AS Labeli Kampanye Gerakan Boikot Israel sebagai "Anti-Semit" dan "Kanker"

Kompas.com - 19/11/2020, 19:45 WIB
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo, saat konferensi pers bersama Menteri Luar Negeru Austria Alexander Schallenberg, pada Jumat (14/8/2020) di Wina. REUTERS/LISI NIESNERMenteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo, saat konferensi pers bersama Menteri Luar Negeru Austria Alexander Schallenberg, pada Jumat (14/8/2020) di Wina.

YERUSALEM, KOMPAS.com - Amerika Serikat ( AS) akan melabeli kampanye Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS), yang berusaha mengisolasi Israel atas perlakuannya terhadap Palestina, sebagai " anti-Semit".

Hal itu dikatakan oleh Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, dan ia juga menyebut upaya gerakan DBS sebagai " kanker", seperti yang dilansir dari Al Jazeera pada Kamis (19/11/2020).

Washington "akan menganggap kampanye BDS anti-Israel global sebagai anti-Semit...Kami ingin berdiri dengan semua negara lain yang mengakui gerakan BDS sebagai kanker," kata Pompeo dalam penampilan bersama dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem pada Kamis.

Baca juga: Terungkap, Ini Alasan Jet Tempur Israel Gempur Suriah dan Tewaskan 10 Orang

Kampanye BDS adalah gerakan non-kekerasan yang dipimpin oleh orang-orang yang bertujuan untuk menekan Israel secara ekonomi, agar memberikan kesetaraan hak dan untuk mengembalikan hak Palestina.

Mencontoh gerakan anti-apartheid di Afrika Selatan, label BDS anti-semit dibuat AS untuk mengintervensi orang-orang dari seluruh dunia yang memboikot bisnis serta institusi akademis dan budaya yang memiliki afiliasi langsung atau tidak langsung dengan Israel.

Baca juga: PM Israel Benjamin Netanyahu dan Joe Biden Siapkan Janji Temu Segera

Itu termasuk perusahaan yang terkait dengan permukiman ilegal Yahudi, yang memberikan layanan untuk pendudukan, perusahaan yang mengeksploitasi sumber daya alam dari tanah Palestina, dan yang menggunakan orang Palestina sebagai tenaga kerja murah.

Kantor hak asasi manusia PBB telah mengidentifikasi lebih dari 200 perusahaan yang terkait secara langsung atau tidak langsung yang mendukung pemukiman ilegal, kebanyakan dari Israel dan AS, tetapi ada juga dari Jerman dan Belanda.

Mereka termasuk perusahaan perbankan dan pariwisata, serta perusahaan konstruksi dan teknologi.

Baca juga: Israel Gempur Target di Suriah, 3 Tentara Tewas

Kunjungan ke Dataran Tinggi Golan

Pompeo, yang berada di Israel sebagai bagian dari tur Timur Tengah terakhirnya sebagai menteri luar negeri AS, juga mengatakan dia akan mengunjungi Dataran Tinggi Golan, wilayah yang direbut Israel dari Suriah dan diduduki dalam perang 1967.

"Hari ini saya akan memiliki kesempatan untuk mengunjungi Dataran Tinggi Golan," katanya di Yerusalem pada Kamis, yang menandai jeda dari kebijakan pemerintah AS sebelumnya.

Halaman:

Sumber Aljazeera
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[Biografi Tokoh Dunia] Alexei Navalny, Musuh Bebuyutan Putin yang Tak Tumbang meski Dipenjara dan Diracun

[Biografi Tokoh Dunia] Alexei Navalny, Musuh Bebuyutan Putin yang Tak Tumbang meski Dipenjara dan Diracun

Global
Rusia Tuduh Kedutaan AS di Moskwa Terbitkan Rute Protes Pendukung Navalny

Rusia Tuduh Kedutaan AS di Moskwa Terbitkan Rute Protes Pendukung Navalny

Global
Dua Pemimpin Suku Asli Amazon Tuntut Presiden Brasil Jair Bolsonaro

Dua Pemimpin Suku Asli Amazon Tuntut Presiden Brasil Jair Bolsonaro

Global
Wuhan Sudah Kembali Normal Saat Dunia Masih Berjuang Melawan Pandemi

Wuhan Sudah Kembali Normal Saat Dunia Masih Berjuang Melawan Pandemi

Global
7 Pulau-pulau Horor di Dunia dari Penjara Tua sampai Situs Uji Senjata Biologis

7 Pulau-pulau Horor di Dunia dari Penjara Tua sampai Situs Uji Senjata Biologis

Global
Biden Gonta-ganti Pena Setiap Tanda Tangani Dokumen, Ternyata Ini Alasannya

Biden Gonta-ganti Pena Setiap Tanda Tangani Dokumen, Ternyata Ini Alasannya

Global
Ribuan Pendukung Navalny Demo di Moskwa, Olok-olok Putin dan Bentrok dengan Polisi

Ribuan Pendukung Navalny Demo di Moskwa, Olok-olok Putin dan Bentrok dengan Polisi

Global
Cegah Penularan Covid-19, Dokter di Perancis: Jangan Bicara di Transportasi Umum

Cegah Penularan Covid-19, Dokter di Perancis: Jangan Bicara di Transportasi Umum

Global
Bagaimana Nasib “Tembok Trump” di Era Biden?

Bagaimana Nasib “Tembok Trump” di Era Biden?

Global
[VIDEO] Lebih dari 100 Ekor Monyet 'Gerebek' Sebuah Ladang Desa di Thailand karena Kelaparan

[VIDEO] Lebih dari 100 Ekor Monyet "Gerebek" Sebuah Ladang Desa di Thailand karena Kelaparan

Global
Garda Nasional Telantar Tidur di Parkiran Gedung Capitol, Joe Biden Minta Maaf

Garda Nasional Telantar Tidur di Parkiran Gedung Capitol, Joe Biden Minta Maaf

Global
Lemari Pendingin Tercabut Petugas, Hampir 2.000 Dosis Vaksin Hancur

Lemari Pendingin Tercabut Petugas, Hampir 2.000 Dosis Vaksin Hancur

Global
Hong Kong Lockdown Terketat untuk Lawan Gelombang Keempat Covid-19

Hong Kong Lockdown Terketat untuk Lawan Gelombang Keempat Covid-19

Global
Suami Siram Istri dengan Air Mendidih gara-gara Dibangunkan untuk Sarapan

Suami Siram Istri dengan Air Mendidih gara-gara Dibangunkan untuk Sarapan

Global
Minum Anggur Merah dan Telanjang di Bak Mandi, Influencer di Arab Saudi Dikecam Netizen

Minum Anggur Merah dan Telanjang di Bak Mandi, Influencer di Arab Saudi Dikecam Netizen

Global
komentar
Close Ads X