Dalang Pelecehan Seksual Chatroom Berbayar di Korea Selatan Dihukum 40 Tahun Penjara

Kompas.com - 26/11/2020, 13:14 WIB
Ilustrasi pelecehan seksual Ilustrasi pelecehan seksual

SEOUL, KOMPAS.com - Pengadilan Korea Selatan telah menjatuhi hukuman 40 tahun penjara terhadap dalang dari salah satu jaringan online pelecehan seksual terbesar di Korea Selatan.

Cho Ju-bin dinyatakan bersalah karena telah menjalankan grup yang memeras gadis-gadis untuk berbagi video seksual, yang kemudian di unggahnya ake chatroom berbayar, seperti yang dilansir dari BBC pada Kamis (26/11/2020).

Setidaknya ada 10.000 orang pengguna chatroom berbayar itu, dengan tarif hingga 1.200 dollar AS (Rp 16,9 juta) per akses.

Baca juga: Ini Bukan Pertama Kalinya Perusahaan Korea Selatan Dituding Bakar Hutan Papua

Sekitar 74 orang, termasuk 16 gadis di bawah umur, yang menjadi korban eksploitasi seksual dari pelaku Cho.

"Terdakwa telah menyebarkan konten pelecehan seksual secara luas yang dia buat dengan memikat dan mengancam banyak korban," kata Pengadilan Distrik Pusat Seoul pada Kamis (26/11/2020), menurut kantor berita Yonhap.

Baca juga: Biden Menang Pilpres AS, Korea Selatan Bahagia karena Dijanjikan Tidak akan Diperas

Pengadilan Distrik Pusat mengatakan Cho dinyatakan bersalah melanggar undang-undang untuk melindungi anak-anak dari pelecehan seksual dan karena menjalankan jaringan kriminal yang memproduksi serta menjual video-video pelecehan untuk mendapatkan keuntungan.

Sindikat kriminal Cho menjual video pelecehan itu melalui chatroom rahasia di aplikasi Telegram.

Pada Maret, komite polisi mengambil langkah yang tidak biasa dengan menamai Cho, seorang lulusan perguruan tinggi berusia 25 tahun.

Baca juga: Pejabat Tinggi Korea Selatan akan Kunjungi AS di Tengah Situasi Ketidakpastian Pemilu

Tindakan itu dilakukan setelah 5 juta orang menandatangani petisi yang meminta agar identitasnya diungkap.

Para pembela wanita telah mengamati kasus ini dengan seksama, menurut laporan BBC di Seoul.

Perhatian besar yang diberikan lantaran pengadilan di Korea Selatan sering dianggap terlalu lunak terhadap mereka yang dinyatakan bersalah atas kejahatan seks digital.

Baca juga: Deteksi Personel Tak Dikenal, Korea Selatan Gelar Operasi di Perbatasan

Lebih dari 80.000 surat petisi dilayangkan ke pengadilan, mendesak hakim untuk menghukum geng tersebut. Satu surat dari seorang korban menggambarkan Cho sebagai penjahat.

Hukuman penjara 40 tahun yang diumumkan pada Kamis, kurang dari tuntutan jaksa penuntut, yaitu hukuman seumur hidup.

Lima terdakwa lainnya telah menerima hukuman mulai dari 7 hingga 15 tahun penjara.

Baca juga: Korea Selatan Terapkan Sistem Social Distancing 5 Tingkat, Apa Saja?


Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ribuan Pendukung Navalny Demo di Moskwa, Olok-olok Putin dan Bentrok dengan Polisi

Ribuan Pendukung Navalny Demo di Moskwa, Olok-olok Putin dan Bentrok dengan Polisi

Global
Cegah Penularan Covid-19, Dokter di Perancis: Jangan Bicara di Transportasi Umum

Cegah Penularan Covid-19, Dokter di Perancis: Jangan Bicara di Transportasi Umum

Global
Bagaimana Nasib “Tembok Trump” di Era Biden?

Bagaimana Nasib “Tembok Trump” di Era Biden?

Global
[VIDEO] Lebih dari 100 Ekor Monyet 'Gerebek' Sebuah Ladang Desa di Thailand karena Kelaparan

[VIDEO] Lebih dari 100 Ekor Monyet "Gerebek" Sebuah Ladang Desa di Thailand karena Kelaparan

Global
Garda Nasional Telantar Tidur di Parkiran Gedung Capitol, Joe Biden Minta Maaf

Garda Nasional Telantar Tidur di Parkiran Gedung Capitol, Joe Biden Minta Maaf

Global
Lemari Pendingin Tercabut Petugas, Hampir 2.000 Dosis Vaksin Hancur

Lemari Pendingin Tercabut Petugas, Hampir 2.000 Dosis Vaksin Hancur

Global
Hong Kong Lockdown Terketat untuk Lawan Gelombang Keempat Covid-19

Hong Kong Lockdown Terketat untuk Lawan Gelombang Keempat Covid-19

Global
Suami Siram Istri dengan Air Mendidih gara-gara Dibangunkan untuk Sarapan

Suami Siram Istri dengan Air Mendidih gara-gara Dibangunkan untuk Sarapan

Global
Minum Anggur Merah dan Telanjang di Bak Mandi, Influencer di Arab Saudi Dikecam Netizen

Minum Anggur Merah dan Telanjang di Bak Mandi, Influencer di Arab Saudi Dikecam Netizen

Global
Twit Viral 'Tombol Diet Coke' Trump Hilang dari Meja Oval Office yang Kini Dipakai Biden

Twit Viral "Tombol Diet Coke" Trump Hilang dari Meja Oval Office yang Kini Dipakai Biden

Global
Informasi Simpang Siur, Garda Nasional Sempat “Diusir” Sebelum Diminta Kembali Masuk Gedung Capitol

Informasi Simpang Siur, Garda Nasional Sempat “Diusir” Sebelum Diminta Kembali Masuk Gedung Capitol

Global
Meme Bernie Sanders Tampil 'Seadanya' pada Pelantikan Biden Juga Viral di Kalangan Netizen Rusia

Meme Bernie Sanders Tampil "Seadanya" pada Pelantikan Biden Juga Viral di Kalangan Netizen Rusia

Global
Remaja 18 Tahun Tewas Tertabrak Kereta Api Saat Main TikTok di Rel

Remaja 18 Tahun Tewas Tertabrak Kereta Api Saat Main TikTok di Rel

Global
CDC: Alergi Parah dari Vaksin Covid-19 Moderna Sangat Jarang Terjadi

CDC: Alergi Parah dari Vaksin Covid-19 Moderna Sangat Jarang Terjadi

Global
Pabrik Vaksin Covid-19 Terbesar di Dunia Terbakar, 5 Orang Tewas

Pabrik Vaksin Covid-19 Terbesar di Dunia Terbakar, 5 Orang Tewas

Global
komentar
Close Ads X