China Pertimbangkan Ikut Pakta Perdagangan Bebas yang Ditinggalkan Trump

Kompas.com - 22/11/2020, 19:25 WIB
Presiden China Xi Jinping berbicara dalam pesan yang direkam sebelumnya yang diputar selama sesi ke-75 Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa, 22 September 2020, di markas besar PBB di New York. AP/UNTVPresiden China Xi Jinping berbicara dalam pesan yang direkam sebelumnya yang diputar selama sesi ke-75 Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa, 22 September 2020, di markas besar PBB di New York.

BEIJING, KOMPAS.com – China bakal mempertimbangkan untuk bergabung dengan pakta perdagangan bebas yang pernah diinisiasi oleh Amerika Serikat ( AS) tetapi ditinggalkan oleh Presiden Donald Trump.

Pernyataan itu dikeluarkan oleh Presiden China Xi Jinpin pada Jumat (20/11/2020) sebagaimana dilansir dari AFP.

Pakta perdagangan bebas bernama Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP) tersebut adalah versi terbaru dari kesepakatan besar yang awalnya didukung oleh mantan presiden AS Barack Obama.

Baca juga: Bill Clinton: Xi Jinping Presiden Seumur Hidup Pengaruhi Hubungan AS-China Memburuk

CPTPP digagas sebagai upaya untuk melawan kekuatan China yang meningkat di Asia.

Namun, ketika Trump memenangi pemilu AS pada 2016, dia menarik AS dari kesepakatan tersebut karena dianggap tidak menguntungkan.

Namun, ke-11 negara yang terlaibat dalam perjanjian tersebut akhirnya tetap setuju untuk menandatangani kesepakatan bersi terbaru.

Baca juga: Pemandian Kuno Bergaya Romawi Berusia 1.100 Tahun Ditemukan di Xinjiang, China

Berbicara dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), Xi mengatakan kesepakatan tersebut harus terus mempromosikan integrasi ekonomi regional.

Selain itu, kesepakatan itu juga harus membangun zona perdagangan bebas di Asia-Pasifik secepatnya.

Menurut media pemerintah China, Xi mengatakan China bersungguh-sunguh mempertimbangkan untuk bergabung dengan CPTPP.

Baca juga: Studi Sebut Vaksin Covid-19 Buatan China Hasilkan Respons Imun yang Cepat

Tahun ini, Trump menghadiri KTT APEC untuk pertama kalinya sejak 2017. Pada tahun ini pula KTT tersebut digelar secara virtual.

Komentar Xi tersebut dikeluarkan hanya beberapa hari setelah Beijing dan 14 negara lain menandatangani kesepakatan perdagangan terbesar di dunia, Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional.

Kesepakatan itu, yang terdiri dari 30 persen dari total output ekonomi dunia dan tidak termasuk AS, dipandang sebagai kudeta besar oleh China ketika Washington mundur.

Pakar perdagangan internasional yang berbasis di Singapura Deborah Elms mengatakan jika China benar-benar bergabung dengan CPTPP, maka dapat mendorong negara-negara lain untuk mengikutinya.

Baca juga: China Ancam Negara Barat soal Hong Kong: Hati-hati atau Mata Dicongkel

 


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Khawatir Ancaman dari Dalam, Personel Garda Nasional Diperiksa FBI

Khawatir Ancaman dari Dalam, Personel Garda Nasional Diperiksa FBI

Global
Partai Republik Serukan Persatuan meski Enggan Akui Biden Menang secara Adil

Partai Republik Serukan Persatuan meski Enggan Akui Biden Menang secara Adil

Global
Para Pemohon Grasi Dikabarkan Bayar Sekutu Trump untuk Lobi Presiden AS

Para Pemohon Grasi Dikabarkan Bayar Sekutu Trump untuk Lobi Presiden AS

Global
Kronologi Tewasnya Pramugari Christine Dacera, CCTV Rekam Belasan Pria Keluar Masuk Kamarnya

Kronologi Tewasnya Pramugari Christine Dacera, CCTV Rekam Belasan Pria Keluar Masuk Kamarnya

Global
Kerusuhan Remaja di Tunisia, Tandai 10 Tahun Sejak Pengunduran Diri Ben Ali

Kerusuhan Remaja di Tunisia, Tandai 10 Tahun Sejak Pengunduran Diri Ben Ali

Global
Turki Dituduh “Korbankan” Muslim Uighur demi Vaksin Covid-19

Turki Dituduh “Korbankan” Muslim Uighur demi Vaksin Covid-19

Global
10 Pendaki Nepal Ukir Sejarah dengan Taklukkan Gunung Tertinggi Kedua di Dunia

10 Pendaki Nepal Ukir Sejarah dengan Taklukkan Gunung Tertinggi Kedua di Dunia

Global
3 Negara Kepung Rusia, Kecam Penangkapan Alexei Navalny

3 Negara Kepung Rusia, Kecam Penangkapan Alexei Navalny

Global
Terjadi Kematian Driver Ojek Online Makanan di China Selama Pandemi Covid-19, Perusahaan Disalahkan

Terjadi Kematian Driver Ojek Online Makanan di China Selama Pandemi Covid-19, Perusahaan Disalahkan

Global
Mesir Temukan Kuil Ratu Neit dan Kertas Berisi Mantra dari 'Dunia Bawah'

Mesir Temukan Kuil Ratu Neit dan Kertas Berisi Mantra dari 'Dunia Bawah'

Global
Tahanan Palestina Dapat Vaksin Covid-19 di Penjara Israel

Tahanan Palestina Dapat Vaksin Covid-19 di Penjara Israel

Global
Australia Batal Bunuh Joe, Merpati yang Sempat Diduga Terbang dari AS

Australia Batal Bunuh Joe, Merpati yang Sempat Diduga Terbang dari AS

Global
Pekerja Malaysia Bagikan Kisah Pengalaman Vaksinasi di Singapura

Pekerja Malaysia Bagikan Kisah Pengalaman Vaksinasi di Singapura

Global
Alexei Navalny Ditahan Rusia Saat Mendarat di Moskwa

Alexei Navalny Ditahan Rusia Saat Mendarat di Moskwa

Global
Presiden Palestina Rencanakan Pemilu Pertama Setelah 15 Tahun, Warga Tak Yakin Demokrasi Tercapai

Presiden Palestina Rencanakan Pemilu Pertama Setelah 15 Tahun, Warga Tak Yakin Demokrasi Tercapai

Global
komentar
Close Ads X