PBB Desak untuk Korea Utara Dibawa ke Pengadilan Internasional Terkait Kejahatan Kemanusiaan

Kompas.com - 02/02/2021, 20:06 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi latihan artileri jarak jauh di lokasi yang tak diketahui, dalam rilis foto dari kantor berita KCNA pada 2 Maret 2020. KCNA via REUTERSPemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi latihan artileri jarak jauh di lokasi yang tak diketahui, dalam rilis foto dari kantor berita KCNA pada 2 Maret 2020.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - PBB menyebutkan pada Selasa (2/2/2021) bahwa penyiksaan dan kerja paksa tersebar luas di penjara-penjara Korea Utara, yang merupakan kejahatan kemanusiaan.

Laporan yang dikeluarkan 7 tahun setelah penyelidikan penting PBB menemukan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan sedang dilakukan dan penjara politik masih dijalankan oleh pasukan keamanan. Namun, informasi lebih lanjut sulit didapat.

Baca juga: 7 Angkatan Laut Terkuat di Dunia, Ada Korea Utara

"Tidak hanya impunitas yang diberlakukan, tapi pelanggaran hak asasi manusia yang mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan terus dilakukan," kata Michelle Bachelet, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia dalam sebuah pernyataan.

Bachelet mendesak kekuatan dunia untuk mengejar keadilan dan mencegah pelanggaran kemanusiaan lebih lanjut. 

Laporan itu mendorong Dewan Keamanan PBB untuk mengajukan Korea Utara ke Pengadilan Kriminal Internasional untuk menuntut atau membentuk pengadilan ad hoc, seperti yang dilansir dari Reuters pada Selasa (2/2/2021).

Baca juga: Korea Utara Mulai Kembangkan Vaksin Covid-19 dari Data Ilmuwan Asing yang Diretas

"Akuntabilitas atas pelanggaran hak asasi manusia berat dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang sedang berlangsung seharusnya tidak menjadi pertimbangan kedua dalam membawa Korea Utara ke meja perundingan," kata juru bicara hak asasi manusia PBB, Ravina Shamdasani kepada Reuters.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken mengatakan di NBC News pada Senin (1/2/2021) mengatakan bahwa sanksi tambahan dapat diberikan kepada Korea Utara, dalam koordinasi dengan aliansi AS sebagai cara menuju denuklirisasi Semenanjung yang terpecah.

Blinken mengatakan bahwa hal itu adalah alat lain termasuk insentif diplomatik yang tidak ditentukan, katanya.

Baca juga: Dubes Korea Utara yang Membelot ke Korea Selatan Ternyata dari Keluarga Elite

Korea Utara menyangkal keberadaan kamp penjara politik dan Juli lalu mengecam Inggris, karena mengumumkan sanksi terhadap 2 organisasi yang menurut pemerintah Inggris terlibat dalam kerja paksa, penyiksaan dan pembunuhan di kamp tersebut.

Laporan PBB, mengutip wawancara dengan mantan tahanan, mengatakan bahwa pihaknya terus menerima, “laporan yang konsisten dan dapat dipercaya tentang penderitaan sistematis dari rasa sakit atau penderitaan fisik dan mental yang parah pada tahanan, melalui penderitaan pemukulan, posisi stres dan kelaparan di tempat-tempat penahanan.”

Baca juga: Dubes Korea Utara Membelot ke Korsel Sejak 2019, Baru Ketahuan Sekarang

Ini menegaskan kembali temuan penyelidikan PBB pada 2014, yang dipimpin oleh mantan hakim Australia Michael Kirby, dan "menunjukkan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan melalui penyiksaan terus terjadi di sistem penjara biasa," katanya.

Menurutnya, kerja paksa "yang mungkin merupakan kejahatan perbudakan terhadap kemanusiaan" juga bertahan di penjara.

Baca juga: Di Korea Utara, Menonton Drakor Bisa Dipenjara 15 Tahun


Sumber REUTERS
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ratu Elizabeth Jalankan Tugas Besar Kerajaan Pertama Sejak Kematian Pangeran Philip

Ratu Elizabeth Jalankan Tugas Besar Kerajaan Pertama Sejak Kematian Pangeran Philip

Global
Netanyahu Bela Penanganan Polisi Israel dalam Bentrokan di Yerusalem

Netanyahu Bela Penanganan Polisi Israel dalam Bentrokan di Yerusalem

Global
Silvio Berlusconi Masuk RS Lagi, Terkait Efek Samping Covid-19

Silvio Berlusconi Masuk RS Lagi, Terkait Efek Samping Covid-19

Global
Pertumbuhan Populasi China Tahun 2020 Paling Lambat sejak 1960-an

Pertumbuhan Populasi China Tahun 2020 Paling Lambat sejak 1960-an

Global
Covid-19 Nepal, Pendaki Gunung Everest Didesak Bawa Turun Tabung Oksigen Bekas

Covid-19 Nepal, Pendaki Gunung Everest Didesak Bawa Turun Tabung Oksigen Bekas

Global
Konflik Palestina-Israel: Fakta Dibalik Sengketa Berusia 100 Tahun

Konflik Palestina-Israel: Fakta Dibalik Sengketa Berusia 100 Tahun

Global
Alat Kelamin Patah saat Bercinta dengan Pacar, Harga Diri Petarung MMA Ini Terluka

Alat Kelamin Patah saat Bercinta dengan Pacar, Harga Diri Petarung MMA Ini Terluka

Global
Sebar Foto Mainan Seks dalam Tas Wanita, Satpam di China Dipecat

Sebar Foto Mainan Seks dalam Tas Wanita, Satpam di China Dipecat

Global
Wanita 58 Tahun Jatuh dari Ketinggian Lebih dari 40 Meter di Tempat Wisata Air Terjun Windin

Wanita 58 Tahun Jatuh dari Ketinggian Lebih dari 40 Meter di Tempat Wisata Air Terjun Windin

Global
Wanita Ini Tidak Sengaja Dapat 6 Dosis Vaksin Covid-19 Buatan Pfizer

Wanita Ini Tidak Sengaja Dapat 6 Dosis Vaksin Covid-19 Buatan Pfizer

Global
PBB Tanggapi Bentrok Israel dan Palestina di Masjid Al-Aqsa

PBB Tanggapi Bentrok Israel dan Palestina di Masjid Al-Aqsa

Global
Ledakan Bus di Afghanistan Jelang Gencatan Senjata Idul Fitri oleh Taliban

Ledakan Bus di Afghanistan Jelang Gencatan Senjata Idul Fitri oleh Taliban

Global
Youtuber India Tewas karena Covid-19, Video Terakhirnya Bahas Perawatan Rumah Sakit

Youtuber India Tewas karena Covid-19, Video Terakhirnya Bahas Perawatan Rumah Sakit

Global
Punya 16 Istri dan 151 Anak, Kisah Pria Ini Viral

Punya 16 Istri dan 151 Anak, Kisah Pria Ini Viral

Global
Ditemukan Katak Raksasa Seukuran Bayi Manusia, Ternyata Spesies Langka

Ditemukan Katak Raksasa Seukuran Bayi Manusia, Ternyata Spesies Langka

Global
komentar
Close Ads X