Militer Myanmar Bingung? Surati Rekan Sesama Pelaku Kudeta di Thailand Minta Bantuan Demokrasi

Kompas.com - 11/02/2021, 12:26 WIB
Warga negara Myanmar yang tinggal di Thailand memegang foto yang mengecam Panglima Tertinggi militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing, selama protes di depan gedung PBB di Bangkok, Thailand, Rabu (3/2/2021). AP PHOTO/SAKCHAI LALITWarga negara Myanmar yang tinggal di Thailand memegang foto yang mengecam Panglima Tertinggi militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing, selama protes di depan gedung PBB di Bangkok, Thailand, Rabu (3/2/2021).

 

BANGKOK, KOMPAS.com - Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-O-Cha mengatakan telah menerima surat dari pemimpin junta baru Myanmar, pada Rabu (10/2/2021).

Prayuth yang pertama kali merebut kekuasaan dalam kudeta Thailand mengatakan Militer Myanmar meminta bantuannya untuk mendukung demokrasi.

Padahal kepala pemerintahan “Negeri Seribu Pagoda” ini menduduki kekuasaannya setelah menggulingkan perdana menteri terpilih pada 2014. Prayuth tetap menjabat setelah pemilu 2019, kekuasaan yang menurut para pesaingnya sangat cacat.

Melansir Reuters kepada wartawan di Bangkok, pria yang besar dalam keluarga militer itu mengatakan selalu mendukung demokrasi di negara tetangga.

Baca juga: Joe Biden Putus Akses Keuangan Jenderal Myanmar ke AS sebagai Sanksi Kudeta Militer

Sementara tentara Min Aung Hlaing menggulingkan pemimpin sipil terpilih Aung San Suu Kyi pada 1 Februari dan menahannya. Militer Myanmar menuduh kecurangan dalam pemilihan tahun lalu bahwa partainya menang telak. Komisi pemilihan telah menolak klaim tentara tersebut.

"Kami mendukung proses demokrasi di Myanmar tetapi yang terpenting saat ini adalah menjaga hubungan baik karena berdampak pada masyarakat, ekonomi, perdagangan perbatasan, terutama sekarang," kata Prayuth.

"Thailand mendukung proses demokrasi. Selebihnya terserah dia bagaimana melanjutkannya," katanya.

Baca juga: Dari Pria Bertelanjang Dada sampai Wanita Bergaun Pengantin Berdemo di Myanmar

Sejak kudeta, Myanmar telah dikejutkan oleh protes terbesar dalam lebih dari satu dekade. Terakhir ketika para pendukung Suu Kyi menentang kudeta dan berhasil menghentikan pemerintahan junta selama satu dekade menuju transisi demokrasi.

Sedangkan Thailand menyaksikan protes terbesarnya dalam beberapa dekade tahun lalu.

Lawan-lawan Prayuth menuntut dia mundur, menuduhnya merekayasa pemilu terakhir untuk melanjutkan dominasi politik Thailand oleh tentara dan monarki. Tapi, dia menyangkal adanya gangguan.

Tentara Thailand dan Myanmar memiliki hubungan kerja yang erat dalam beberapa dekade terakhir. Meskipun ada sejarah permusuhan yang panjang antara kedua negara.

Di lain sisi, demonstrasi anti-kudeta militer di Myanmar sudah menginjak hari ke-6. Demonstran yang menyuarakan pendapat secara damai mencuri perhatian publik dengan kreativitas mereka di jalan-jalan kota. 

Setidaknya satu orang diketahui mengalami luka serius karena kekerasan yang mulai dilakukan militer terhadap demonstran.

Baca juga: Demonstrasi Myanmar, Demonstran Wanita Kritis Setelah Ditembak di Kepala

 


Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X