Piagam Ekstremis Besutan Presiden Perancis Ditolak 3 Kelompok Muslim

Kompas.com - 21/01/2021, 19:10 WIB
Presiden Perancis Emmanuel Macron, diapit oleh Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin, kedua kiri, berbicara di depan sekolah menengah pada Jumat 16 Oktober 2020 di Conflans Sainte-Honorine, barat laut Paris, setelah seorang guru sejarah yang membuka diskusi tentang kartun Nabi Muhammad bikinan Charlie Hebdo tewas dipenggal. AP/Abdulmonam EassaPresiden Perancis Emmanuel Macron, diapit oleh Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin, kedua kiri, berbicara di depan sekolah menengah pada Jumat 16 Oktober 2020 di Conflans Sainte-Honorine, barat laut Paris, setelah seorang guru sejarah yang membuka diskusi tentang kartun Nabi Muhammad bikinan Charlie Hebdo tewas dipenggal.

PARIS, KOMPAS.com - Tiga kelompok Muslim pada Rabu (20/1/2021) menolak piagam ekstremis yang diinisiasi oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron pejabat Perancis, setelah serangkaian serangan ekstremis.

Dalam piagam itu berisi pelarangan "menginstrumenkan" Islam untuk tujuan politik serta menegaskan kesetaraan antara pria dan wanita.

Selain itu, mengkritik praktik tindakan sunat perempuan, nikah paksa, atau "sertifikat keperawanan" untuk pengantin wanita.

Dewan Kepercayaan Muslim Prancis (CFCM), sebuah badan yang dibentuk hampir 20 tahun lalu
untuk memungkinkan dialog antara pemerintah dan komunitas Muslim, secara luas menyambut piagam tersebut.

Baca juga: Perancis Tuduh Iran Kembangkan Senjata Nuklir, Ini Jawaban Teheran

DFCM adalah 5 dari 8 federasi yang menandatangani piagam itu pada Minggu (17/1/2021).

Namun, 3 kelompok lainnya mengatakan pada Rabu (20/1/2021) bahwa mereka tidak dapat bergabung dengan rekan mereka, seperti yang dilansr dari AFP pada Rabu (20/1/2021). 

"Kami percaya bahwa bagian dan rumusan tertentu dalam teks yang dikirimkan kemungkinan akan melemahkan ikatan kepercayaan antara Muslim Perancis dan bangsa," kata 3 kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

"Lebih jauh, beberapa pernyataan merugikan kehormatan umat Islam, dengan nada menuduh dan meminggirkan," ujarnya.

Baca juga: Macron Puji Piagam Muslim Perancis untuk Lawan Ekstremisme

Macron telah mencela promosi "Islam politik" di Perancis pada November tahun lalu setelah seorang guru dipenggal di luar sekolahnya.

Guru itu telah menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya sebagai bagian dari pelajaran kebebasan berbicara.

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X