Korea Selatan Sarankan AS Bermain Fleksibel untuk Dialog Denuklirisasi Korea Utara Tercapai

Kompas.com - 03/02/2021, 19:25 WIB
Foto tanpa tanggal yang dikeluarkan oleh kantor berita Korea Utara, KCNA, pada 3 September 2017, memperlihatkan pemimpin Korut Kim Jong Un (tengah) sedang melihat pipa logam di tempat yang tak diketahui.  REUTERS/KCNA Foto tanpa tanggal yang dikeluarkan oleh kantor berita Korea Utara, KCNA, pada 3 September 2017, memperlihatkan pemimpin Korut Kim Jong Un (tengah) sedang melihat pipa logam di tempat yang tak diketahui.

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Selatan menyarankan Amerika Serikat (AS) pada Rabu (3/2/2021) bermain fleksibel dalam memberlakukan sanksi yang ditujukan untuk mengekang program nuklir Pyongyang dan menghidukan kembali dialog denuklirisasi di semenanjung Korea.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dan presiden AS sebelumnya, Donald Trump telah bersepakat untuk menghidupkan kembali denuklirisasi di semenanjung Korea pada pertemuan pertama mereka pada 2018.

Pertemuan kedua dan pembicaraan tingkat kerja berikutnya telah gagal dijalankan.

Baca juga: Dubes Korea Utara yang Membelot ke Korea Selatan Ternyata dari Keluarga Elite

Sementara, pemerintahan baru Joe Biden belum mengumumkan kebijakan apa pun terkait Korea Utara, tapi Seoul bersemangat untuk menghidupkan kembali kerja sama ekonomi lintas batas yang terhenti.

Negera K-pop itu menyataan harapan bahwa Biden akan memulai kembali perundingan nuklir dengan Pyongyang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lee In-young, menteri unifikasi Kore Selatan yang bertanggung jawab atas urusan antar-Korea, mengatakan sanksi yang diperkuat mungkin bukan kunci untuk membawa Korea Utara kembali ke meja perundingan.

Baca juga: AS-Korea Selatan Bicarakan Perdamaian di Semenanjung Korea

"Jika bicara tentang sanksi tambahan, sekarang saatnya untuk meninjau capaian yang didapat dari sanksi sejauh ini. Memperkuat sanksi mungkin bukan segalanya," kata Lee dalam konferensi pers seperti yang dilansir dari Reuters pada Rabu (3/2/2021).

"Kita harus melihat kembali aspek sanksi yang dapat diterapkan secara fleksibel, tergantung situasi yang dapat bermain peran dalam mempercepat negosiasi denuklirisasi," terang Lee selanjutnya.

Pernyataan Lee muncul setelah Presiden Korea Selatan Moon Jae In mendesak Biden untuk melanjutkan kemajuan yang dibuat antara Kim dan Trump dalam dialog denuklirisasi.

Baca juga: Setelah Biden Dilantik, Korea Selatan Ingin AS Lanjutkan Pembicaraan dengan Korea Utara

Pekan lalu, Perdana Menteri Chung Sye Kyun mengatakan kepada Reuters bahwa Pyongyang dan Washington seharusnya mengupayakan kesepakatan awal, yang meliputi penghentian aktivitas nuklir negara komunis itu, dan pemotongan programnya sebagai imbalan atas beberapa keringanan sanksi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Sumber REUTERS
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X