Hubungan Kurdi Irak dengan Israel yang Bercerai setelah Kesepakatan Normalisasi

Kompas.com - 27/11/2020, 23:04 WIB
Pemimpin Kurdi Irak, Masoud Barzani saat tampil memberikan pidato televisi di Irbil, Minggu (29/10/2017). PHOTO REUTERSPemimpin Kurdi Irak, Masoud Barzani saat tampil memberikan pidato televisi di Irbil, Minggu (29/10/2017).

"Itu membuat kami merasa berharap bahwa suatu hari Kurdi akan memiliki negara bagian mereka sendiri," imbuhnya.

Baca juga: Setelah Netanyahu Dikabarkan Bertemu MBS, Arab Saudi Masuk Daftar Hijau Covid-19 Israel

Hari-hari terbaik di masa lalu

Kurdistan Irak sudah ditetapkan sebagai wilayah otonom, memiliki pasukan keamanan sendiri dan mengelola perbatasan daratnya sendiri dengan tetangganya Iran, Turki dan Suriah.

Rebwar Babakye, seorang anggota parlemen yang memimpin komite hubungan luar negeri di parlemen Kurdi Irak, mengatakan Irak harus menormalkan hubungan dengan Israel untuk meningkatkan perdamaian regional.

"Lebih cepat lebih baik," kata Babakye, kepada AFP.

"Ini dapat membantu negara-negara Arab mengembangkan penelitian ilmiah dan akademis melalui program pertukaran, karena Israel adalah negara terdepan dalam bidang penelitian ilmiah dan teknologi," jelasnya kemudian.

Wilayah Kurdi tidak dapat melakukannya sendiri karena Baghdad mengelola kebijakan luar negeri tetapi, Babakye mengatakan, "jika kedutaan besar Israel dibuka di Baghdad besok, keesokan harinya konsulat mereka akan dibuka di Arbil".

Terlepas dari hubungan bersejarah mereka, pemulihan hubungan antara Israel dan Kurdi Irak tetap tidak mungkin, kata analis Hiwa Othman.

Baca juga: Video Viral, Tank Israel Ini Terbalik Saat Naik ke Kendaraan Angkut

Selama bertahun-tahun, Kurdi berusaha memanfaatkan koneksi mereka ke Israel untuk mendapatkan akses ke negara adidaya dunia, Amerika Serikat.

"Hari ini, AS berada di Arbil dan Kurdi tidak membutuhkan perantara, jadi mereka tidak perlu memiliki hubungan politik dengan Israel," kata Othman kepada AFP.

Dia menambahkan bahwa, Kurdi Irak harus mengelola hubungan sensitif dengan Ankara dan Teheran, yang keduanya memiliki pengaruh besar di Arbil serta menentang kemerdekaan Kurdi dan Israel.

Israel mungkin menilai bahwa hubungan dengan Kurdi dibandingkan dengan negara besar yang telah terjaring tidak lebih menguntungkan, kata Bilal Wahab dari Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat.

"Sekarang hubungan Israel telah menjadi normal dengan UEA dan Bahrain, dan dengan Sudan dalam proses, mereka melihat Saudi, bukan pada Kurdi," kata Wahab.

"Hari-hari terbaik dari hubungan itu ada di masa lalu, bukan masa depan," imbuhnya.

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X