Investigasi Media AS di Perkebunan Sawit Indonesia-Malaysia: Pemerkosaan dan Pelecehan Lain Marak Menimpa Pekerja Wanita

Kompas.com - 19/11/2020, 07:45 WIB
Seorang pekerja perempuan berjalan dengan penyemprot pestisida di punggungnya di perkebunan kelapa sawit di Sumatera, Indonesia, Sabtu, 8 September 2018. Beberapa pekerja menggunakan pasta kuning yang terbuat dari bubuk beras dan akar lokal sebagai tabir surya. AP/Binsar BakkaraSeorang pekerja perempuan berjalan dengan penyemprot pestisida di punggungnya di perkebunan kelapa sawit di Sumatera, Indonesia, Sabtu, 8 September 2018. Beberapa pekerja menggunakan pasta kuning yang terbuat dari bubuk beras dan akar lokal sebagai tabir surya.

SUMATRA, KOMPAS.com - Media Amerika Serikat (AS) Associated Press (AP) pada Kamis (19/11/2020) mengabarkan betapa kejam dan buruknya kehidupan para pekerja perempuan di lahan sawit Indonesia dan Malaysia.

AP melakukan investigasi komprehensif pertama yang berfokus pada perlakuan brutal terhadap perempuan dalam produksi minyak sawit.

Termasuk momok tersembunyi pelecehan dan kekerasan seksual, baik itu pelecehan verbal, ancaman dan pemerkosaan.

Penyelidikan ini mengungkap bagaimana industri besar memiliki pelanggaran yang meluas baik di Indonesia maupun Malaysia.

Tak hanya kebrutalan terhadap pekerja perempuan, perdagangan manusia, pekerja anak dan perbudakan juga ditemukan dalam penyelidikan.

Baca juga: AS Akan Blokir Minyak Sawit dari Produsen Besar Malaysia

Pemerkosaan di tengah lahan sawit

Seorang gadis berusia 16 tahun bercerita, bagaimana dia diperkosa. Dengan tangan menutup mulutnya erat, dia tidak bisa berteriak.

Toh, tidak ada orang di sekitar yang bisa mendengarnya, kenang gadis itu. Dia menuturkan bagaimana bosnya memperkosanya di tengah pepohonan tinggi di perkebunan kelapa sawit Indonesia yang menjadi sumber beberapa merek kosmetik paling terkenal di dunia.

Bosnya itu kemudian meletakkan kapak di tenggorokannya, mengancam: Jangan bilang siapa-siapa.

Sementara di perkebunan lain, seorang perempuan bernama Ola mengeluhkan sakit demam, batuk dan mimisan setelah bertahun-tahun menyemprot pestisida berbahaya tanpa alat pelindung.

Dalam sehari, penghasilannya hanya mencapai sekitar Rp28.000. Dia tidak diberi fasilitas kesehatan, begitupun tak mampu pergi ke dokter.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X