Pemimpin Sayap Kanan Perancis Hadapi Ancaman Penjara Setelah Sebar Gambar Kekejaman ISIS

Kompas.com - 11/02/2021, 10:38 WIB
Marine Le Pen. Anwar AMRO / AFPMarine Le Pen.

PARIS, KOMPAS.com - Pemimpin sayap kanan Perancis, Marine Le Pen, diadili pada Rabu (10/2/2021) dengan tuduhan melanggar UU ujaran kebencian karena mengunggah gambar kekejaman ISIS.

Sidang dilakukan ketika jajak pendapat menunjukan Le Pen kemungkinan akan berhadapan lagi dengan Emmanuel Macron pada pemilihan presiden 2022, setelah Partai Barisan Nasional membuat penampilan terkuatnya dalam pemungutan suara 2017.

Le Pen membagikan gambar menakutkan pada Desember 2015, beberapa pekan setelah ISIS membunuh 130 orang di Paris, dalam merespons seorang jurnalis yang mmebandingkan antara ISIS dan partainya.

Salah satu gambar menunjukkan tubuh James Foley, seorang jurnalis Amerika yang dipenggal oleh militan Islam.

Baca juga: Piagam Ekstremis Besutan Presiden Perancis Ditolak 3 Kelompok Muslim

Foto lain menunjukkan seorang pria dalam ditabarak tank dan foto ketiga menunjukkan pilot Yordania dibakar hidup-hidup di dalam penjara.

"Daesh ini!" tulis Le Pen dalam keterangannya, menggunakan istilah bahasa Arab untuk ISIS.

"Saya jelas menjadi korban pengadilan politik," kata Le Pen kepada wartawan di gedung pengadilan di Nanterre, pinggiran kota Paris seperti yang dilansir dari AFP pada Rabu (10/2/2021). 

"Media menerbitkannya, editorial, surat kabar, saluran TV, dan tidak ada yang pernah dituntut karena melakukannya, hanya Marine Le Pen yang dituntut," katanya.

Baca juga: Presiden Macron Galang Dukungan Kabinet untuk RUU Anti-Separatime Perancis

Sangat mengejutkan

Pada 2018, seorang hakim mendakwa dia dan juga Gilbert Collard, seorang rekan Partai Barisan Nasional yang juga mengunggah gambar tersebut di Twitter, dengan mengedarkan "pesan kekerasan yang menghasut terorisme atau pornografi atau sangat merugikan martabat manusia" dan itu dapat dilihat oleh anak di bawah umur.

Kejahatan tersebut dapat dihukum hingga 3 tahun penjara dan denda 75.000 euro (Rp 1,3 miliar), tetapi jaksa penuntutan hanya meminta denda 5.000 euro (Rp 84,8 juta).

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Musik dan Pijat, Rahasia Petani Malaysia Berhasil Budidayakan Melon Jepang

Musik dan Pijat, Rahasia Petani Malaysia Berhasil Budidayakan Melon Jepang

Global
Pemimpin Junta Militer Myanmar Akan ke Jakarta, Hadiri Pertemuan ASEAN

Pemimpin Junta Militer Myanmar Akan ke Jakarta, Hadiri Pertemuan ASEAN

Global
Terobsesi Kebugaran Tubuh, Ayah ini Paksa Anaknya Tanda Tangan Kontrak Tidak Boleh Gemuk

Terobsesi Kebugaran Tubuh, Ayah ini Paksa Anaknya Tanda Tangan Kontrak Tidak Boleh Gemuk

Global
Kisah Diskriminasi Rasial yang Dilupakan dari Tragedi Titanic, 6 Orang China Selamat Diusir

Kisah Diskriminasi Rasial yang Dilupakan dari Tragedi Titanic, 6 Orang China Selamat Diusir

Internasional
Konflik Makin Memuncak, Rusia Tangkap Diplomat Ukraina

Konflik Makin Memuncak, Rusia Tangkap Diplomat Ukraina

Global
Sebar Video TikTok Menari dengan Sisa Operasi Pasiennya, Ahli Bedah Plastik Brasil Diskors

Sebar Video TikTok Menari dengan Sisa Operasi Pasiennya, Ahli Bedah Plastik Brasil Diskors

Global
Pangeran Philip Setia Memakai Sepatu Pernikahan Selama 74 Tahun

Pangeran Philip Setia Memakai Sepatu Pernikahan Selama 74 Tahun

Global
[KISAH INSPIRASI ISLAM] Meneladani Sifat Umar bin Khattab

[KISAH INSPIRASI ISLAM] Meneladani Sifat Umar bin Khattab

Global
Brasil Peringatkan Warganya Tunda Kehamilan karena Varian Corona Brasil

Brasil Peringatkan Warganya Tunda Kehamilan karena Varian Corona Brasil

Global
AS Tarik Pasukan, Afghanistan Kembali ke Pangkuan Taliban?

AS Tarik Pasukan, Afghanistan Kembali ke Pangkuan Taliban?

Global
Israel Kembali Gempur Jalur Gaza Lewat Serangan Udara

Israel Kembali Gempur Jalur Gaza Lewat Serangan Udara

Global
Geng 4 Wanita Penghibur Ratu Elizabeth II Setelah Pangeran Philip Meninggal

Geng 4 Wanita Penghibur Ratu Elizabeth II Setelah Pangeran Philip Meninggal

Internasional
PBB: Kekerasan Seksual dan Kelaparan Jadi Strategi Perang di Tigray

PBB: Kekerasan Seksual dan Kelaparan Jadi Strategi Perang di Tigray

Global
Tukang Bunuh Gebetan karena Kesal Punya Pacar, lalu Ditabrak Mobil Kekasih Korban

Tukang Bunuh Gebetan karena Kesal Punya Pacar, lalu Ditabrak Mobil Kekasih Korban

Global
Resmi, NASA Tunjuk SpaceX Kembangkan Wahana Pendarat di Bulan

Resmi, NASA Tunjuk SpaceX Kembangkan Wahana Pendarat di Bulan

Global
komentar
Close Ads X