Usai Ditinggalkan Trump, Apa yang Bisa Afghanistan Harapkan dari Biden?

Kompas.com - 21/11/2020, 15:49 WIB
Dalam gambar yang diambil pada tanggal 23 Maret 2019, para pria Afghanistan menemukan mayat anak-anak kecil yang terbaring di belakang truk, setelah tewas dalam serangan udara di Provinsi Kunduz. Sedikitnya 13 warga sipil tewas, kebanyakan anak-anak, dalam serangan udara oleh pasukan internasional di kota Kunduz di Afghanistan utara akhir pekan lalu, PBB mengatakan 25 Maret. Amerika Serikat adalah satu-satunya anggota koalisi internasional di Afghanistan yang memberikan dukungan udara dalam konflik. BASHIR KHAN SAFI/AFPDalam gambar yang diambil pada tanggal 23 Maret 2019, para pria Afghanistan menemukan mayat anak-anak kecil yang terbaring di belakang truk, setelah tewas dalam serangan udara di Provinsi Kunduz. Sedikitnya 13 warga sipil tewas, kebanyakan anak-anak, dalam serangan udara oleh pasukan internasional di kota Kunduz di Afghanistan utara akhir pekan lalu, PBB mengatakan 25 Maret. Amerika Serikat adalah satu-satunya anggota koalisi internasional di Afghanistan yang memberikan dukungan udara dalam konflik.

KABUL, KOMPAS.com - Rencana Donald Trump untuk memangkas jumlah pasukan Amerika Serikat ( AS) di Afghanistan dapat memicu gelombang kekerasan baru oleh Taliban, kata para analis.

Akan tetapi pendekatan yang lebih terukur oleh Joe Biden dinilai dapat membendung upaya kelompok pemberontak itu untuk meraih kekuasaan.

Kebijakan baru dari Trump akan membuat 2.000 tentara AS keluar dari Afghanistan pada 15 Januari, kurang dari seminggu sebelum Biden akan dilantik, dan hanya menyisakan 2.500 tentara.

Baca juga: Saksi Kejahatan Perang Australia di Afghanistan: Semua Benar

Pentagon mengumumkan rencananya pada Selasa (17/11/2020), setelah Trump berjanji mengakhiri perang yang telah menewaskan sekitar 2.400 prajurit AS dan menelan biaya lebih dari 1 triliun dollar AS itu.

"Harapannya adalah bahwa AS (di bawah Biden) tidak akan terburu-buru keluar, akan menerapkan lebih banyak tekanan koersif pada Taliban," kata Nishank Motwani, wakil direktur di Unit Riset dan Evaluasi Afghanistan (AREU).

"Penekanan pada penarikan tidak banyak membantu Presiden Ashraf Ghani - atau pasukan Afghanistan - karena Taliban tahu mereka bisa menunggu AS lalu mengerahkan kekuatan total," terangnya kepada AFP.

Namun memotong jumlah pasukan menjadi 2.500 pada Januari adalah sesuatu yang mungkin juga diinginkan pemerintahan Biden, kata Vanda Felbab-Brown dari Brookings Institution.

"Jika AS ingin menetap beberapa bulan, Taliban dapat menerimanya," katanya kepada AFP, tetapi menambahkan kesulitan akan muncul jika dia berencana mempertahankan pasukan setelah Mei 2021.

Baca juga: Whistleblower Kejahatan Perang Militer Australia di Afghanistan Akan Terima jika Dihukum, Asal Kebenaran Ditegakkan

Tidak bertanggung jawab

Setiap penarikan - baik oleh Trump atau dilanjutkan oleh Biden - akan berdampak besar di medan perang, menurut analis politik Afghanistan Atta Noori.

"Ini sangat tidak bertanggung jawab karena perang melawan terorisme belum berakhir di Afghanistan," ujarnya.

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Seorang Tokoh Partai NLD Myanmar Tewas di Tahanan, Diduga Disiksa

Seorang Tokoh Partai NLD Myanmar Tewas di Tahanan, Diduga Disiksa

Global
Meghan Markle Sebut Kerajaan Inggris Enggan Jadikan Anaknya Pangeran, Ini Sebabnya

Meghan Markle Sebut Kerajaan Inggris Enggan Jadikan Anaknya Pangeran, Ini Sebabnya

Global
Meghan Markle Sempat Berpikir untuk Bunuh Diri Saat Jadi Anggota Kerajaan Inggris

Meghan Markle Sempat Berpikir untuk Bunuh Diri Saat Jadi Anggota Kerajaan Inggris

Global
Diminta Rakyatnya Tinggalkan Jabatan, Presiden Paraguay Malah Minta Seluruh Menterinya Mundur

Diminta Rakyatnya Tinggalkan Jabatan, Presiden Paraguay Malah Minta Seluruh Menterinya Mundur

Global
Jelang Sidang Derek Chauvin Pembunuh George Floyd, Warga Datang Bawa Peti Mati

Jelang Sidang Derek Chauvin Pembunuh George Floyd, Warga Datang Bawa Peti Mati

Global
Gelar Misa Terakhir di Irak sebelum Pulang, Ini Ucapan Paus Fransiskus

Gelar Misa Terakhir di Irak sebelum Pulang, Ini Ucapan Paus Fransiskus

Global
Rakyat Swiss Izinkan Kelapa Sawit Indonesia Boleh Masuk

Rakyat Swiss Izinkan Kelapa Sawit Indonesia Boleh Masuk

Global
4 Ledakan Beruntun Mengguncang Sebuah Kamp Militer, 600 Orang Luka, 20 Tewas

4 Ledakan Beruntun Mengguncang Sebuah Kamp Militer, 600 Orang Luka, 20 Tewas

Global
Diserbu 10 Drone Houthi, Koalisi Arab Saudi Balas Serang Ibu Kota Yaman

Diserbu 10 Drone Houthi, Koalisi Arab Saudi Balas Serang Ibu Kota Yaman

Global
Arab Saudi Diserbu Drone Bersenjata Houthi, 10 Berhasil Dicegat

Arab Saudi Diserbu Drone Bersenjata Houthi, 10 Berhasil Dicegat

Global
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Muntahan Paus Harganya Rp 3,7 Miliar | Hari Kudeta Myanmar Paling Berdarah

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Muntahan Paus Harganya Rp 3,7 Miliar | Hari Kudeta Myanmar Paling Berdarah

Global
China Nyatakan Kesediaan untuk Terlibat Redakan Situasi Myanmar

China Nyatakan Kesediaan untuk Terlibat Redakan Situasi Myanmar

Global
Trump Protes Namanya Dipakai untuk Galang Dana oleh Partainya

Trump Protes Namanya Dipakai untuk Galang Dana oleh Partainya

Global
Siswa Siap Kembali ke Kelas, Inggris Bagikan 57 Juta Alat Tes Covid-19 ke Sekolah

Siswa Siap Kembali ke Kelas, Inggris Bagikan 57 Juta Alat Tes Covid-19 ke Sekolah

Global
Meghan Tuding Kerajaan Inggris Umbar Kebohongan Soal Keluarganya dengan Pangeran Harry

Meghan Tuding Kerajaan Inggris Umbar Kebohongan Soal Keluarganya dengan Pangeran Harry

Global
komentar
Close Ads X