Think Tank Indonesia Raih Peringkat Kedua Se-Asia Pasific, Lakukan Inovasi di Tengah Pandemi dan Distorsi Informasi

Kompas.com - 03/02/2021, 13:50 WIB
CSIS Indonesia menjadi satu-satunya lembaga Think Tank dari Asia Tenggara di peringkat 12 besar Think Tank Global.
CSISCSIS Indonesia menjadi satu-satunya lembaga Think Tank dari Asia Tenggara di peringkat 12 besar Think Tank Global.

JAKARTA, KOMPAS.com - Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia berhasil meraih capaian luar biasa di tingkat Asia Pasifik dan global di tengah keterbatasan selama pandemi di 2020.

Menurut laporan 2020 Global Go To Think Tank Index, lembaga pemikir Indonesia ini diakui sebagai Think Tank terbaik kedua se-Asia Pasifik, naik dua tingkat dari tahun sebelumnya.

Sementara di tingkat global, peringkatnya naik drastis dalam satu tahun ke peringkat 12 dari urutan 30. Mengukuhkan posisi sebagai Think Tank Asia Tenggara satu-satunya dalam posisi tersebut.

Di tengah pandemi CSIS melakukan inovasi untuk tetap dapat berpegang pada mottonya, yaitu nalar ajar, terusan Budi. Harapnya semua hasil pemikiran dalam penelitian CSIS, bisa tetap disampaikan pada publik dan digunakan dalam pembuatan kebijakan.

“Yang tadinya kita melakukan seminar itu di ruangan meeting kita, melakukan diskusi dihadiri puluhan atau ratusan orang sekarang, kita harus terpaksa mengubah sarana ke ranah digital,” kata Fitri Bintang Timur Peneliti Departemen Internasional CSIS kepada Kompas.com, Selasa (2/1/2021). 

Transisi yang dilakukan dengan cepat dengan platform digital menurutnya menjadi pendorong pengakuan CSIS di tingkat internasional.

Bukan hanya mengubah sarana publikasi dari tatap muka menjadi online, penyusunan penelitian dan perubahan format publikasi juga mengalami inovasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Selandia Baru Paling Jago Tangani Pandemi Covid-19, Indonesia Peringkat 85 dari 98 Negara

Normalnya, hasil penelitian CSIS diterbitkan dalam bentuk jurnal 4 kali dalam setahun. Dalam kondisi pandemi, think tank ini menerbitkan publikasi singkat bertajuk “Commentary CSIS.”

Ulasan pertama dari format publikasi terbaru itu berisi tentang Covid-19 di Indonesia. Isinya komplet dari apa yang terjadi di tanah air, bagaimana dampak pandemi, hingga apa yang mungkin dapat dilakukan sebagai masukan bagi pembuat kebijakan nasional.

“Banyak platform seperti Facebook, Google, bersedia berkolaborasi bekerja sama memberikan data, dari situ kita bisa melakukan Big Data Analisis. Kita menggunakan jejaring yang kita punya untuk membuat inovasi publikasi baru,” ujarnya.

Salah satu terobosan yang dilakukan CSIS selama pandemi adalah dengan membuat platform informasi khusus Covid-19 di websitenya. Di dalamnya terdapat analisis data terkait efektivitas kebijakan lockdown atau pembatasan sektoral (PSBB) yang dilakukan pemerintah sejak awal pandemi. Melalui analisis itu dapat diketahui mana provinsi yang kebijakannya baik dan mana yang perlu diperbaiki untuk lebih efektif.

Sejak tahun lalu berbagai isu menjadi perhatian dan penelitian CSIS khususnya di Indonesia. Antara lain terkait usaha kecil dan usaha menengah (UMKM), e-commerce, kajian diplomasi ekonomi Indonesia, serta mengenai peran Indonesia di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat ini.

“CSIS juga melakukan kajian tentang kerja sama internasional apa yang dapat dilakukan oleh Indonesia terkait mitigasi bencana akibat Covid-19 dan bagaimana kita kedepannya bisa bekerja sama menjaga stabilitas,” terang peneliti yang juga fokus menyoroti pertahanan dan keamanan di Asia Pasifik ini.

Baca juga: Peringkat Presiden Jokowi di Daftar 50 Tokoh Muslim Berpengaruh Dunia Naik dari Tahun Sebelumnya

Dengan semakin mudahnya informasi hoax beredar di publik, CSIS menilai kebijakan pemerintah harus berbasis dengan data. Pembuatan kebijakan juga harus transparan dengan banyak melakukan konsultasi publik.

“Kita belajar dari Omnibus law, masyarakat merasa tidak dilibatkan. Akhirnya terjadi demo besar-besaran yang menimbulkan peningkatan jumlah kasus Covid-19,” kata dia.

Untungnya pemerintah kemudian melakukan yang juga menjadi imbauan CSIS. Termasuk dengan melibatkan tokoh daerah, pemuka agama dan adat. Keterlibatan mereka dinilai bisa menjadi sarana komunikasi yang baik agar masyarakat menerima informasi yang benar dan menangkal hoax.

Menanggapi tantangan distorsi informasi saat ini, CSIS juga mengimbau masyarakat untuk secara aktif memverifikasi channel berita tepercaya, yang memberikan informasi berbasis data.

Baca juga: Kairo Menduduki Peringkat Teratas dalam Kasus Pelecehan Seksual


Sumber Kompas.com
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X