Kenapa Grasi Donald Trump “Berbeda” dari Pemimpin Dunia Lainnya?

Kompas.com - 20/01/2021, 18:26 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandai jam-jam terakhirnya di kantor kepresidenan dengan serangkaian pengampunan. AP PHOTO/EVAN VUCCIPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandai jam-jam terakhirnya di kantor kepresidenan dengan serangkaian pengampunan.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandai jam-jam terakhirnya di kantor kepresidenan dengan serangkaian pengampunan.

Bukan hanya AS, banyak pemimpin dunia lainnya memiliki hak istimewa yang sama.

Tapi pendekatan Trump dalam menggunakan kuasa pengampunan kepala negara atau grasi ini, dinilai sangat berbeda dibanding pimpinan negara lainnya.

Presiden AS lainnya juga mengeluarkan pengampunan yang bermuatan politik. Tetapi tindakan Trump dikritik oleh para ahli dan sejarawan sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pasalnya secara fokus, grasi ditujukan pada sekutu, keluarga, teman, dan pendukung.

"Tidak ada mantan presiden yang pernah mengampuni sederet tokoh yang merupakan kroninya sendiri dan telah terlibat dalam kejahatan yang berkaitan dengan presiden," kata Allan Lichtman, seorang profesor sejarah di American University, melansir The Washington Post pada Selasa (19/1/2021).

Baca juga: Pendiri WikiLeaks Julian Assange Tidak Termasuk dalam Daftar Nama yang Diampuni Trump

Pengampunan eksekutif adalah kekuatan yang umum di seluruh dunia. Hampir setiap negara memiliki kuasa pengampunan.

“Tapi penggunaan sebenarnya bervariasi di semua tempat,” kata Andrew Novak, Profesor departemen kriminologi, hukum dan masyarakat di Universitas George Mason.

Dia menjelaskan, grasi yang dalam Konstitusi AS merupakan turunan dari kekuasaan yang dimiliki penguasa Kerajaan Inggris.

Dulu, Raja akan memberikan ribuan pengampunan setiap tahun pada saat Revolusi Amerika, tapi pengampunan itu semakin langka di Inggris.

Ratu Elizabeth II telah menggunakan kekuasaan ini dalam tiga dekade terakhir sebagian besar dalam kasus anumerta. Artinya, kebanyakan hanya diberikan kepada orang yang sudah meninggal dan dianggap berjasa pada negara.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Meghan Markle Menikah Diam-diam 3 Hari sebelum Upacara Resmi

Meghan Markle Menikah Diam-diam 3 Hari sebelum Upacara Resmi

Global
Seorang Tokoh Partai NLD Myanmar Tewas di Tahanan, Diduga Disiksa

Seorang Tokoh Partai NLD Myanmar Tewas di Tahanan, Diduga Disiksa

Global
Meghan Markle Sebut Kerajaan Inggris Enggan Jadikan Anaknya Pangeran, Ini Sebabnya

Meghan Markle Sebut Kerajaan Inggris Enggan Jadikan Anaknya Pangeran, Ini Sebabnya

Global
Meghan Markle Sempat Berpikir untuk Bunuh Diri Saat Jadi Anggota Kerajaan Inggris

Meghan Markle Sempat Berpikir untuk Bunuh Diri Saat Jadi Anggota Kerajaan Inggris

Global
Diminta Rakyatnya Tinggalkan Jabatan, Presiden Paraguay Malah Minta Seluruh Menterinya Mundur

Diminta Rakyatnya Tinggalkan Jabatan, Presiden Paraguay Malah Minta Seluruh Menterinya Mundur

Global
Jelang Sidang Derek Chauvin Pembunuh George Floyd, Warga Datang Bawa Peti Mati

Jelang Sidang Derek Chauvin Pembunuh George Floyd, Warga Datang Bawa Peti Mati

Global
Gelar Misa Terakhir di Irak Sebelum Pulang, Ini Ucapan Paus Fransiskus

Gelar Misa Terakhir di Irak Sebelum Pulang, Ini Ucapan Paus Fransiskus

Global
Rakyat Swiss Izinkan Kelapa Sawit Indonesia Boleh Masuk

Rakyat Swiss Izinkan Kelapa Sawit Indonesia Boleh Masuk

Global
4 Ledakan Beruntun Mengguncang Sebuah Kamp Militer, 600 Orang Luka, 20 Tewas

4 Ledakan Beruntun Mengguncang Sebuah Kamp Militer, 600 Orang Luka, 20 Tewas

Global
Diserbu 10 Drone Houthi, Koalisi Arab Saudi Balas Serang Ibu Kota Yaman

Diserbu 10 Drone Houthi, Koalisi Arab Saudi Balas Serang Ibu Kota Yaman

Global
Arab Saudi Diserbu Drone Bersenjata Houthi, 10 Berhasil Dicegat

Arab Saudi Diserbu Drone Bersenjata Houthi, 10 Berhasil Dicegat

Global
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Muntahan Paus Harganya Rp 3,7 Miliar | Hari Kudeta Myanmar Paling Berdarah

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Muntahan Paus Harganya Rp 3,7 Miliar | Hari Kudeta Myanmar Paling Berdarah

Global
China Nyatakan Kesediaan untuk Terlibat Redakan Situasi Myanmar

China Nyatakan Kesediaan untuk Terlibat Redakan Situasi Myanmar

Global
Trump Protes Namanya Dipakai untuk Galang Dana oleh Partainya

Trump Protes Namanya Dipakai untuk Galang Dana oleh Partainya

Global
Siswa Siap Kembali ke Kelas, Inggris Bagikan 57 Juta Alat Tes Covid-19 ke Sekolah

Siswa Siap Kembali ke Kelas, Inggris Bagikan 57 Juta Alat Tes Covid-19 ke Sekolah

Global
komentar
Close Ads X