Pertama Kalinya dalam 2 Tahun, Pasal Penghinaan Raja Akan Dipakai Polisi Thailand

Kompas.com - 25/11/2020, 13:28 WIB
Para pengunjuk rasa demokrasi membawa balon berbentuk bebek tiup setelah menerobos barikade di dekat Gedung Parlemen Thailand di Bangkok, Selasa (17/11/2020). Medan pertempuran politik Thailand bergeser ke Gedung Parlemen pada Selasa, di mana anggota parlemen sedang mempertimbangkan usulan untuk mengubah konstitusi. AP Photo/Sakchai LalitPara pengunjuk rasa demokrasi membawa balon berbentuk bebek tiup setelah menerobos barikade di dekat Gedung Parlemen Thailand di Bangkok, Selasa (17/11/2020). Medan pertempuran politik Thailand bergeser ke Gedung Parlemen pada Selasa, di mana anggota parlemen sedang mempertimbangkan usulan untuk mengubah konstitusi.

BANGKOK, KOMPAS.com - Polisi Thailand telah memanggil tujuh pemimpin aksi protes anti-pemerintah untuk menghadapi tuduhan menghina monarki, sehari sebelum rencana demonstrasi yang digelar untuk menuntut Raja menyerahkan kendali kekayaan kerajaan.

Ini pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun terakhir dakwaan diajukan berdasarkan apa yang disebut hukum lese majeste terkait penghinaan terhadap keluarga kerajaan.

Melalui hukum tersebut, siapa pun yang terbukti bersalah bisa menghadapi hukuman 15 tahun penjara.

Protes yang dimulai pada bulan Juli terhadap Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-o-cha semakin berkembang menjadi tuntutan untuk membatasi kekuasaan Raja Maha Vajiralongkorn, menabrak tabu lama dalam kritik terhadap monarki.

Salah satu dari tujuh orang tersebut, Parit "Penguin" Chiwarak, mengatakan keluarganya telah menerima panggilan lese majeste di samping dakwaan lainnya.

Baca juga: Raja Thailand Bisa Diusir Jika Terbukti Memerintah dari Jerman

"Langit-langit sudah rusak. Tidak ada yang bisa menahan kami lagi," tulisnya di Twitter.

Dia mengatakan kepada Reuters bahwa dakwaan tersebut akan mengungkap kebrutalan sistem feodal Thailand kepada dunia.

Orang lain yang termasuk dalam tujuh orang tersebut adalah pengacara hak asasi manusia Arnon Nampa, yang menjadi orang pertama yang menyerukan reformasi kerajaan pada 3 Agustus, dan Panusaya "Rung" Sithijirawattanakul, seorang pemimpin mahasiswa yang mengajukan 10 tuntutan untuk reformasi kerajaan.

Tidak ada yang segera bersedia untuk dimintai komentar.

Sumber polisi, yang menolak disebutkan namanya karena dia tidak berwenang berbicara dengan media, mengatakan para pemimpin protes memiliki waktu hingga 30 November untuk mengakui tuduhan atas komentar yang dibuat dalam aksi protes pada 19 dan 20 September.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Begini Tanggapan Biden Saat Trump Tiba-tiba Cabut Larangan Perjalanan Covid-19

Begini Tanggapan Biden Saat Trump Tiba-tiba Cabut Larangan Perjalanan Covid-19

Global
Pakai Jam Tangan dari Kertas, Bocah Ini Menangis Saat Dibelikan Jam Sungguhan

Pakai Jam Tangan dari Kertas, Bocah Ini Menangis Saat Dibelikan Jam Sungguhan

Global
3 Fakta Pelantikan Joe Biden-Kamala Harris

3 Fakta Pelantikan Joe Biden-Kamala Harris

Global
Trump Disebut Hanya Duduk Menonton TV Saat Kerusuhan di Capitol AS

Trump Disebut Hanya Duduk Menonton TV Saat Kerusuhan di Capitol AS

Global
Dilantik Jadi Presiden AS, Joe Biden Bakal Hadapi Serangkaian Bencana yang Belum Pernah Terjadi

Dilantik Jadi Presiden AS, Joe Biden Bakal Hadapi Serangkaian Bencana yang Belum Pernah Terjadi

Global
Trump Tiba-tiba Cabut Pembatasan Perjalanan terkait Covid-19 Saat Infeksi Belum Terkendali

Trump Tiba-tiba Cabut Pembatasan Perjalanan terkait Covid-19 Saat Infeksi Belum Terkendali

Global
Takut Ada Covid-19, Pria Ini Bersembunyi di Bandara Selama 3 Bulan

Takut Ada Covid-19, Pria Ini Bersembunyi di Bandara Selama 3 Bulan

Global
China Sebut Menlu AS Mike Pompeo Seperti 'Belalang Sembah'

China Sebut Menlu AS Mike Pompeo Seperti "Belalang Sembah"

Global
Ada Insiden, Aparat Tutup Sementara Gedung Capitol dan Evakuasi Peserta Geladi Bersih Pelantikan Biden

Ada Insiden, Aparat Tutup Sementara Gedung Capitol dan Evakuasi Peserta Geladi Bersih Pelantikan Biden

Global
Upacara Perpisahan Trump Akan Digelar Meriah Saat Pelantikan Joe Biden

Upacara Perpisahan Trump Akan Digelar Meriah Saat Pelantikan Joe Biden

Global
Navalny Desak Masyarakat Rusia Bergerak 'Turun ke Jalan' Melawan Putin

Navalny Desak Masyarakat Rusia Bergerak "Turun ke Jalan" Melawan Putin

Global
Arab Saudi Masih Hukum Mati Pelaku Kejahatan Remaja, Lewat dari 9 Bulan Janji Menghapusnya

Arab Saudi Masih Hukum Mati Pelaku Kejahatan Remaja, Lewat dari 9 Bulan Janji Menghapusnya

Global
Jelang Pelantikan, Kamala Harris Resmi Ajukan Pengunduran Diri dari Senat AS

Jelang Pelantikan, Kamala Harris Resmi Ajukan Pengunduran Diri dari Senat AS

Global
Macron Puji Piagam Muslim Perancis untuk Lawan Ekstremisme

Macron Puji Piagam Muslim Perancis untuk Lawan Ekstremisme

Global
Pemuka Agama di Israel Sebarkan Isu Vaksin Covid-19 Sebabkan Orang Jadi Gay

Pemuka Agama di Israel Sebarkan Isu Vaksin Covid-19 Sebabkan Orang Jadi Gay

Global
komentar
Close Ads X