Sumpah Komandan Iran "Lawan" Pembunuhan Jenderal Soleimani oleh AS

Kompas.com - 01/01/2021, 19:52 WIB
Seorang pria memegang gambar mendiang Komandan Pasukan Quds, Mayor Jenderal Qasem Soleimani, di tengah perayaan setelah Iran melancarkan serangan rudal terhadap pangkalan AS di Irak pada 8 Januari 2020. WANA NEWS AGENCY via REUTERSSeorang pria memegang gambar mendiang Komandan Pasukan Quds, Mayor Jenderal Qasem Soleimani, di tengah perayaan setelah Iran melancarkan serangan rudal terhadap pangkalan AS di Irak pada 8 Januari 2020.

TEHERAN, KOMPAS.com - Iran bersumpah tidak berhenti berusaha melawan pembunuhan yang telah terjadi terhadap Jenderal Qassem Soleimani setahun lalu.

Melansir The Sun pada Jumat (1/1/2021), seorang komandan senior Iran mengatakan Amerika Serikat (AS) tidak akan dapat menghalangi niat itu, ketika ketegangan meningkat menjelang peringatan pertama serangan pesawat tak berawak.

Esmail Ghaani yang menggantikan Soleimani sebagai kepala pasukan elit Quds, mengatakan pada Jumat (1/1/2021) bahwa Iran siap sedia untuk melawan pembunuhan setahun lalu.

Baca juga: Iran Akan Produksi Film Tentang Mendiang Jenderal Top Qasem Soleimani

"Dari dalam rumah Anda sendiri, mungkin muncul seseorang yang akan membalas kejahatan Anda," katanya pada acara yang disiarkan televisi untuk memeperingati hari jadi Universitas Teheran.

"Kejahatan Amerika tidak akan menghalangi pasukan Quds untuk melanjutkan jalur perlawanannya," tambahnya seperti yang dilansir dari Reuters pada Jumat (1/1/2021). 

Baca juga: Putri Qassem Soleimani: Joe Biden dan Donald Trump Sama Saja

Perwakilan dari sekutu dan gerakan regional Iran di Lebanon, Irak, Suriah, Yaman, dan Gaza juga ikut berbicara pada acara peringatan pada Jumat (1/1/2021).

Pada Kamis (31/12/2020), Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menuduh Presiden AS Donald Trump berusaha membuat dalih untuk menyerang Iran dan mengatakan Teheran akan sekuat tenaga mempertahankan diri.

Baca juga: AS Sudah Bersiap jika Iran Membalas Kematian Jenderal Qasem Soleimani

Dua pembom B-52 terbang di atas Timur Tengah pada Rabu (30/12/2020) yang menurut para pejabat AS sebagai pesan pencegahan ke Iran menjelang setahun peringatan.

Amerika Serikat membunuh Pemimpin Pasukan Quds Pengawal Revolusioner di Iraq pada 3 Januari 2020.

Washington menuduh dia mendalangi serangan oleh milisi beraliansi kepada Iran terhadap pasukan AS di wilayah tersebut.

Baca juga: Tersangka Pembunuhan Soleimani Bertambah Jadi 48 Orang

Beberapa hari setelah serangan pesawat tak berawak AS, Iran membalas dengan serangan roket di pangkalan udara Irak tempat pasukan AS ditempatkan.

Pesawat Iran dalam siaga tinggi secara keliru menembak jatuh sebuah pesawat penumpang Ukraina yang lepas landas dari Teheran.

Baca juga: Iran Gelar Peringatan Jelang 1 Tahun Kematian Jenderal Qasem Soleimani


Sumber REUTERS
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rudal Suriah Meledak Dekat Reaktor Nuklir Rahasia, Langsung Dibalas Israel

Rudal Suriah Meledak Dekat Reaktor Nuklir Rahasia, Langsung Dibalas Israel

Global
8 Penemuan Revolusioner Muslim dalam Sejarah Dunia, dari Kopi hingga Aljabar

8 Penemuan Revolusioner Muslim dalam Sejarah Dunia, dari Kopi hingga Aljabar

Internasional
Berharap Keberuntungan di Akhirat, Biksu Ini Tewas Memenggal Kepalanya Sendiri

Berharap Keberuntungan di Akhirat, Biksu Ini Tewas Memenggal Kepalanya Sendiri

Global
“Seperti Lahir Kembali,” Cerita Pria yang Akhirnya Merasakan Kebebasan Setelah 70 Tahun di Bui

“Seperti Lahir Kembali,” Cerita Pria yang Akhirnya Merasakan Kebebasan Setelah 70 Tahun di Bui

Global
Rusia Usir 10 Diplomat AS, Harus Keluar Paling Lambat 21 Mei

Rusia Usir 10 Diplomat AS, Harus Keluar Paling Lambat 21 Mei

Global
Presiden Chad Tewas Saat Perang, Anaknya Naik Memimpin Negara

Presiden Chad Tewas Saat Perang, Anaknya Naik Memimpin Negara

Global
Sejarah Tercipta, Robot NASA Sukses Membuat Oksigen di Mars

Sejarah Tercipta, Robot NASA Sukses Membuat Oksigen di Mars

Global
Misteri Tenggelamnya Kursk, Kecelakaan Kapal Selam Terparah Rusia Tewaskan 118 Kru

Misteri Tenggelamnya Kursk, Kecelakaan Kapal Selam Terparah Rusia Tewaskan 118 Kru

Internasional
Myanmar: Apa yang Bisa Diharapkan dari Pertemuan Pemimpin ASEAN

Myanmar: Apa yang Bisa Diharapkan dari Pertemuan Pemimpin ASEAN

Global
Australia Nyatakan Siap Bantu Indonesia Mencari Kapal Selam KRI Nanggala-402

Australia Nyatakan Siap Bantu Indonesia Mencari Kapal Selam KRI Nanggala-402

Global
Hotel yang Dihuni Dubes China Meledak di Pakistan

Hotel yang Dihuni Dubes China Meledak di Pakistan

Global
[POPULER GLOBAL] Dukungan untuk Ustaz Malaysia atas Kontroversi Foto | Klarifikasi Otoritas Terusan Suez atas Pembayaran Operator Ekskavator yang Bebaskan Ever Given

[POPULER GLOBAL] Dukungan untuk Ustaz Malaysia atas Kontroversi Foto | Klarifikasi Otoritas Terusan Suez atas Pembayaran Operator Ekskavator yang Bebaskan Ever Given

Global
[Biografi Tokoh Dunia] Ratu Amina, Pendekar Wanita dari Benua Hitam

[Biografi Tokoh Dunia] Ratu Amina, Pendekar Wanita dari Benua Hitam

Internasional
Berakhirnya Era Castro Setelah 6 Dekade, Partai Komunis Kuba Tunjuk Pemimpin Baru

Berakhirnya Era Castro Setelah 6 Dekade, Partai Komunis Kuba Tunjuk Pemimpin Baru

Global
Kisah Paus Terapkan Lockdown dan Prokes Ketat, Selamatkan Roma dari Pandemi Abad ke-17

Kisah Paus Terapkan Lockdown dan Prokes Ketat, Selamatkan Roma dari Pandemi Abad ke-17

Global
komentar
Close Ads X