yang berada di bawah kendali langsung pemerintah Irak.

Baca juga: Pasukan Keamanan Irak Klaim Bunuh Pentolan ISIS


Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X