Kompas.com - 03/02/2021, 16:50 WIB
Militer Myanmar membuat blokade dengan memarkir sejumlah kendaraan bersenjata, di jalan menuju gedung parlemen pada Selasa (2/2/2021) di Naypyidaw, ibu kota Myanmar. AP PHOTOMiliter Myanmar membuat blokade dengan memarkir sejumlah kendaraan bersenjata, di jalan menuju gedung parlemen pada Selasa (2/2/2021) di Naypyidaw, ibu kota Myanmar.

NAYPYITAW, KOMPAS.com - Pekan ini, militer mengubah tahun-tahun pemerintahan semi-demokrasi di Myanmar dengan mengambil alih negara itu dalam kudeta yang diatur dengan sangat hati-hati.

Melansir Associated Press (AP), Rabu (3/2/2021) militer mengatakan perebutan kekuasaan itu perlu karena pemerintah telah gagal bertindak atas klaim penipuan pemilihan yang tidak berdasar pada pemilihan November 2020.

Pemilihan itu dimenangkan oleh partai pemimpin de facto negara itu, Aung San Suu Kyi secara telak. Militer mengeklaim pengambilalihan itu konstitusional.

Akan tetapi, di mana tepatnya kudeta itu terjadi? Apakah di Myanmar, demikian negara itu secara resmi disebut? Atau di Burma, nama yang sampai sekarang masih digunakan Washington?

Jawabannya tidak semudah pertanyaannya. Karena jika menyangkut Myanmar, hampir segalanya bersifat politis. Bahkan termasuk bahasanya.

Baca juga: Pembangkangan Sipil Makin Menguat di Myanmar, Dokter dan Staf Medis Ambil Bagian

Mengapa bisa menjadi Myanmar?

Selama beberapa generasi, negara itu disebut Burma, mengacu nama kelompok etnis Burman yang dominan.

Namun, pada 1989, setahun usai junta yang berkuasa secara brutal menekan pemberontakan pro-demokrasi, para militer tiba-tiba mengganti nama negara itu menjadi Myanmar.

Saat itu, Burma menjadi negara paria di kancah internasional dan jelas membutuhkan cara apa pun untuk meningkatkan citra mereka.

Dengan harapan mampu mendapatkan sedikit legitimasi dunia, mereka membuang nama yang diturunkan dari masa kolonial itu demi mendorong persatuan etnis.

Baca juga: China Halangi Upaya Dewan Keamanan PBB Kecam Kudeta di Myanmar

Nama lama, Burma, kata pejabat, telah mengesampingkan banyak etnis minoritas di negara itu.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X