Parlemen Rusia Setujui RUU Tindak Penyebar Fitnah Online, Apa Ancaman Hukumannya?

Kompas.com - 24/12/2020, 16:00 WIB
RUU Tindak Penyebar Fitnah Online Rusia masih membutuhkan persetujuan majelis tinggi dan tanda tangan Presiden Vladimir Putin untuk menjadi undang-undang.
AFP PHOTO/MIKHAIL KLIMENTYEVRUU Tindak Penyebar Fitnah Online Rusia masih membutuhkan persetujuan majelis tinggi dan tanda tangan Presiden Vladimir Putin untuk menjadi undang-undang.

MOSKWA, KOMPAS.com - Parlemen Rusia menyetujui rancangan undang-undang (RUU) tentang hukuman penjara bagi orang-orang yang dinyatakan bersalah membuat komentar fitnah di internet atau di media.

Persetujuan itu diberikan setelah RUU melalui pembahasan ketiga dan terakhirnya pada Rabu (23/12/2020) melansir Reuters.

RUU itu masih membutuhkan persetujuan Majelis Tinggi dan tanda tangan Presiden Rusia Vladimir Putin, untuk menjadi undang-undang.

Namun, penyusunannya telah menuai kritik dari penentang Kremlin. RUU ini dikhawatirkan dapat digunakan pihak berwenang untuk memenjarakan kritik, dan membungkam perbedaan pendapat.

Baca juga: Sah, Putin Bakal Kebal Hukum jika Tak Lagi Menjabat Jadi Presiden Rusia

Di bawah rancangan undang-undang ini, seseorang yang dihukum karena fitnah di internet dapat dipenjara hingga dua tahun, dan didenda hingga 1 juta rubel (13.300 dollar AS) setara Rp 188 juta.

Orang-orang yang dituduh membuat tuduhan "fitnah" terkait pemerkosaan atau kejahatan berat lainnya dapat menghadapi hukuman lima tahun di balik jeruji besi, menurut teks RUU tersebut.

Kritikus Kremlin, Alexei Navalny menyarankan bahwa jika RUU itu menjadi undang-undang, RUU itu harus digunakan melawan otoritas Rusia.

“Saya ingat betul bagaimana Putin menyatakan kemenangan atas virus corona musim panas ini,” tulis Navalny di Twitter. Dia mengacu pada lonjakan infeksi Covid-19 yang terjadi segera setelah pernyataan Presiden Rusia itu disampaikan.

Baca juga: Putin Puji Intel Rusia, Saat Dituduh AS Jadi Dalang Peretasan

Rusia telah memperkenalkan undang-undang internet yang lebih ketat dalam beberapa tahun terakhir. Aturan itu mengharuskan mesin pencari menghapus beberapa hasil pencarian. Termasuk mengatur penyedia jasa layanan pesan untuk berbagi kunci enkripsi dengan Badan Keamanan Negara.

Tahun lalu, Rusia memberlakukan denda baru bagi orang-orang yang menghina pihak berwenang secara online, atau menyebarkan berita palsu.

Baca juga: Presiden Putin: Alexei Navalny Akan Mati, Jika Rusia Dalang yang Meracuninya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

China Diam-diam Lockdown Area Dekat Ibu Kota Jelang Olimpiade Beijing

China Diam-diam Lockdown Area Dekat Ibu Kota Jelang Olimpiade Beijing

Global
Momen Pilu Meledaknya Pesawat Challenger, Peristiwa Bersejarah Berujung Petaka

Momen Pilu Meledaknya Pesawat Challenger, Peristiwa Bersejarah Berujung Petaka

Global
Elon Musk Bersedia Makan Happy Meal di TV, asal McDonald's Terima Pembayaran Dogecoin

Elon Musk Bersedia Makan Happy Meal di TV, asal McDonald's Terima Pembayaran Dogecoin

Global
Thailand Akan Bagikan Pil KB dan Kondom Gratis ke Remaja

Thailand Akan Bagikan Pil KB dan Kondom Gratis ke Remaja

Global
Sejumlah Negara yang Sukses Memindahkan Ibu Kota, dari Brasil sampai AS

Sejumlah Negara yang Sukses Memindahkan Ibu Kota, dari Brasil sampai AS

Global
Pria Ini Mengeklaim sebagai Donor Sperma Paling Produktif di Dunia, Sudah Jadi 'Ayah' 129 Anak

Pria Ini Mengeklaim sebagai Donor Sperma Paling Produktif di Dunia, Sudah Jadi "Ayah" 129 Anak

Global
ART Asal Indonesia Dipenjara di Singapura karena Sebar Video Saat Memandikan Majikannya

ART Asal Indonesia Dipenjara di Singapura karena Sebar Video Saat Memandikan Majikannya

Global
Keunikan Methuselah, Ikan Akuarium Tertua, Hidup sejak 1930-an

Keunikan Methuselah, Ikan Akuarium Tertua, Hidup sejak 1930-an

Global
Studi: Kasus Omicron Sebagian Besar Menjangkiti Orang yang Pernah Terinfeksi Covid-19

Studi: Kasus Omicron Sebagian Besar Menjangkiti Orang yang Pernah Terinfeksi Covid-19

Global
Inggris Sebut Vaksin Booster Bisa Cegah Kematian akibat Omicron hingga 95 Persen

Inggris Sebut Vaksin Booster Bisa Cegah Kematian akibat Omicron hingga 95 Persen

Global
Dituduh Pungut Kepingan F-35, China: Kami Tidak Tertarik

Dituduh Pungut Kepingan F-35, China: Kami Tidak Tertarik

Global
Lagu-lagu Neil Young Dihapus dari Spotify, Imbas Ultimatum Disinformasi Covid-19

Lagu-lagu Neil Young Dihapus dari Spotify, Imbas Ultimatum Disinformasi Covid-19

Global
Korea Utara Mengaku Luncurkan Rudal Lagi, Total 6 Uji Coba dalam Sebulan

Korea Utara Mengaku Luncurkan Rudal Lagi, Total 6 Uji Coba dalam Sebulan

Global
Israel Sediakan Vaksin Covid-19 Dosis Keempat untuk Orang Rentan 18 Tahun ke Atas

Israel Sediakan Vaksin Covid-19 Dosis Keempat untuk Orang Rentan 18 Tahun ke Atas

Global
Ukraina Sebut Pasukan Rusia Tak Cukup Lancarkan Serangan Besar-besaran

Ukraina Sebut Pasukan Rusia Tak Cukup Lancarkan Serangan Besar-besaran

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.