NASA Diduga Suntik Mati 27 Monyet di Pusat Penelitiannya

Kompas.com - 23/12/2020, 14:51 WIB
Simpanse Ham adalah salah satu satwa yang digunakan NaSA dalam misi penerbangan ruang angkasa suborbital pertama Amerika pada 31 Januari 1961. AFP PHOTO/STFSimpanse Ham adalah salah satu satwa yang digunakan NaSA dalam misi penerbangan ruang angkasa suborbital pertama Amerika pada 31 Januari 1961.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Sebanyak 27 monyet yang ditempatkan di fasilitas NASA dilaporkan dibunuh alih-alih dikirim ke tempat perlindungan. Seorang anggota parlemen New York menuntut untuk mengetahui alasan tindakan ini.

“Semua 27 primata di Pusat Penelitian Ames NASA di Silikon Valley California diberi obat dengan dosis mematikan untuk membunuh mereka pada 2 Februari 2019,” kata Guardian pada Selasa (22/12/2020).

Menurut dokumen yang diperoleh Guardian berdasarkan Undang-Undang Kebebasan Informasi, primata itu sudah menua dan 21 ekor menderita penyakit Parkinson.

Dalam surat 8 September yang diperoleh The Post, Anggota Parlemen New York Kathleen Rice, mengutip "Catatan Disposisi Hewan 2018-2019" milik NASA. Dia meminta Administrator NASA Jim Bridenstine untuk memberi klarifikasi atas pembantaian tersebut.

Baca juga: Peluncuran 2 Astronot NASA dengan SpaceX, Trump Beri Pujian

Rice mengatakan beberapa primata hanya mengalami efek dari penuaan, dan ditempatkan tanpa batas waktu di laboratorium, meskipun tidak digunakan dalam protokol penelitian terbaru.

"Jika tidak ada pertimbangan agar mereka bisa menjalani usia pensiun di tempat perlindungan satwa, tolong jelaskan mengapa ini terjadi?," tulisnya.

"Saya khawatir bahwa kegagalan untuk mempertimbangkan pensiunan monyet-monyet ini ke tempat perlindungan berdasarkan kasus per kasus, dan malah menidurkan seluruh koloni, adalah perilaku memandang rendah hak hidup hewan."

Para pendukung hak-hak hewan juga marah dengan kabar yang mengejutkan itu.

John Gluck, pakar etika hewan di University of New Mexico, mengatakan primata tampaknya tidak dianggap layak mendapat kesempatan untuk hidup di suaka.

“Memilih memusnahkan ketimbang ekspresi moral sederhana. Ini memalukan untuk mereka yang bertanggung jawab, ”katanya.

Baca juga: NASA Akan Beri Nama Kantor Pusatnya Mary Jackson, Siapakah Dia?

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Perempuan Berdaya: 5 Petarung Wanita dari Zaman Kuno yang Mengukir Sejarah

Perempuan Berdaya: 5 Petarung Wanita dari Zaman Kuno yang Mengukir Sejarah

Internasional
Setelah AS, Negara Sekutunya Bakal Meninggalkan Afghanistan

Setelah AS, Negara Sekutunya Bakal Meninggalkan Afghanistan

Global
Demi Kesejahteraan Hewan, Selandia Baru Larang Ekspor Hewan Ternak Hidup Lewat Laut

Demi Kesejahteraan Hewan, Selandia Baru Larang Ekspor Hewan Ternak Hidup Lewat Laut

Global
Berusia 88 Tahun, Dokter Ini Harus Terus Kerja karena 2 Anaknya Sudah Tua

Berusia 88 Tahun, Dokter Ini Harus Terus Kerja karena 2 Anaknya Sudah Tua

Global
Pemilik Kargo di Kapal Ever Given Akan Diminta Patungan Bayar Triliunan Ganti Rugi Terusan Suez

Pemilik Kargo di Kapal Ever Given Akan Diminta Patungan Bayar Triliunan Ganti Rugi Terusan Suez

Global
Bus di Mesir Terbalik dan Terbakar saat Berusaha Salib Truk, 20 Orang Tewas

Bus di Mesir Terbalik dan Terbakar saat Berusaha Salib Truk, 20 Orang Tewas

Global
Para Caleg India Gunakan Anjing Liar sebagai Papan Iklan Berjalan

Para Caleg India Gunakan Anjing Liar sebagai Papan Iklan Berjalan

Global
Spanyol Akan Membuka Kuburan Massal Berisi 33.000 Korban Perang Saudara

Spanyol Akan Membuka Kuburan Massal Berisi 33.000 Korban Perang Saudara

Global
Ever Given Masih Ditahan, Pemilik Kapal Berusaha Nego Harga Pembebasan dari Terusan Suez

Ever Given Masih Ditahan, Pemilik Kapal Berusaha Nego Harga Pembebasan dari Terusan Suez

Global
Identitas Polisi Penembak Daunte Wright Terungkap Bernama Kimberly Potter

Identitas Polisi Penembak Daunte Wright Terungkap Bernama Kimberly Potter

Global
Jepang: Penolakan Pembuangan Air Limbah PLTN Fukushima ke Laut Tidak Ilmiah

Jepang: Penolakan Pembuangan Air Limbah PLTN Fukushima ke Laut Tidak Ilmiah

Global
Pangeran Philip Meninggal, Meghan Markle Siap 'Maafkan' Kerajaan Inggris

Pangeran Philip Meninggal, Meghan Markle Siap "Maafkan" Kerajaan Inggris

Global
Wanita India Mengaku Bakal Dinikahi Pangeran Harry, Ingin Si Bangsawan Ditahan

Wanita India Mengaku Bakal Dinikahi Pangeran Harry, Ingin Si Bangsawan Ditahan

Global
Dilarang Akses Alquran, Alexei Navalny Bersumpah Tuntut Petugas Penjara

Dilarang Akses Alquran, Alexei Navalny Bersumpah Tuntut Petugas Penjara

Global
Gara-gara Curi 2 Kemeja, Pria Kulit Hitam Dipenjara 20 Tahun

Gara-gara Curi 2 Kemeja, Pria Kulit Hitam Dipenjara 20 Tahun

Global
komentar
Close Ads X