Kompas.com - 12/12/2020, 13:25 WIB
Langit biru terlihat dari kawasan Gatot Subroto Jakarta, Rabu (8/4/2020). Sepinya aktivitas warga Ibu Kota karena pembatasan sosial membuat langit Jakarta  cerah dengan tingkat polusi yang rendah. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOLangit biru terlihat dari kawasan Gatot Subroto Jakarta, Rabu (8/4/2020). Sepinya aktivitas warga Ibu Kota karena pembatasan sosial membuat langit Jakarta cerah dengan tingkat polusi yang rendah.

LONDON, KOMPAS.com - Emisi karbon dioksida dunia tercatat turun sebesar 7 persen tahun ini akibat pandemi yang mengunci semua negara. Angka awal ini menunjukan penurunan terbesar yang pernah ada, melansir AP pada Jumat (11/12/2020).

Proyek Karbon Global, sebuah kelompok otoritatif yang terdiri dari puluhan ilmuwan internasional yang melacak emisi, menghitung bahwa dunia akan melepaskan 34 miliar metrik ton karbon dioksida ke udara pada 2020.

Jumlah itu turun dari 36,4 miliar metrik ton pada 2019, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan Kamis di jurnal Earth System Science Data.

Para ilmuwan mengatakan penurunan ini terutama karena orang-orang tinggal di rumah, lebih sedikit bepergian dengan mobil dan pesawat, dan emisi diperkirakan akan melonjak kembali setelah pandemi berakhir.

Baca juga: PBB: Meski Pandemi, Emisi Gas Rumah Kaca Tembus Rekor Tertinggi

Transportasi darat menghasilkan sekitar seperlima dari emisi karbon dioksida, gas hasil aktivitas manusia yang dapat memerangkap panas.

“Tentu saja, pembatasan sosial atau penguncian wilayah (lockdown) sama sekali bukan cara untuk mengatasi perubahan iklim,” ujar Corinne LeQuere, seorang ilmuwan iklim di Universitas East Anglia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kelompok ilmuwan yang sama beberapa bulan lalu memperkirakan penurunan emisi dari 4 hingga 7 persen, tergantung pada perkembangan Covid-19.

Gelombang virus korona kedua dan pengurangan perjalanan yang berkelanjutan mendorong penurunan menjadi 7 persen, kata LeQuere.

Emisi karbon terutama turun signifikan hingga 12 persen di Amerika Serikat dan 11 persen di Eropa, tetapi hanya 1,7 persen di China.

Diduga, penurunan yang sangat sedikit itu terjadi karena China melakukan penguncian wilayah lebih awal dengan infeksi gelombang kedua yang lebih sedikit.

Baca juga: 11 Negara Bagian di AS Desak Aturan Emisi Pesawat Terbang yang Lebih Ketat

“Selain itu berbeda dengan negara lain, emisi China lebih berbasis industri yang tidak terlalu terpengaruh aktivitasnya seperti sektor transportasi,” kata LeQuere.

Perhitungan berdasarkan laporan yang merinci penggunaan energi, produksi industri dan jumlah mobilitas harian ini diakui akurasinya oleh para ilmuwan lain.

Bahkan dengan penurunan pada tahun 2020, dunia rata-rata mengeluarkan 1.075 metrik ton karbon dioksida ke udara setiap detik.

Angka akhir untuk 2019 yang diterbitkan dalam studi yang sama menunjukkan bahwa dari 2018 hingga 2019 emisi gas rumah kaca hanya meningkat 0,1 persen, jauh lebih kecil daripada lonjakan tahunan dalam satu atau dua dekade lalu yang sekitar 3 persen .

“Bahkan dengan emisi yang diperkirakan akan meningkat setelah pandemi,” para ilmuwan bertanya-tanya apakah 2019 menjadi puncak polusi karbon, kata LeQuere.

Baca juga: Emisi Gas Berbahaya di AS Lebih Banyak Ditimbulkan oleh Para Orang Kaya

“Kita pasti sangat dekat dengan puncak emisi, jika kita bisa menjaga komunitas global tetap bersama,” kata Direktur Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa Achim Steiner.

Chris Field, direktur Institut Lingkungan Stanford Woods, berpikir emisi akan meningkat setelah pandemi. Namun ia optimistis masyarakat sekarang sudah belajar beberapa cara yang dapat membantu mengurangi emisi di masa depan.

“Misalnya, ketika orang-orang menjadi ahli dalam pekerjaan jarak jauh beberapa hari dalam seminggu atau menyadari bahwa mereka tidak memerlukan terlalu banyak perjalanan bisnis, kita mungkin melihat penurunan emisi di masa depan terkait perilaku,” ujar Chris Field.


Sumber AP
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X