Universitas Murdoch Akan Hentikan Program Bahasa Indonesia, Ada Apa?

Kompas.com - 03/12/2020, 16:36 WIB
La Trobe University di Melbourne sudah menawarkan program Bahasa Indonesia selama lebih dari 31 tahun. Facebook: La Trobe Bahasa Indonesia Students AssociationLa Trobe University di Melbourne sudah menawarkan program Bahasa Indonesia selama lebih dari 31 tahun.

KOMPAS.com - Dilansir dari ABC, Murdoch University mengatakan mereka telah mengambil "keputusan yang sulit" untuk menghentikan tiga disiplin ilmu, yakni Bahasa Indonesia, teater, serta drama dan radio.

Ada sejumlah alasan lain yang mempengaruhi rencana ini, seperti tantangan di tengah pandemi Covid-19, perubahan model pembiayaan untuk universitas oleh Pemerintah Federal, serta memastikan jika program yang ditawarkan bisa terus berlanjut.

"Kami menyesali rencana penangguhan penawaran program kuliah bahasa Indonesia ini, namun dengan kurang dari sepuluh orang yang mendaftar setiap tahunnya selama tiga tahun terakhir, maka sulit dilakukan," ujar juru bicara Murdoch University.

Rencana penutupan program bahasa Indonesia di Murdoch University ini hanya selang beberapa pekan setelah La Trobe University di Melbourne yang juga mengumumkan akan menghentikan program bahasa Indonesia di tahun depan.

Asosiasi mahasiswa kelas bahasa Indonesia mengeluarkan petisi online untuk menyelamatkan program yang sudah ditawarkan sejak tahun 1989.

Hingga saat ini sudah lebih dari dua ribu orang yang mendukung dan menandatangani petisi tersebut, termasuk dari warga Indonesia yang tinggal di Australia.

Baca juga: Lawan China, Sejumlah Politisi Dunia Ajak Publik Minum Wine Australia

Rencana yang hanya melihat 'jangka pendek'

Profesor Emeritus David T Hill yang pernah mengajar Bahasa Indonesia di Murdoch University selama 25 tahun mengaku rencana tersebut "horor dan mengejutkan".

"Sebuah universitas yang memiliki program bahasa Indonesia yang sudah begitu lama dan terpandang, kemudian mengambil tindakan tersebut, jelas bertentangan dengan kepentingan Australia," ujarnya.

Menurutnya mempelajari budaya dan bahasa Indonesia dari Australia Barat sangatlah penting, karena negara bagian tersebut menjadi salah satu pintu gerbang terdekat Australia dengan Indonesia.

"Penting untuk diketahui bahwa Murdoch University telah menghasilkan banyak lulusan sangat sukses, yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat Australia," jelas Professor Hill yang sekarang sudah pensiun.

Ia mengatakan sejak Murdoch University menawarkan program Bahasa Indonesia di tahun 1975, sudah banyak lulusannya yang bekerja di bidang bisnis, akademis, dan pemerintahan, termasuk di Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) serta departemen pemerintahan lainnya.

"Para alumni program bahasa Indonesia sangat sukses dan memberikan kontribusi yang sangat kuat bagi pemahaman Australia tentang Indonesia."

Professor Hill sangat menyayangkan rencana Murdoch University yang disebutnya hanya melihat "jangka pendek", padahal menurutnya masa depan Australia justru terletak di negara-negara Asia terdekatnya seperti Indonesia.

Baca juga: Kisah Mahasiswa Indonesia Pertama yang Tiba di Australia sejak Perbatasannya Ditutup

Australia pernah berkomitmen soal bahasa Indonesia

Di tahun 2012, pemerintah Australia yang saat itu dikepalai perdana menteri Julia Gillard sebenarnya pernah mengeluarkan sebuah dokumen yang dinamakan 'Asian Century White Paper'.

Dalam dokumen tersebut disebutkan perlunya meningkatkan literasi bahasa dari negara-negara Asia agar dapat terus menjalin hubungan politik dan ekonomi Australia dengan kawasan Asia Pasifik.

Ada empat prioritas bahasa yang perlu dipelajari orang Australia yang disebutkan dalam dokumen tersebut, yakni bahasa Mandarin, India, Indonesia, dan Jepang.

Namun terlepas dari desakan pentingnya menjaga hubungan dengan negara tetangganya di kawasan Asia, pengetahuan warga Australia soal budaya di negara-negara Asia semakin berkurang.

Di tahun 1992 ada 22 universitas di Australia yang menawarkan program studi Indonesia, namun saat ini jumlahnya menyusut hingga tinggal 14 universitas.

Pemerintah Australia tidak menanggapi pertanyaan ABC Indonesia soal 'Asian Century White Paper', tapi juru bicara Pemerintah Australia mengatakan tetap ada dorongan agar warga Australia belajar bahasa selain Inggris.

Tapi menurut Profesor Edward Aspinall dari Australian National University, 'Asian Century White Paper' sebagian besar sudah ditinggalkan oleh Pemerintah Federal, meskipun masih ada program lain, seperti 'New Colombo Plan' yang memberikan kesempatan bagi anak-anak muda Australia yang duduk di bangku kuliah untuk belajar langsung budaya dan bahasa di negara-negara Asia.

"Tapi ini [New Colombo Plan] adalah rencana yang cukup kecil dan hanya itu satu-satunya yang ditunjukkan Pemerintah Australia sebagai komitmen yang berkelanjutan dan mendalam," kata Profesor Aspinall, yang juga Presiden dari Asian Studies Association of Australia (ASAA).

Baca juga: Kisah Mahasiswa Indonesia Pertama yang Tiba di Australia sejak Perbatasannya Ditutup

Australia dinilai tidak 'serius' soal hubungan dengan Asia

ASAA telah mengkonfirmasi jumlah universitas di Australia yang menawarkan program bahasa Indonesia "benar-benar menurun".

Juru bicara Departemen Pendidikan, Keterampilan dan Ketenagakerjaan di Australia mengatakan kepada ABC Indonesia jika Pemerintah Australia tidak bisa memutuskan program studi apa yang bisa dihentikan atau dilanjutkan oleh universitas.

Lebih lanjut, ia mengatakan Pemerintah Australia telah menyediakan 27,5 juta dollar Australia untuk program Early Learning Languages Australia (ELLA) yang mengajarkan anak-anak prasekolah bahasa asing, termasuk bahasa-bahasa Asia.

Pemerintah Australia menegaskan jika universitas adalah lembaga otonom yang berhak mengeluarkan keputusannya sendiri, tetapi Profesor Aspinall mengatakan universitas tetap memiliki peran untuk menghentikan penutupan program bahasa Asia.

"Sebenarnya Pemerintah Federal memiliki kewenangan untuk tidak memberikan izin bagi perguruan tinggi yang menutup program di wilayah penting secara nasional, termasuk pengajaran bahasa yang memiliki nilai strategis nasional," ujarnya.

Baca juga: Gelombang Panas Akan Terjang Australia, Suhu Capai 47 Derajat Celcius

Ia memperingatkan penurunan studi bahasa Asia di Australia akan membuat hubungan Australia dengan negara-negara di kawasan Asia menjadi buruk.

"Ini mengirimkan sinyal bahwa Australia tidak benar-benar serius tentang hubungannya dengan negara-negara Asia, yang hanya memerlukan pendekatan instrumental atau transaksional murni untuk hubungan tersebut dan kita tidak menghargai budaya di kawasan sendiri," kata Professor Aspinall.

ASAA telah meminta Pemerintah Australia untuk melakukan kembali investasi yang serius, termasuk dengan menemukan cara melindungi program-program penting dalam bahasa Asia di tengah guncangan keuangan saat ini yang dirasakan universitas.

Juru bicara Murdoch University mengatakan mereka memahami pentingnya keterlibatan Australia di kawasan Asia Pasifik lewat penelitian dan pendidikan.

"Kampus kami di Singapura dan Myanmar serta Pusat Riset Asia Murdoch akan terus memainkan peran penting dalam aktivitas keterlibatan kami di Asia dan penelitian yang kami lakukan tentang politik, pemerintahan, dan perubahan sosial di kawasan Asia," ujarnya.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

Global
Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Global
Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Global
Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Global
Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Internasional
India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

Global
Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Global
Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Global
PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

Global
Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Global
Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Global
5 Pesawat Era Perang Dingin yang Masih Andal untuk Bertempur

5 Pesawat Era Perang Dingin yang Masih Andal untuk Bertempur

Internasional
Makam Kyal Sin, Gadis 19 Tahun yang Ditembak Mati, Digali Aparat Myanmar

Makam Kyal Sin, Gadis 19 Tahun yang Ditembak Mati, Digali Aparat Myanmar

Global
Bermodal Rp 100.000, Bisa Jadi 'Jutawan' di Venezuela

Bermodal Rp 100.000, Bisa Jadi "Jutawan" di Venezuela

Global
Ketika Pakaian Dalam dan Rok Perempuan Jadi Senjata Melawan Militer Myanmar

Ketika Pakaian Dalam dan Rok Perempuan Jadi Senjata Melawan Militer Myanmar

Global
komentar
Close Ads X