Demo di Thailand Berujung Bentrok, Demonstran Pakai "Pelampung Bebek" sebagai Tameng

Kompas.com - 18/11/2020, 12:59 WIB
Para pengunjuk rasa demokrasi membawa balon berbentuk bebek tiup setelah menerobos barikade di dekat Gedung Parlemen Thailand di Bangkok, Selasa (17/11/2020). Medan pertempuran politik Thailand bergeser ke Gedung Parlemen pada Selasa, di mana anggota parlemen sedang mempertimbangkan usulan untuk mengubah konstitusi. AP Photo/Sakchai LalitPara pengunjuk rasa demokrasi membawa balon berbentuk bebek tiup setelah menerobos barikade di dekat Gedung Parlemen Thailand di Bangkok, Selasa (17/11/2020). Medan pertempuran politik Thailand bergeser ke Gedung Parlemen pada Selasa, di mana anggota parlemen sedang mempertimbangkan usulan untuk mengubah konstitusi.

Tidak disebutkan siapa yang mungkin menggunakan senjata api.

"Kami mencoba menghindari bentrokan," kata Wakil Kepala Kepolisian Bangkok, Piya Tavichai, dalam konferensi pers.

Baca juga: Terus Diterpa Tuntutan Reformasi Monarki, Raja Thailand Serukan Persatuan Nasional

Dia mengatakan polisi telah mencoba untuk mendesak mundur para pengunjuk rasa dari gedung parlemen supaya tidak bentrok dengan loyalis kerajaan Thailand yang berbaju kuning.

Ketika bentrokan pecah dan meriam air disemprotkan, para pengunjuk rasa mendekati barisan polisi dengan perisai darurat, termasuk menggunakan pelampung berbentuk bebek.

Sekitar enam jam kemudian, polisi mundur dan meninggalkan truk air mereka. Para pengunjuk rasa lalu mencorat-coret truk air tersebut.

“Dengan ini saya mengumumkan eskalasi protes. Kami tidak akan menyerah. Tidak akan ada kompromi,” kata Parit “Penguin” Chiwarak kepada kerumunan di gerbang parlemen sebelum pengunjuk rasa bubar.

Baca juga: Unjuk Rasa di Thailand Terus Berlanjut, 2.500 Pedemo Turun ke Jalan

Setelah aksi protes yang berbuntuk bentrokan terjadi pada Selasa, aksi protes kemungkinan akan kembali digelar di Bangkok pada Rabu (18/11/2020).

Juru Bicara Pemerintah Thailand Anucha Burapachaisri mengatakan polisi diwajibkan menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menjaga keamanan anggota parlemen.

Prayuth mengambil alih kekuasaan sebagai kepala junta militer pada 2014 dan lalu menjabat sebagai perdana menteri setelah pemilu tahun lalu.

Dia menampik tudingan oposisi bahwa ada adanya ketidakadilan dalam pemilu Thailand pada 2019.

Baca juga: Sekitar 200 Resor dan Hotel di Thailand Dibangun Ilegal di Lahan Pertanian

Anggota parlemen Thailand bakal membahas beberapa usulan untuk perubahan konstitusional mulai Selasa, sebagian besar usulan tersebut kemungkinan bakal mengecualikan perubahan terhadap monarki.

"Mengubah konstitusi akan mengarah pada penghapusan monarki," kata pemimpin loyalis kerajaan Warong Dechgitvigrom kepada wartawan.

Di sisi lain para pengunjuk rasa mengatakan mereka tidak ingin menghapus monarki namun membatasi wewenang Raja Thailand.

Baca juga: 190 Situs Porno Diblokir Pemerintah, Netizen Thailand Uring-uringan

Halaman:

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X