Bank Dunia Peringatkan Perekonomian Lebanon yang Kian Terpuruk

Kompas.com - 02/12/2020, 14:47 WIB
Pengunjuk rasa menggelar demo memprotes ledakan yang terjadi Selasa lalu, di pusat kota Beirut, Lebanon, Sabtu (8/8/2020). Unjuk rasa tersebut merupakan bentuk kemarahan warga kepada pemerintah Lebanon yang dianggap lalai, menyusul ledakan besar di Beirut pada 4 Agustus lalu yang merenggut ratusan korban jiwa. AFP/STRPengunjuk rasa menggelar demo memprotes ledakan yang terjadi Selasa lalu, di pusat kota Beirut, Lebanon, Sabtu (8/8/2020). Unjuk rasa tersebut merupakan bentuk kemarahan warga kepada pemerintah Lebanon yang dianggap lalai, menyusul ledakan besar di Beirut pada 4 Agustus lalu yang merenggut ratusan korban jiwa.

KOMPAS.com - Bank Dunia memperingatkan adanya kemerosotan ekonomi akibat 'depresi yang disengaja' di Lebanon sebanyak 19.2 persen tahun ini, lapor Aljazeera, Selasa (1/12/2020).

Lebanon telah dilanda oleh berbagai krisis dengan tahun ini sebagai puncaknya. Negara itu sebelumnya sudah mengalami kemerosotan ekonomi, krisis keuangan, wabah virus corona dan ledakan masif mematikan di Pelabuhan Beirut.

Para ekonom Bank Dunia kini memperingatkan bahwa 'segalanya' bisa menjadi sangat buruk dalam negara yang tengah bergulat itu sebelum mereka berhasil mencapai titik yang lebih baik.

Kemerosotan ekonomi itu mengancam kestabilan negara.

Baca juga: Saad Hariri jadi Perdana Menteri Lebanon Lagi untuk Bentuk Kabinet Reformasi

Dengan penyusutan sebesar 19.2 persen tahun ini, para ekonom memperkirakan lebih lanjut sebanyak 13.2 persen pada tahun depan dan rasio utang negara itu terhadap PDB diperkirakan akan mencapai 194 persen pada akhir tahun ini.

Lebih dari separuh penduduk Lebanon diperkirakan akan jatuh miskin pada tahun depan.

“Kini, krisis ekonomi Lebanon mungkin akan lebih dalam dan lama daripada kebanyakan krisis ekonomi yang ada,” ujar ekonom Bank Dunia memperingatkan dalam laporan Monitor Ekonomi Lebanon berjudul The Deliberate Depression.

Banyak faktor yang membuat perekonomian negara itu semakin terpuruk. Bertahun-tahun penuh pengabaian, salah penanganan finansial negara, perang di Suriah, dan korupsi membuat segalanya menjadi sangat buruk.

Baca juga: Respons Keras Partai Utama Syiah di Lebanon atas Perundingan Negara Itu dengan Israel

Lebanon sebelumnya telah mengalami krisis besar-besaran pada Oktober 2019 dan memicu protes massa yang juga menuntut reformasi besar-besaran.

Tahun 2020 tidak memperbaiki itu semua dengan munculnya wabah Covid-19, utang publik yang membengkak, utang pemerintah yang gagal dibayar, serta mata uang terjun bebas

Halaman:

Sumber Aljazeera
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X