Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 28/12/2020, 14:07 WIB

KOMPAS.com – Pembangkit listrik dari energi panas laut atau ocean thermal energy conversion (OTEC) adalah pembangkitan listrik yang memanfaatkan perbedaan suhu antara permukaan laut dengan bawah laut.

Perbedaan suhu antara permukaan laut dengan bawah laut dapat mencapai 50 derajat Celsius pada jarak vertikal minimal 90 meter.

Pada dekade pertama abad ke-21, teknologi tersebut masih dianggap eksperimental. Bahkan hingga saat ini, belum ada pembangkit listrk dari OTEC komersial yang dibangun.

Konsep OTEC pertama kali dikemukakan pada awal 1880-an oleh insinyur asal Perancis, Jacques-Arsene d'Arsonval sebagaimana dilansir dari Britannica.

Baca juga: Inspirasi Energi: Energi Arus Laut yang Kurang Dikembangkan

Konsep OTEC

D'Arsonval menjabarkan idenya berupa memanfaatkan suhu permukaan air laut untuk mendidihkan fluida kerja yang memilik titik didih di bawah titik didih air.

Jika sudah mendidih, fluida kerja berubah menjadi fluida gas atau uap dan diteruskan untuk memutar turbin. Turbin inilah yang kemudian memutar generator sehingga menghasilkan listrik.

Setelah uap dari fluida kerja tersebut memutar turbin, maka uap tersebut akan dteruskan ke bawah laut. Fluida kerja ini lantas menjadi dingin dan bentuknya berubah menjadi cair.

Fluida kerja beberbtuk cair lalu dialirkan lagi ke permukaan air laut yang hangat untuk kemudian berubah menjadi fluida gas kemudian memutar turbin kembali.

Itulah ide yang diusulkan oleh D'Arsonval di mana seluruh siklus tersebut berlangsung di dalam sistem yang tertutup.

Baca juga: Inspirasi Energi: Mengenal Energi Ombak Laut yang Potensial

Setelah D'Arsonval mengemukakan idenya, para peneliti mencoba mengembangkan konsep OTEC lain dengan sistem siklus yang terbuka.

Dalam siklus terbuka, para peneliti langsung memanfaatkan air laut, tanpa menggunakan fluida kerja sebagai perantaranya.

Air laut yang hangat dari permukaan laut dimasukkan ke dalam tangki bertekanan rendah sehingga menguap.

Uap dari air laut tersebut lalu digunakan untuk menggerakkan turbin bertekanan rendah yang kemudian menggerakkan generator sehingga mengasilkan listrik.

Selain itu, para peneliti juga mengembagkan siklus hibrida yang menggabungkan siklus OTEC yang terbuka dan siklus OTEC yang tertutup.

Dalam siklus hibrida, uap yang dihasilkan oleh air hangat yang melewati ruang vakum digunakan untuk menguapkan fluida kerja yang menggerakkan turbin.

Baca juga: Inspirasi Energi: Energi Pasang Surut Air Laut yang Melimpah di Seluruh Dunia

OTEC dengan sistem tertutup.WIKIMEDIA OTEC dengan sistem tertutup.

Pengembangan OTEC

Selama 1970-an hingga 1980-an, Amerika Serikat (AS), Jepang, dan beberapa negara lain mulai bereksperimen dengan sistem OTEC untuk mengembangkan sumber energi terbarukan yang layak.

Pada 1979, para peneliti AS menggoperasikan pembangkit listrik OTEC pertama yang mampu menghasilkan daya listrik sekitar 15 kilowatt.

Unit yang disebut Mini-OTEC tersebut menggunakan siklus tertutup yang dipasang di tongkang milik Angkatan Laut AS dan terletak beberapa kilometer di lepas pantai Hawaii.

Pada 1981 hingga 1982, perusahaan Jepang menguji pembangkit listrik OTEC siklus tertutup eksperimental lainnya.

Baca juga: Inspirasi Energi: Panas Bumi (1) Geotermal Masih Dimanfaatkan untuk Memasak di Negara-negara Ini

Proyek itu terletak di Nauru, dan menghasilkan daya listrik sebesar 35 kilowatt.

Sejak saat itu, para peneliti terus melakukan pekerjaan pengembangan untuk meningkatkan penukar panas dan menemukan cara untuk mengurangi korosi oleh air laut.

Pada 1999, Laboratorium Energi Alam Otoritas Hawaii (NELHA) telah menciptakan dan pembangkit listrik OTEC dengan kapasitas terpasang 250 kilowatt.

Baca juga: Inspirasi Energi: Panas Bumi (2) Pemanfaatan Geotermal Sebagai Penghangat Ruangan

OTEC dengan sistem terbuka.WIKIMEDIA OTEC dengan sistem terbuka.

Potensi OTEC

Prospek penerapan pembangkit listrik OTEC diprediksi cukup cerah, terutama di negara kepulauan dan di negara-negara berkembang di kawasan tropis.

Pasalnya, wilayah tersebut memiliki kondisi yang paling menguntungkan untuk penerapan pembangkit listrik OTEC.

Diperkirakan bahwa air laut di kawasan tropis menyerap radiasi matahari yang kandungan panasnya setara sekitar 250 miliar barel minyak setiap hari.

Selain menghasilkan energi listrik, OTEC juga menghasilkan beberapa produk sampingan yang bermanfaat.

Sistem siklus terbuka dan hibrid dari OTEC juga bisa dimanfaatkan untuk desalinasi air laut, sehingga menghasilkan garam dan air bersih.

Baca juga: Inspirasi Energi: Panas Bumi (3) Daftar Negara dengan PLTP Terbesar, Indonesia Peringkat 2

Selain itu, infrastruktur OTEC juga bisa digunakan sebagai akses untuk melacak elemen yang ada di air laut laut dalam.

Namun demikian, teknologi OTEC disebut cukup mahal karena membutuhkan dana yang besar untuk membangun OTEC sebelum listrik dapat dihasilkan.

OTEC juga membutuhkan fasilitas penunjang terapung yang cukup banyak. Namun, setelah dapat dioperasikan, OTEC dapat menghasilkan listrik yang relatif murah.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sebuah studi yang dilakukan pada 2005 menyebutkan bahwa biaya listrik yang dihasilkan OTEC adalah 7 sen dollar AS (Rp 9.000) per kilowatt jam.

Angka tersebut didasarkan pada asumsi fasilitas OTEC berkapasitas terpasang 100 megawatt yang terletak sekitar 10 kilometer di lepas pantai Hawaii.

Baca juga: Inspirasi Energi: Bagaimana Pandemi Covid-19 Menganggu Pengembangan Energi Angin?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+