Dituduh Hina Keluarga Kerajaan Thailand, Wanita Ini Dihukum Lebih dari 43 Tahun

Kompas.com - 19/01/2021, 22:41 WIB
Raja Maha Vajiralongkorn dan Ratu Suthida menyapa pendukungnya di Bangkok, Thailand, Minggu (1/11/2020). Di bawah tekanan yang meningkat dari pengunjuk rasa yang menuntut reformasi monarki, raja dan ratu Thailand bertemu dengan ribuan pendukung yang memujanya di Bangkok, berbaur dengan warga di jalan setelah menghadiri upacara keagamaan di dalam Istana Kerajaan. AP Photo/Wason WanichakornRaja Maha Vajiralongkorn dan Ratu Suthida menyapa pendukungnya di Bangkok, Thailand, Minggu (1/11/2020). Di bawah tekanan yang meningkat dari pengunjuk rasa yang menuntut reformasi monarki, raja dan ratu Thailand bertemu dengan ribuan pendukung yang memujanya di Bangkok, berbaur dengan warga di jalan setelah menghadiri upacara keagamaan di dalam Istana Kerajaan.

BANGKOK, KOMPAS.com - Seorang wanita Thailand yang dituduh menghina keluarga kerajaan dihukum penjara pada Selasa (19/1/2021) selama lebih dari 43 tahun.

Sebuah kelompok hak hukum mengatakan hukuman itu terberat yang pernah dijatuhkan di bawah undang-undang lese majeste yang ketat di negara itu, seperti yang dilansir dari AFP pada Selasa (19/1/2021).

Putusan itu diambil saat Thailand meningkatkan penggunaan undang-undang kontroversialnya terhadap pengunjuk rasa pro-demokrasi, yang tuntutannya mencakup reformasi monarki yang sangat kuat.

Baca juga: Perayaan Natal Thailand, Gajah Santa Sebarkan Pesan tentang Covid-19

Regulasi itu digunakan untuk melindungi keluarga kerajaan dari pencemaran nama baik, penghinaan atau ancaman, pasal 112 dari hukum pidana secara rutin ditafsirkan untuk memasukkan kritik apapun terhadap monarki.

Pada Selasa, Anchan (19/1/2021) yang nama belakangnya dirahasiakan oleh pengacara hak asasi manusia untuk melindungi kerabatnya, didakwa atas 29 dakwaan lese majeste dan total ancaman penjara 87 tahun.

Baca juga: Tanpa Lockdown, Begini Cara Thailand Hadapi Lonjakan Kasus Covid-19

Pengadilan memotong separuh hukumannya karena dia mengaku, menurut kelompok Pengacara Hak Asasi Manusia Thailand, yang melacak kasus pencemaran nama baik kerajaan.

Anchan, mantan pegawai negeri, pertama kali ditangkap pada 2015 setelah dikaitkan dengan pembawa acara podcast bawah tanah yang dikenal sebagai "DJ Banpodj", seorang kritikus yang berapi-api terhadap monarki.

Dia awalnya ditahan dalam penahanan pra-sidang selama tiga tahun sebelum dibebaskan dengan jaminan.

Baca juga: Thailand Pesan 2 Juta Vaksin Sinovac, Mulai Datang Bulan Depan

Hukuman terlama sebelumnya di bawah hukum lese majeste adalah 35 tahun yang dijatuhkan kepada seorang pria pada tahun 2017.

Titipol Phakdeewanich, seorang analis politik dari Universitas Ubon Ratchathani, mengatakan putusan Anchan bisa "bermotivasi politik" untuk mengintimidasi para aktivis.

Tapi, dia mengingatkan, penerapan keras seperti itu bisa menjadi bumerang dan "menghancurkan reputasi institusi monarki di dalam dan luar negeri".

Baca juga: Dulu Dipuji Tangani Covid-19, Kini Kasus di Thailand Melonjak Lagi

Menghapus hukum lese majeste adalah salah satu tuntutan utama dari gerakan protes yang dipimpin pemuda.

Sejak demonstrasi dimulai pada pertengahan Juli, lebih dari 40 aktivis telah didakwa berdasarkan undang-undang lese majeste karena mengambil bagian dalam protes yang menuntut perbaikan pemerintahan Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha dan reformasi monarki.

Kelompok Pengacara Hak Asasi Manusia Thailand mengatakan Anchan telah mengajukan permohonan jaminan sambil menunggu banding atas hukuman tersebut.

Baca juga: Raja Thailand Menyapu Halaman Penjara Bangkok Bersama Selirnya


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sempat Bersitegang, Pemerintah China Kini Puji Jack Ma Ternyata Ini Alasannya

Sempat Bersitegang, Pemerintah China Kini Puji Jack Ma Ternyata Ini Alasannya

Global
Ramai soal Orang Shalat di Tengah Jalan, Ternyata ODGJ dan Didoakan Netizen

Ramai soal Orang Shalat di Tengah Jalan, Ternyata ODGJ dan Didoakan Netizen

Global
Viral Patung Emas Trump Muncul dengan Jas tapi Pakai Sandal Jepit

Viral Patung Emas Trump Muncul dengan Jas tapi Pakai Sandal Jepit

Global
Cerita Diplomat Rusia 34 Jam Pulang dari Korut Naik Troli, Didorong Sendiri

Cerita Diplomat Rusia 34 Jam Pulang dari Korut Naik Troli, Didorong Sendiri

Global
Reaksi Dunia: Laporan Intelijen AS Soal Pembunuhan Khashoggi dan Peran Putra Mahkota Arab Saudi

Reaksi Dunia: Laporan Intelijen AS Soal Pembunuhan Khashoggi dan Peran Putra Mahkota Arab Saudi

Global
Polisi Myanmar Berjam-jam Tembaki Pedemo Anti-Kudeta Militer

Polisi Myanmar Berjam-jam Tembaki Pedemo Anti-Kudeta Militer

Global
Biden Ungkap Pesan Terselubung dari Serangan Udara Pertama di Suriah

Biden Ungkap Pesan Terselubung dari Serangan Udara Pertama di Suriah

Global
Ini Isi Laporan Rahasia AS soal Pembunuhan Jamal Khashoggi, yang Tuding Pangeran MBS Pelakunya

Ini Isi Laporan Rahasia AS soal Pembunuhan Jamal Khashoggi, yang Tuding Pangeran MBS Pelakunya

Global
Arab Saudi Tolak Mentah-mentah Laporan Intel AS tentang Pembunuhan Jurnalis Khashoggi

Arab Saudi Tolak Mentah-mentah Laporan Intel AS tentang Pembunuhan Jurnalis Khashoggi

Global
Ini Sanksi AS kepada Arab Saudi dalam Kasus Pembunuhan Khashoggi

Ini Sanksi AS kepada Arab Saudi dalam Kasus Pembunuhan Khashoggi

Global
Laporan Intelijen AS Sebut Putra Mahkota Arab Saudi Menyetujui Pembunuhan Khashoggi

Laporan Intelijen AS Sebut Putra Mahkota Arab Saudi Menyetujui Pembunuhan Khashoggi

Global
Duta Besar Myanmar Desak PBB Lakukan 'Berbagai Cara' untuk Hentikan Kudeta Militer

Duta Besar Myanmar Desak PBB Lakukan "Berbagai Cara" untuk Hentikan Kudeta Militer

Global
Sri Lanka Akhirnya Izinkan Muslim Lakukan Penguburan Jenazah Covid-19

Sri Lanka Akhirnya Izinkan Muslim Lakukan Penguburan Jenazah Covid-19

Global
Saat Ramadhan, Pemerintah Inggris Akan Beri Vaksin Covid-19 pada Malam Hari

Saat Ramadhan, Pemerintah Inggris Akan Beri Vaksin Covid-19 pada Malam Hari

Global
Kasus Covid-19 di Kalangan Medis Kanada Naik Capai Lebih dari 60.000

Kasus Covid-19 di Kalangan Medis Kanada Naik Capai Lebih dari 60.000

Global
komentar
Close Ads X