Pengadilan Korea Selatan Perintahkan Jepang untuk Beri Kompensasi kepada Budak Seks Perang Dunia II

Kompas.com - 08/01/2021, 16:52 WIB
Ilustrasi wanita penghibur era Perang Dunia II bubuhanbanjar.wordpress.comIlustrasi wanita penghibur era Perang Dunia II

SEOUL, KOMPAS.com - Pengadilan Korea Selatan pada Jumat (8/1/2021) memerintahkan pemerintah Jepang untuk membayar kompensasi kepada 12 budak seks Perang Dunia II atau keluarga mereka.

Melansir France 24, perintah itu dikeluarkan dalam putusan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memicu kecaman langsung dari Jepang.

Pengadilan Distrik Pusat Seoul memutuskan bahwa Jepang harus membayar para korban masing-masing 100 juta won, sekitar 91.000 dollar AS (Rp1,2 miliar).

Ini adalah kasus hukum sipil pertama di Korea Selatan terhadap Tokyo, tentang para budak seks masa perang untuk pasukan Jepang yang secara halus diberi label "wanita penghibur".

Keputusan itu diambil meskipun perjanjian tahun 1965 antara Seoul dan Tokyo yang menyatakan klaim antara mereka dan warga negara mereka telah diselesaikan.

Baca juga: Kepala Tempat Perlindungan Wanita Penghibur Korea Selatan Ditemukan Tewas

Kekaisaran Jepang disebut bertanggung jawab atas sistem "wanita penghibur", ungkap pengadilan dalam putusannya.

"Penggugat, yang saat itu berusia akhir belasan atau awal 20-an, menjadi sasaran eksploitasi seksual berulang kali," demikian ungkap pernyataan.

"Hal itu merupakan tindakan ilegal terhadap kemanusiaan dan terdakwa memiliki kewajiban untuk memberi kompensasi kepada para korban atas penderitaan mental mereka."

Tokyo dan Seoul adalah sekutu utama AS, 2 negara demokrasi dan ekonomi pasar, tetapi keretakan mereka yang semakin dalam akan membuat presiden AS yang akan datang, Joe Biden dengan kebijakan luar negerinya kelimpungan.

Padahal Biden diperkirakan akan membangun front bersama dengan China dan kembali masuk pada kesepakatan nuklir bersama Korea Utara.

Baca juga: Aktivis Budak Seks PD II Korea Selatan Didakwa Gelapkan Uang Santunan

Apa tanggapan Tokyo?

Tokyo mengecam keputusan hari Jumat dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan memanggil duta besar Seoul untuk memprotes, menuntut agar pemerintah Korea Selatan segera campur tangan.

"Sangat disesalkan bahwa Pengadilan Distrik Pusat Seoul menolak prinsip kekebalan hukum," kata kementerian luar negeri Jepang dalam sebuah pernyataan. "Ini tidak bisa diterima oleh pemerintah Jepang."

Menurut para sejarawan umum, hingga 200.000 wanita, sebagian besar dari Korea tetapi juga bagian lain Asia termasuk China, telah dipaksa bekerja di rumah bordil militer Jepang selama Perang Dunia II.

Putusan pengadilan pada Jumat datang dalam proses hukum yang dimulai delapan tahun lalu dan hanya lima penggugat asli yang masih hidup, sementara yang lain digantikan oleh anggota keluarga.

Baca juga: Keadilan Mantan Budak Seks ISIS, Kisah Pengacara Perjuangkan Nasib Perempuan Yazidi


Sumber France24
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Diduga Berebut Loker Kabin Pesawat, Pria Ini Jambak Rambut dan Seret Seorang Wanita

Diduga Berebut Loker Kabin Pesawat, Pria Ini Jambak Rambut dan Seret Seorang Wanita

Global
Jerman Campur Penggunaan Vaksin Covid-19 AstraZeneca, Ganti Dosis Kedua dengan Jenis Lain

Jerman Campur Penggunaan Vaksin Covid-19 AstraZeneca, Ganti Dosis Kedua dengan Jenis Lain

Global
Pembunuh 51 Jemaah saat Shalat Jumat di Masjid Selandia Baru Minta Status Terorisnya Dikaji

Pembunuh 51 Jemaah saat Shalat Jumat di Masjid Selandia Baru Minta Status Terorisnya Dikaji

Global
Redakan Ketegangan di Ukraina, Biden Tawarkan Putin untuk Bertemu

Redakan Ketegangan di Ukraina, Biden Tawarkan Putin untuk Bertemu

Global
Khawatir Kontaminasi Radioaktif, Korsel Siap Lawan Keputusan Pembuangan Air dari Fukushima di Pengadilan Internasional

Khawatir Kontaminasi Radioaktif, Korsel Siap Lawan Keputusan Pembuangan Air dari Fukushima di Pengadilan Internasional

Global
Diduga Punya Efek Samping Serius, Vaksin AstraZeneca Dihentikan di Denmark

Diduga Punya Efek Samping Serius, Vaksin AstraZeneca Dihentikan di Denmark

Global
Penyandang Down Syndrome Diculik, Dimasukkan Peti Mati, dan Dikremasi Hidup-hidup

Penyandang Down Syndrome Diculik, Dimasukkan Peti Mati, dan Dikremasi Hidup-hidup

Global
Perempuan Berdaya: 5 Petarung Wanita dari Zaman Kuno yang Mengukir Sejarah

Perempuan Berdaya: 5 Petarung Wanita dari Zaman Kuno yang Mengukir Sejarah

Internasional
Setelah AS, Negara Sekutunya Bakal Meninggalkan Afghanistan

Setelah AS, Negara Sekutunya Bakal Meninggalkan Afghanistan

Global
Demi Kesejahteraan Hewan, Selandia Baru Larang Ekspor Hewan Ternak Hidup Lewat Laut

Demi Kesejahteraan Hewan, Selandia Baru Larang Ekspor Hewan Ternak Hidup Lewat Laut

Global
Berusia 88 Tahun, Dokter Ini Harus Terus Kerja karena 2 Anaknya Sudah Tua

Berusia 88 Tahun, Dokter Ini Harus Terus Kerja karena 2 Anaknya Sudah Tua

Global
Pemilik Kargo di Kapal Ever Given Akan Diminta Patungan Bayar Triliunan Ganti Rugi Terusan Suez

Pemilik Kargo di Kapal Ever Given Akan Diminta Patungan Bayar Triliunan Ganti Rugi Terusan Suez

Global
Bus di Mesir Terbalik dan Terbakar saat Berusaha Salib Truk, 20 Orang Tewas

Bus di Mesir Terbalik dan Terbakar saat Berusaha Salib Truk, 20 Orang Tewas

Global
Para Caleg India Gunakan Anjing Liar sebagai Papan Iklan Berjalan

Para Caleg India Gunakan Anjing Liar sebagai Papan Iklan Berjalan

Global
Spanyol Akan Membuka Kuburan Massal Berisi 33.000 Korban Perang Saudara

Spanyol Akan Membuka Kuburan Massal Berisi 33.000 Korban Perang Saudara

Global
komentar
Close Ads X