Sudan Resmi Tanda Tangani Perjanjian Normalisasi dengan Israel

Kompas.com - 08/01/2021, 07:56 WIB
Kombinasi gambar yang dibuat pada tanggal 23 Oktober 2020 ini menunjukkan (Kiri ke Kanan) sebuah bendera Israel selama rapat umum di kota pesisir Tel Aviv pada tanggal 19 September 2020; dan bendera Sudan selama pertemuan di timur ibu kota Khartoum pada 3 Juni 2020. AFP/JACK GUEZKombinasi gambar yang dibuat pada tanggal 23 Oktober 2020 ini menunjukkan (Kiri ke Kanan) sebuah bendera Israel selama rapat umum di kota pesisir Tel Aviv pada tanggal 19 September 2020; dan bendera Sudan selama pertemuan di timur ibu kota Khartoum pada 3 Juni 2020.

KHARTOUM, KOMPAS.com - Sudan telah menandatangani kesepakatan "Abraham Accords" untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, Rabu (6/1/2021), lapor Aljazeera.

Kantor Perdana Menteri Sudan mengatakan, mereka menandatangani perjanjian itu dan mendapatkan akses ke lebih dari 1 miliar dollar Amerika Serikat (AS) dalam biaya tahunan.

Penandatanganan yang ditengahi oleh Amerika Serikat itu sebenarnya ditolak oleh partai politik Sudan.

Baca juga: Damai dengan Sudan, Delegasi Israel akan Segera Lakukan Kunjungan

Menteri Kehakiman Nasreeden Abdulbari bagaimanapun tetap menandatangani perjanjian itu dengan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin yang sedang berkunjung.

Menteri Keuangan Sudan, Hiba Ahmed, juga menandatangani sebuah nota kesepahaman di Khartoum yang dapat memberikan dana di hari yang sama kepada Sudan untuk melunasi tunggakan utangnya di Bank Dunia.

Pernyataan dari kantor pemerintah Sudan mengatakan bahwa langkah itu akan memungkinkan Sudan mendapatkan lagi akses ke lebih dari 1 miliar dollar AS dari Bank Dunia untuk kali pertama dalam 27 tahun.

Baca juga: Israel Sambut Era Baru Normalisasi dengan Sudan, Palestina Merasa Ditikam Lagi

Sementara itu, Kedutaan Besar AS di Khartoum mengatakan, perjanjian itu akan membantu Sudan lebih jauh dalam jalur transformasinya menuju stabilitas, keamanan, dan kesempatan  perekonomian.

Penandatanganan itu dilakukan lebih dari dua bulan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Sudan akan mulai menormalisasi hubungan dengan Israel.

Partai politik Sudan menolak keputusan pemerintah untuk menormalisasi hubungan dengan Israel pada saat kabar itu diumumkan.

Baca juga: Usai Dicoret dari Daftar Hitam, Sudan Diharapkan Berdamai dengan Israel

Para pejabatnya mengatakan bahwa mereka akan membentuk kelompok oposisi yang menentang perjanjian tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Partai Kongres Populer Sudan, bagian paling menonjol kedua dari koalisi politik Pasukan Kebebasan dan Perubahan (FFC) mengatakan pada Oktober lalu bahwa rakyat Sudan tidak diwajibkan menerima kesepakatan normalisasi.

Mantan Perdana Menteri Sudan Sadiq Al Mahdi juga mengecam pengumuman itu, menambahkan bahwa dia tidak ikut campur dari konferensi yang diselenggarakan pemerintah pada saat itu sebagai bentuk protes.

Baca juga: Sudan Transfer AS Rp 4,9 Triliun untuk Keluar dari Daftar Negara Terorisme


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ketegangan Meningkat, Duta Besar AS untuk Rusia Tinggalkan Moskwa

Ketegangan Meningkat, Duta Besar AS untuk Rusia Tinggalkan Moskwa

Global
Ulang Tahun Ratu Elizabeth II Hari Ini Akan Berlalu Tanpa Kemeriahan

Ulang Tahun Ratu Elizabeth II Hari Ini Akan Berlalu Tanpa Kemeriahan

Global
Ustaz Malaysia Kini Banjir Dukungan Usai Jelaskan Pandangannya atas Kontroversi Foto Bareng Selebgram Seksi

Ustaz Malaysia Kini Banjir Dukungan Usai Jelaskan Pandangannya atas Kontroversi Foto Bareng Selebgram Seksi

Global
Penindasan Kelompok Agama Minoritas di China dan Myanmar Terparah di Dunia

Penindasan Kelompok Agama Minoritas di China dan Myanmar Terparah di Dunia

Global
Mahathir Mohamad Desak Raja Malaysia Cabut Darurat Nasional

Mahathir Mohamad Desak Raja Malaysia Cabut Darurat Nasional

Global
Dinyatakan Bunuh George Floyd, Derek Chauvin Terancam Dipenjara 75 Tahun

Dinyatakan Bunuh George Floyd, Derek Chauvin Terancam Dipenjara 75 Tahun

Global
Joe Biden Lega Derek Chauvin Dinyatakan Bersalah dalam Kematian George Floyd

Joe Biden Lega Derek Chauvin Dinyatakan Bersalah dalam Kematian George Floyd

Global
Tangis Kebahagiaan Setelah Sidang Pembunuhan George Floyd Berakhir Manis

Tangis Kebahagiaan Setelah Sidang Pembunuhan George Floyd Berakhir Manis

Global
Ustaz Malaysia Dikecam karena Foto Bareng Selebgram Seksi, Ini Pembelaannya

Ustaz Malaysia Dikecam karena Foto Bareng Selebgram Seksi, Ini Pembelaannya

Global
Derek Chauvin Diputus Bersalah atas Pembunuhan George Floyd

Derek Chauvin Diputus Bersalah atas Pembunuhan George Floyd

Global
Presiden Ukraina Ajak Putin Bertemu di Garis Depan Perang

Presiden Ukraina Ajak Putin Bertemu di Garis Depan Perang

Global
[POPULER GLOBAL] Ustaz Foto Bareng Selebgram Seksi | Pangeran Willian Diinginkan Publik Gantikan Ratu Elizabeth II

[POPULER GLOBAL] Ustaz Foto Bareng Selebgram Seksi | Pangeran Willian Diinginkan Publik Gantikan Ratu Elizabeth II

Global
Otoritas Terusan Suez Bantah Klaim Operator Ekskavator yang Bebaskan Ever Given Belum Dapat Uang Lembur dan Bonus

Otoritas Terusan Suez Bantah Klaim Operator Ekskavator yang Bebaskan Ever Given Belum Dapat Uang Lembur dan Bonus

Global
[Biografi Tokoh Dunia] Osama bin Laden, Ekstremis Pendiri Al-Qaeda

[Biografi Tokoh Dunia] Osama bin Laden, Ekstremis Pendiri Al-Qaeda

Internasional
Disangka Kerja sebagai Mata-mata Putin untuk Menyebar Covid-19, Penulis Ini Tewas Mengenaskan

Disangka Kerja sebagai Mata-mata Putin untuk Menyebar Covid-19, Penulis Ini Tewas Mengenaskan

Global
komentar
Close Ads X