MBS dan Netanyahu Bertemu? Ini Ringkasan Hubungan Israel dengan Dunia Arab

Kompas.com - 24/11/2020, 09:45 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Reuters via BBCPutra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

KOMPAS.com - Spekulasi bahwa  Israel dan Arab Saudi akan menormalisasi hubungan muncul ketika berembus kabar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mengadakan pembicaraan rahasia dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS).

Jika kesepakatan itu benar-benar tercapai, Arab Saudi akan menjadi negara Arab selanjutnya yang mengakui Israel setelah Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Sudan yang baru-baru ini damai dengan Israel.

Selain itu, jika Arab Saudi benar-benar menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel, sebuah sejarah baru akan tercatat.

Pasalnya, dua negara ini menjadi musuh bebuyutan sejak Israel mengambil alih tanah Palestina.

Bahkan, dilansir dari AFP pada Senin (23/11/2020), baik Arab Saudi dan Israel saling unjuk kekuatan setidaknya dalam delapan peperangan.

Baca juga: PM Israel Gelar Pembicaraan Rahasia dengan Putra Mahkota Saudi dan Menlu AS

Peperangan

Israel dibentuk pada 14 Mei 1948 di beberapa wilayah Palestina yang diamanatkan Inggris, tiga tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Beridirinya Israel langsung diambut kemarahan oleh negara-negara Arab. Negara-negara ini lantas menyerang Israel.

Lebih dari 760.000 orang Palestina diusir dari rumah mereka atau melarikan diri, dan menjadi pengungsi.

Pada 1956, Israel menyerang Mesir bersama Inggris dan Perancis atas nasionalisasi Terusan Suez. Namun, ketiganya dipaksa mundur oleh Amerika Serikat ( AS) dan Uni Soviet saat itu.

Pada Juni 1967, Israel menang telak atas tetangga Arabnya dalam Perang Enam Hari, merebut Tepi Barat dan Yerusalem timur dari Yordania, Dataran Tinggi Golan dari Suriah, dan Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai dari Mesir.

Pada 1973, Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak pada hari raya Yahudi, Yom Kippur. Namun sekali lagi, Israel memenangi pertempuran.

Baca juga: Arab Saudi Bantah Putra Mahkota MBS Bicara dengan PM Israel dan Menlu AS

Perjanjian damai pertama

Mendiang Presiden Mesir Anwar Sadat menjadi pemimpin Arab pertama yang mengunjungi Israel pada 1977.

Dua tahun kemudian, kedua negara menandatangani perjanjian damai pertama antara Israel dan negara Arab.

Invasi Lebanon

Pada 1978 dan pada 1982, Israel menginvasi Lebanon yang dilanda perang saudara dalam upaya menghentikan serangan lintas batas oleh milisi Palestina.

Pasukan Israel tetap berada di Lebanon selatan hingga tahun 2000.

Damai dengan Yordania

Negara Arab kedua yang akhirnya berdamai dengan Israel adalah Yordania.

Kesepakatan damai anata kedua negara tersebut ditandatangani pada 1994, dan secara resmi mengakhiri perang selama 46 tahun antara Israel dan Yordania.

Baca juga: Berselang Sepekan, Israel Kembali Serang Gaza

Intifada dan persetujuan Oslo

Intifada atau pemberontakan Palestina pertama meletus pada 1987.

Pemberontakan tersebut berakhir pada 1993 ketika Israel setuju untuk memberikan otonomi terbatas terhadap Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai langkah sementara menuju perjanjian damai yang komprehensif.

Melalui perjanjian bernama Kesepakatan Oslo, Palestina dan Israel akhirnya resmi berdamai.

Pemimpin Palestina kala itu, Yasser Arafat, dan Perdana Menteri Israel kala itu, Yitzhak Rabin, saling berjabat tangan.

Namun nasib nahas menimpa Rabin karena dibunuh oleh seorang ekstremis Yahudi yang tidak setuju dengan Kesepakatan Oslo.

Intifada kedua pecah pada 2000 ketika pemimpin oposisi sayap kanan Israel Ariel Sharon melakukan kunjungan provokatif ke kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem timur yang dianeksasi.

Baca juga: Per 1 Desember Israel dan Bahrain bisa Ajukan Permohonan Visa Kunjungan secara Online

Perang dan tembok Gaza

Tentara Israel kembali menduduki sebagian besar Tepi Barat dan mulai membangun tembok yang memotong jauh ke wilayah pendudukan.

Pada 2005, Israel menarik semua pasukan dan pemukim dari Gaza setelah 38 tahun pendudukan.

Namun, militer Israel memberlakukan blokade terhadap Jalur Gaza setelah kelompok Hamas merebut kendali Jalur Gaza pada 2007.

Israel melancarkan tiga serangan mematikan terhadap Gaza dalam enam tahun terakhir, serangan mematikan terkahir terjadi pada 2014.

Baca juga: AS Labeli Kampanye Gerakan Boikot Israel sebagai Anti-Semit dan Kanker

Dukungan Trump

Pada Desember 2017, Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Sontak deklarasi tersebut dikutuk oleh Palestina yang menganggap Yerusalem timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka.

Pada Maret 2019, Trump mengakui pencaplokan Dataran Tinggi Golan oleh Israel pada 1981.

Pada 28 Januari 2020, Trump meluncurkan rencana perdamaian Timur Tengah yang kontroversial yang akan membuka jalan bagi pencaplokan wilayah Tepi Barat oleh Israel.

Baca juga: Terungkap, Ini Alasan Jet Tempur Israel Gempur Suriah dan Tewaskan 10 Orang

Sepakat dengan UEA dan Bahrain

Dalam pengumuman yang mengejutkan pada Agustus, Trump mengatakan bahwa Israel dan UEA telah mencapai kesepakatan “bersejarah" untuk menormalkan hubungan.

Israel setuju untuk menangguhkan aneksasi beberapa wilayah Tepi Barat yang diduduki, tanpa mengatakan berapa lama.

Pada 11 September, Trump menyatakan bahwa Bahrain dan Israel juga akan menormalisasi hubungan.

Palestina mengutuk kesepakatan itu dan memenyebutnya sebagai tikaman dari belakang.

Beberapa pekan kemudian, Israel menyetujui rencana pembangunan 4.948 pemukiman Yahudi di Tepi Barat.

Baca juga: PM Israel Benjamin Netanyahu dan Joe Biden Siapkan Janji Temu Segera

Arab Saudi Menyusul?

Pada 23 Oktober, Sudan menormalisasi hubungan dengan Israel karena Trump setuju untuk mencabut Sudan dari daftar hitam AS yang diduga mensponsori terorisme.

Pada Senin, muncul laporan bahwa Netanyahu mengadakan pembicaraan rahasia di Arab Saudi dengan MBS pada Minggu (22/11/2020) di wilayah kerajaan.

Jika Arab Saudi benar-benar menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel, maka itu akan menjadi hadiah diplomatik besar-besaran bagi negara Yahudi tersebut.

Baca juga: Israel Gempur Target di Suriah, 3 Tentara Tewas


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Selamatkan 4 Kucing dari Kapal Tenggelam, Pelaut Thailand Banjir Pujian

Selamatkan 4 Kucing dari Kapal Tenggelam, Pelaut Thailand Banjir Pujian

Internasional
3 Tentara Myanmar Mengungsi ke India daripada Turuti Perintah Junta Militer

3 Tentara Myanmar Mengungsi ke India daripada Turuti Perintah Junta Militer

Global
Junta Militer Myanmar Terkejut, Kudetanya Mendapat Banyak Tentangan

Junta Militer Myanmar Terkejut, Kudetanya Mendapat Banyak Tentangan

Global
Perdagangan Muntahan Paus Ilegal di Sejumlah Negara, Hati-hati Tersandung Hukum

Perdagangan Muntahan Paus Ilegal di Sejumlah Negara, Hati-hati Tersandung Hukum

Internasional
Ada Serangan Roket di Irak, Paus Fransiskus Minta Dirinya Didoakan

Ada Serangan Roket di Irak, Paus Fransiskus Minta Dirinya Didoakan

Internasional
7 Orang Ditikam hingga Luka Parah di Swedia Diduga sebagai Ancaman Teroris

7 Orang Ditikam hingga Luka Parah di Swedia Diduga sebagai Ancaman Teroris

Internasional
Karena Tato dan Warna Rambut, Influencer Saudi Ini Kehilangan Hak Asuh Anak

Karena Tato dan Warna Rambut, Influencer Saudi Ini Kehilangan Hak Asuh Anak

Internasional
Pemberontak Houthi Tembakkan Rudal ke Fasilitas Minyak Arab Saudi

Pemberontak Houthi Tembakkan Rudal ke Fasilitas Minyak Arab Saudi

Global
“Shuttle Diplomacy” Menlu Retno: Antara Isu Kudeta Militer dan Krisis Kemanusiaan Rohingya

“Shuttle Diplomacy” Menlu Retno: Antara Isu Kudeta Militer dan Krisis Kemanusiaan Rohingya

Global
10 Tahun Setelah Bencana PLTN Fukushima, Pengembangan Energi Nuklir di Jepang Terhenti

10 Tahun Setelah Bencana PLTN Fukushima, Pengembangan Energi Nuklir di Jepang Terhenti

Global
10 Tahun Setelah Bencana Fukushima, Bagaimana Nasib Energi Nuklir di Masa Depan?

10 Tahun Setelah Bencana Fukushima, Bagaimana Nasib Energi Nuklir di Masa Depan?

Global
Jembatan Ambruk di Malaysia Tewaskan 2 Wanita dalam Perjalanan ke Tempat Kerja

Jembatan Ambruk di Malaysia Tewaskan 2 Wanita dalam Perjalanan ke Tempat Kerja

Global
Ini Keistimewaan Muntahan Paus yang Membuatnya Dihargai Miliaran Rupiah

Ini Keistimewaan Muntahan Paus yang Membuatnya Dihargai Miliaran Rupiah

Global
Jembatan Ambruk di Malaysia, 5 Orang Terjebak di Reruntuhan

Jembatan Ambruk di Malaysia, 5 Orang Terjebak di Reruntuhan

Global
Warga Korea Utara Kelaparan karena Aturan Covid-19 yang Ketat

Warga Korea Utara Kelaparan karena Aturan Covid-19 yang Ketat

Global
komentar
Close Ads X