Sorotan Media China soal Penyerbuan Gedung Capitol sebagai "Keruntuhan Internal" Amerika

Kompas.com - 08/01/2021, 15:47 WIB
Massa pendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerbu Gedung Capitol di Washington DC, 6 Januari 2021. Pendukung Trump berkumpul di ibu kota untuk menghentikan Kongres AS mengesahkan kemenangan Joe Biden. AFP PHOTO/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/Samuel CorumMassa pendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerbu Gedung Capitol di Washington DC, 6 Januari 2021. Pendukung Trump berkumpul di ibu kota untuk menghentikan Kongres AS mengesahkan kemenangan Joe Biden.

BEIJING, KOMPAS.com - Penyerbuan Gedung Capitol oleh para pendukung Presiden Donald Trump mencerminkan kegagalan kepemimpinan, serta perpecahan yang dalam di masyarakat, editorial media pemerintah China pada Jumat (8/1/2021).

Ratusan pendukung Trump mengepung Capitol pada Rabu (6/1/2021) yang digambarkan Ketua DPR Nancy Pelosi sebagai "pemberontakan bersenjata melawan Amerika".

The Global Times, tabloid yang dijalankan People's Daily, surat kabar dari Partai Komunis yang berkuasa, menggambarkan kerusuhan Amerika di Gedung Capitol sebagai tanda "keruntuhan internal" yang tidak dapat dengan mudah dibalikkan.

Baca juga: Pakar: Donald Trump Kunci di Balik Kerusuhan Gedung Capitol

"Massa yang belum pernah terjadi sebelumnya di Capitol, simbol dari sistem AS, adalah hasil dari perpecahan yang parah dari masyarakat AS dan kegagalan negara untuk mengontrol pepecahan tersebut," kata media China tersebut seperti yang dilansir dari Al Jazeera pada Jumat (8/1/2021).

"Seiring berjalannya waktu dan dengan penyalahgunaan sumber daya oleh generasi politisi, sistem politik AS telah terdegradasi," kata surat kabar itu.

Kemudian, menambahkan bahwa politisi seperti itu "pantas mendapatkan kekacauan, kekerasan".

Ia juga mengecam apa yang disebutnya sebagai "standar ganda" di antara politisi AS yang menyatakan dukungan untuk pengunjuk rasa pro-demokrasi, yang memaksa masuk ke Dewan Legislatif wilayah China pada 2019.

"Di Hong Kong, aksi kekerasan digambarkan sebagai 'pemandangan indah', di AS, orang yang terlibat dalam kekacauan ini disebut 'massa'," katanya.

Baca juga: Jadi Sasaran Kerusuhan, Apa Fungsi Gedung Capitol? Ini Penjelasannya

Kesetaraan yang salah

Para pengunjuk rasa Hong Kong, di tengah demonstrasi massa menentang undang-undang ekstradisi yang diusulkan dengan pusat daratan China yang berkembang menjadi seruan untuk hak pilih universal, menerobos barikade polisi dan merusak ruang legislatif.

Media Hong Kong mendorong kembali perbandingan antara kedua peristiwa tersebut, dengan mengatakan pengunjuk rasa Hong Kong berjuang untuk lebih banyak kebebasan di kotak suara.

Halaman:

Sumber Al Jazeera
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Inilah Kampung Swiss yang Ditinggalkan Warganya

Inilah Kampung Swiss yang Ditinggalkan Warganya

Global
Berat Badan Bertambah, Wanita Ini Terpaksa Potong Cincin Berlian Senilai Rp 671 Juta

Berat Badan Bertambah, Wanita Ini Terpaksa Potong Cincin Berlian Senilai Rp 671 Juta

Global
Sidang George Floyd, Hakim Tolak Mosi Pembebasan Derek Chauvin

Sidang George Floyd, Hakim Tolak Mosi Pembebasan Derek Chauvin

Global
Pria Ini Menikah 4 Kali, 3 Kali Cerai dalam 37 Hari demi Cuti Dibayar

Pria Ini Menikah 4 Kali, 3 Kali Cerai dalam 37 Hari demi Cuti Dibayar

Global
Hendak Jual Susu Naik Sepeda Motor, Pasutri Ditembak Mati Aparat Myanmar

Hendak Jual Susu Naik Sepeda Motor, Pasutri Ditembak Mati Aparat Myanmar

Global
Setelah 454 Pasukan Tewas dalam Perang Dua Dekade, Inggris Akan Ikuti AS Tarik Pasukan dari Afganistan

Setelah 454 Pasukan Tewas dalam Perang Dua Dekade, Inggris Akan Ikuti AS Tarik Pasukan dari Afganistan

Global
Video Seorang Tentara AS Ancam dan Usir Pria Kulit Hitam

Video Seorang Tentara AS Ancam dan Usir Pria Kulit Hitam

Global
Duta Besar Myanmar untuk Inggris Pasang “Barikade” di Rumah, Takut Diusir Loyalis Junta, dan Dibunuh jika Pulang

Duta Besar Myanmar untuk Inggris Pasang “Barikade” di Rumah, Takut Diusir Loyalis Junta, dan Dibunuh jika Pulang

Global
Apakah Nasib Alibaba Jadi Peringatan bagi Perusahaan Teknologi China Lainnya?

Apakah Nasib Alibaba Jadi Peringatan bagi Perusahaan Teknologi China Lainnya?

Global
Biden Tarik Pasukan dari Afganistan, Begini Komentar Obama

Biden Tarik Pasukan dari Afganistan, Begini Komentar Obama

Global
China Tantang Menkeu Jepang Minum Air Limbah PLTN Fukushima

China Tantang Menkeu Jepang Minum Air Limbah PLTN Fukushima

Global
Berhubungan Seks di Depan Sekolah pada Siang Bolong, Sejoli Ditangkap Polisi

Berhubungan Seks di Depan Sekolah pada Siang Bolong, Sejoli Ditangkap Polisi

Global
Seorang Pria Down Syndrome di China Dibunuh dan Dikremasi untuk Gantikan Orang Lain

Seorang Pria Down Syndrome di China Dibunuh dan Dikremasi untuk Gantikan Orang Lain

Global
Belasan Dokter Ditangkap dan Didakwa oleh Junta Militer Myanmar

Belasan Dokter Ditangkap dan Didakwa oleh Junta Militer Myanmar

Global
Biden Ajak Putin Bertemu, Rusia Menganggapnya Sebagai Kemenangan

Biden Ajak Putin Bertemu, Rusia Menganggapnya Sebagai Kemenangan

Global
komentar
Close Ads X