Demo di Perancis Berakhir Bentrok, Massa Bakar Kendaraan dan Hancurkan Teras Toko

Kompas.com - 06/12/2020, 10:21 WIB
Demonstran meninggalkan arena kerusuhan di sekitar Place de la Republique setelah aksi demonstrasi pada Sabtu (5/12/2020) di Paris, Perancis. Ribuan orang turun ke jalan  menentang rancangan undang-undang keamanan. Kerusuhan dengan cepat meningkat Paris ketika penyusup membakar beberapa mobil, memecahkan jendela, dan melemparkan proyektil ke arah polisi. AP Photo/Lewis JolyDemonstran meninggalkan arena kerusuhan di sekitar Place de la Republique setelah aksi demonstrasi pada Sabtu (5/12/2020) di Paris, Perancis. Ribuan orang turun ke jalan menentang rancangan undang-undang keamanan. Kerusuhan dengan cepat meningkat Paris ketika penyusup membakar beberapa mobil, memecahkan jendela, dan melemparkan proyektil ke arah polisi.

PARIS, KOMPAS.com – Aksi unjuk rasa di Perancis yang menentang rancangan undang-undang keamanan berujung bentrok.

Puluhan orang berkerudung melemparkan barang-barang ke arah polisi anti-huruhara di Paris, Perancis, pada Sabtu (5/12/2020) malam waktu setempat.

Sekelompok orang juga membakar kendaraan dan menghancurkan beberapa teras toko sebagaimana dilansir dari Reuters.

Polisi membalas kericuhan dengan tembakan gas air mata dan berulang kali menuduh bentrokan tersebut dipicu oleh oknum pembuat onar selama hampir tiga jam.

Sekelompok orang juga tampak menggeledah kantor cabang sebuah bank, melemparkan tumpukan dokumen ke kobaran api di luar gedung.

Baca juga: Terlibat Kasus Pedofil Terbesar di Perancis, Dokter Bedah Dipenjara 15 Tahun

Aksi demonstrasi juga berlangsung tak hanya di Paris, tapi juga di beberapa kota di Perancis seperti Marseille, Lyon, Lille, dan lainnya.

Mereka menentang pembahasan rancangan undang-undang keamanan yang dicanangkan Presiden Perancis Emmanuel Macron karena dianggap membatasi kebebasan sipil.

Awalnya, aksi protes berjalan damai di Paris. Ribuan orang berjalan dan beberapa di antara mereka membawa spanduk bertuliskan "Perancis, tanah polisi" dan "Cabut undang-undang keamanan".

Polisi Paris mengatakan kepada BFM TV bahwa sekitar 500 "pelaku kejahatan" telah menyusup ke dalam massa aksi.

Sejak bentrokan pecah hingga saat ini, sebanyak 30 orang telah ditahan dan ditangkap polisi.

Baca juga: 76 Masjid di Perancis yang Diduga Promosikan Separatisme Terancam Ditutup

Sebelumnya, Perancis dilanda gelombang protes setelah pemerintah memperkenalkan rancangan undang-undang keamanan di Parlemen Perancis.

Rancangan undang-undang itu bertujuan untuk meningkatkan pengawasan kepada individu dan membatasi peredaran gambar petugas kepolisian di media dan internet.

Rancangan undang-undang itu adalah bagian dari upaya Macron untuk memperketat aturan dan ketertiban umum menjelang pemilihan umum pada 2022.

Baca juga: Pengadilan Perancis Minta Rumah Ibadah Pertimbangkan Jumlah Jemaat di Tengah Virus Corona

Reaksi publik

Namun rancangan undang-undang keamanan tersebut memicu reaksi publik.

Pemukulan seorang pria kulit hitam, produser musik Michel Zecler, oleh beberapa petugas polisi pada akhir November meningkatkan kemarahan publik.

Insiden itu terungkap setelah rekaman dari CCTV dan rekaman dari kamera ponsel tentang pemukulan tersebut beredar luas secara online.

Menanggapi kemarahan publik, partai berkuasa di Perancis mengatakan pihaknya akan merevisi sejumlah poin yang dianggap membatasi hak untuk mengedarkan foto petugas polisi.

Namun, langkah tersebut dinilai tidak cukup oleh publik.

Baca juga: Selain Pukuli Pria Kulit Hitam, Ini 5 Kasus Kontroversi Polisi di Perancis

“Kami sedang menuju pembatasan kebebasan yang semakin signifikan. Tidak boleh ada pembenaran,” kata warga Paris, Karine Shebabo.

Pengunjuk rasa lainnya, Xavier Molenat, mengatakan Perancis berupaya mengekang kebebasan sipil namun ironisnya mengumbar pentingnya kebebasan sipil kepada dunia internasional.

Macron mengakui pada Jumat (4/12/2020) bahwa orang kulit berwarna lebih mungkin dihentikan oleh polisi untuk diperiksa identitasnya daripada kulit putih.

Dia mengatakan sebuah platform online akan dibuat bagi warga untuk mencatat pencarian yang tidak beralasan.

Pernyataan presiden direspons dengan kemarahan oleh petugas kepolisian. Serikat Anggota Kepolisian mengatakan komentar yang dilontarkan Macron tersebut memalukan.

Serikat Anggota Kepolisian juga menyangkal tuduhan rasis yang dialamatkan kepada polisi.

Baca juga: 4 Polisi Perancis Pukuli Pria Kulit Hitam, Diduga Bermotif Rasis


Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fasilitas Secret Service Anak-anak Trump Usai Akhir Jabatan Rp 2 Miliar per Bulan, Ditanggung Pajak Negara

Fasilitas Secret Service Anak-anak Trump Usai Akhir Jabatan Rp 2 Miliar per Bulan, Ditanggung Pajak Negara

Global
Cerita Pembelot Korut Lolos dari Perbudakan dan Kelaparan, Kini Ikut Pemilu di Inggris

Cerita Pembelot Korut Lolos dari Perbudakan dan Kelaparan, Kini Ikut Pemilu di Inggris

Global
Temuan Langka Lampu Minyak Lengkap dengan Sumbu Berusia 2.000 Tahun di Israel

Temuan Langka Lampu Minyak Lengkap dengan Sumbu Berusia 2.000 Tahun di Israel

Global
AL AS Sita Ribuan Senjata Ilegal Buatan Rusia dan China di Laut Arab

AL AS Sita Ribuan Senjata Ilegal Buatan Rusia dan China di Laut Arab

Global
Pemerintahan Trump Ketahuan Intip Telepon 3 Jurnalis Washington Post

Pemerintahan Trump Ketahuan Intip Telepon 3 Jurnalis Washington Post

Global
Kastil Drakula Jadi Tempat Vaksinasi Covid-19 untuk Turis

Kastil Drakula Jadi Tempat Vaksinasi Covid-19 untuk Turis

Global
Covid-19 India Makin Ganas, Pensiunan Tenaga Kesehatan Militer Direkrut

Covid-19 India Makin Ganas, Pensiunan Tenaga Kesehatan Militer Direkrut

Global
KBRI Moskwa Gelar Final Permira Saat Hari Pendidikan Nasional

KBRI Moskwa Gelar Final Permira Saat Hari Pendidikan Nasional

Global
Para Pemimpin Islam: Salahuddin Ayyubi dan Kisah Kepemimpinan Selama Perang Salib

Para Pemimpin Islam: Salahuddin Ayyubi dan Kisah Kepemimpinan Selama Perang Salib

Internasional
Putin Bersumpah Bela Kepentingan Nasional dan Mengecam 'Russophobia' dalam Perayaan Kemenangan Perang Dunia II

Putin Bersumpah Bela Kepentingan Nasional dan Mengecam "Russophobia" dalam Perayaan Kemenangan Perang Dunia II

Global
Calon Tentara AS Bajak Bus Sekolah, Malah Pusing Anak-anak Banyak Tanya

Calon Tentara AS Bajak Bus Sekolah, Malah Pusing Anak-anak Banyak Tanya

Global
Dua Pria Lemparkan Kantong Penuh Kecoak ke Restoran, Bertepatan Perjamuan Polisi

Dua Pria Lemparkan Kantong Penuh Kecoak ke Restoran, Bertepatan Perjamuan Polisi

Global
Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Internasional
Diplomat AS, China, dan Rusia Desak Kerja Sama, tapi Masih Bertikai

Diplomat AS, China, dan Rusia Desak Kerja Sama, tapi Masih Bertikai

Global
China Angkat Suara Setelah Roketnya Jatuh di Samudra Hindia

China Angkat Suara Setelah Roketnya Jatuh di Samudra Hindia

Global
komentar
Close Ads X