Pesan Damai Paus Fransiskus: Mari Kita Pikirkan Anak-anak di Yaman yang Kelaparan

Kompas.com - 02/01/2021, 07:46 WIB
Seorang ibu di Yaman menggendong bayi perempuannya yang menderita kekurangan gizi di sebuah klinik di provinsi Hajjah utara Yaman pada 18 Desember 2019. 
Perang yang telah melanda Yaman telah merenggut puluhan ribu nyawa, memicu malnutrisi yang meluas dan apa yang disebut PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. AFP/ESSA AHMEDSeorang ibu di Yaman menggendong bayi perempuannya yang menderita kekurangan gizi di sebuah klinik di provinsi Hajjah utara Yaman pada 18 Desember 2019. Perang yang telah melanda Yaman telah merenggut puluhan ribu nyawa, memicu malnutrisi yang meluas dan apa yang disebut PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

VATICAN CITY, KOMPAS.com  - Paus Fransiskus menyampaikan sebuah seruan untuk perdamaian dunia pada Jumat (1/1/ 2021) dengan menyoroti kekhawatirannya tentang Yaman, negara dengan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Yaman, telah menjadi korban dari kekerasan dan perang konflik brutal selama 6 tahun terakhir, diperparah dengan pandemi corona yang membuat warganya termasuk anak-anak kelaparan dan malnutrisi.

Dalam peristiwa yang masih hangat, setidaknya sebanyak 22 orang tewas dalam serangan di bandara Aden, Yaman pada Rabu lalu.

Baca juga: 26 Orang Tewas dan Lebih dari 60 Orang Luka-luka dalam Ledakan Jelang Tahun Baru di Yaman

"Saya mengungkapkan kesedihan dan keprihatinan saya atas meningkatnya kekerasan di Yaman, yang menyebabkan banyak korban yang tidak bersalah," kata Paus Fransiskus selama kebaktian Tahun Baru dikutip dari Middle East Eye.

"Mari kita pikirkan anak-anak di Yaman, tanpa pendidikan, tanpa obat-obatan, kelaparan. Kehidupan kini diatur perang, permusuhan, banyak hal yang merusak. Kami menginginkan perdamaian, perdamaian adalah anugerah."

Sri Paus juga menambahkan bahwa respons terhadap krisis pandemi Covid-19 menunjukkan pentingnya pembagian tugas di antara komunitas internasional.

Baca juga: PBB Peringatkan Krisis Kelaparan Parah di Yaman

"Peristiwa yang menyakitkan yang menandai perjalanan kemanusiaan tahun lalu, khususnya wabah, mengajari kita tentang bagaimana pentingnya berempati pada masalah orang lain dan berbagi keprihatinan," ujar Paus. 

Yaman telah mengalami kekacauan dan selama bertahun-tahun konflik pemberontakan Houthi merebut ibu kota dan menggulingkan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Sebuah koalisi yang didukung Barat yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah melakukan campur tangan pada Maret 2015 di Yaman, untuk menopang pemerintahan Hadi yang terkepung.

Baca juga: Wacana Joe Biden Akhiri Dukungan AS kepada Arab Saudi dalam Perang di Yaman

Sejak itu, hampir 20.000 serangan udara terjadi, situs non-militer bahkan juga diserang, seperti sekolah dan rumah sakit.

Proyek Lokasi dan Data Peristiwa Konflik Bersenjata (ACLED), sebuah LSM Amerika, telah melaporkan bahwa lebih dari 100.000 orang mungkin telah tewas akibat perang itu.

Awal pekan ini, United Nations Children's Fund (Unicef) merilis laporan tentang sekitar 12,4 juta anak Yaman yang membutuhkan perawatan kemanusiaan, karena sekitar 358.000 anak menderita malnutrisi.

Baca juga: Perjanjian Pertukaran 1.081 Tahanan jadi Harapan Penyelesaian Perang di Yaman


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Joe Biden Tekankan ke Raja Salman Kerja Sama Bilateral Kuat dan Transparan

Joe Biden Tekankan ke Raja Salman Kerja Sama Bilateral Kuat dan Transparan

Global
Dipindah dari Penjara Moskwa, Dibawa ke Mana Alexei Navalny?

Dipindah dari Penjara Moskwa, Dibawa ke Mana Alexei Navalny?

Global
Gedung Capitol Kembali Terancam Pendukung Trump Ingin Ledakkan dan Bunuh Anggota Kongres

Gedung Capitol Kembali Terancam Pendukung Trump Ingin Ledakkan dan Bunuh Anggota Kongres

Global
Raja Yordania: Selama Covid 19, Terorisme dan Ekstremisme Kian Subur

Raja Yordania: Selama Covid 19, Terorisme dan Ekstremisme Kian Subur

Global
[POPULER GLOBAL] Dokumen 'Sangat Rahasia' Peran Putra Mahkota Arab Saudi dalam Pembunuhan Khashoggi | Seorang Wanita Singapura Siksa dan Bunuh PRT

[POPULER GLOBAL] Dokumen "Sangat Rahasia" Peran Putra Mahkota Arab Saudi dalam Pembunuhan Khashoggi | Seorang Wanita Singapura Siksa dan Bunuh PRT

Global
Survei Ketakutan Warga Amerika terhadap Risiko Kematian Covid-19 Menurun

Survei Ketakutan Warga Amerika terhadap Risiko Kematian Covid-19 Menurun

Global
5 Destinasi Wisata Thailand Masuk Kelompok Pertama Peneriman Program Vaksin Covid-19

5 Destinasi Wisata Thailand Masuk Kelompok Pertama Peneriman Program Vaksin Covid-19

Global
China Setujui Pemakaian Vaksin Sinopharm dan CanSino

China Setujui Pemakaian Vaksin Sinopharm dan CanSino

Global
China dan India Berebut Pengaruh Politik Lewat Diplomasi Vaksin Covid-19

China dan India Berebut Pengaruh Politik Lewat Diplomasi Vaksin Covid-19

Global
Media Asing Ramai Beritakan Hiu Berwajah Mirip Manusia di NTT

Media Asing Ramai Beritakan Hiu Berwajah Mirip Manusia di NTT

Global
Kisah Desa yang Dihuni 3.000 Janda, Para Suami Tewas Diterkam Harimau

Kisah Desa yang Dihuni 3.000 Janda, Para Suami Tewas Diterkam Harimau

Global
Duterte Sedih atas Baku Tembak Antar-anggota Aparat Penegak Hukum Filipina

Duterte Sedih atas Baku Tembak Antar-anggota Aparat Penegak Hukum Filipina

Global
Kisah Misteri: 8 Pendaki Dilaporkan Hilang, 'Dyatlov Pass' Semakin Misterius

Kisah Misteri: 8 Pendaki Dilaporkan Hilang, "Dyatlov Pass" Semakin Misterius

Global
Diisukan Meninggal, Menteri Ini Tiba-tiba Muncul dengan Napas Terengah-engah

Diisukan Meninggal, Menteri Ini Tiba-tiba Muncul dengan Napas Terengah-engah

Global
14 Jam Mengapung di Samudera Pasifik, Pelaut Setengah Baya Berhasil Selamat

14 Jam Mengapung di Samudera Pasifik, Pelaut Setengah Baya Berhasil Selamat

Global
komentar
Close Ads X