Erdogan Ingin Kirim Pasukan Turki ke Nagorno-Karabakh demi Membentuk "Pusat Perdamaian"

Kompas.com - 16/11/2020, 18:12 WIB
Seorang pria Azerbaijan mengibarkan bendera Azerbaijan dan bendera Turki setelah Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengklaim pasukan Azerbaijan telah merebut Shushi, sebuah kota utama di wilayah Nagorno-Karabakh yang telah di bawah kendali etnis Armenia selama beberapa dekade di Baku, Azerbaijan, Minggu (8/11/2020). AP PhotoSeorang pria Azerbaijan mengibarkan bendera Azerbaijan dan bendera Turki setelah Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengklaim pasukan Azerbaijan telah merebut Shushi, sebuah kota utama di wilayah Nagorno-Karabakh yang telah di bawah kendali etnis Armenia selama beberapa dekade di Baku, Azerbaijan, Minggu (8/11/2020).

ANKARA, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan, dia berencana mengirim pasukan ke Nagorno-Karabakh untuk membentuk "pusat perdamaian".

Permintaan yang bakal dilayangkan ke parlemen itu terjadi setelah Rusia sudah mengirim militer untuk menjaga daerah sengketa Armenia dan Azerbaijan itu.

Turki dan Rusia juga sudah menggelar dialog selama dua hari teakhir soal bagaimana mereka bisa bekerja sama untuk mengamankan Karabakh.

Baca juga: Kenapa Armenia-Azerbaijan Perang di Nagorno-Karabakh? Apa yang Direbutkan?

Ankara merupakan sekutu utama Azerbaijan, yang berusaha merebut Nagorno-Karabakh dari kelompok separatis Armenia yang mendudukinya sejak 1990-an.

Pada Senin pekan lalu (9/11/2020), dua negara yang berseteru itu menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang ditawarkan Kremlin.

Kesepakatan itu mengakhiri perang selama enam pekan di Nagorno-Karabakh, yang sudah merenggut korban ribuan baik dari militer maupun sipil.

Berdasarkan perjanjian itu, separatis Armenia setuju untuk menarik diri dari sebagian besar wilayah yang berlokasi di Kaukasia tersebut.

Di hadapan parlemen, Erdogan meminta agar Turki mengirimkan pasukan demi membentuk "pusat perdamaian dengan Rusia dan beraktivitas di sana".

Dilansir AFP Senin (16/11/2020), penerjunan penjaga perdamaian itu akan berjalan selama satu tahun dengan jumlah personelnya ditentukan oleh Erdogan.

Pada pekan lalu, Moskwa menyatakan menerjunkan 1.960 tentara beserta kendaraan angkut dan peralatan penunjang lainnya ke Armenia.

"Negeri Beruang Merah" sudah menekankan berulang kali bahwa di bawah perjanjian itu, Turki tak akan bisa mengerahkan pasukan.

Perjanjian itu menyatakan bahwa pusat perdamaian dibentuk untuk mengontrol gencatan senjata, namun tak dijelaskan peran pastinya.

Baca juga: Putin Minta Azerbaijan Jaga Gereja dan Tempat Suci Kristen Peninggalan Armenia di Nagorno-Karabakh


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baghdad Diserang Bom Bunuh Diri Terbesar, 32 Orang Tewas

Baghdad Diserang Bom Bunuh Diri Terbesar, 32 Orang Tewas

Global
Ketua DPR AS Bersikukuh Pemakzulan Trump Jalan Terus, tapi...

Ketua DPR AS Bersikukuh Pemakzulan Trump Jalan Terus, tapi...

Global
Militer AS Dakwa Pelaku Bom Bali 2002 dan Bom Jakarta 2003

Militer AS Dakwa Pelaku Bom Bali 2002 dan Bom Jakarta 2003

Global
Calon Menhan AS Pilihan Biden Makin Mulus Jalannya

Calon Menhan AS Pilihan Biden Makin Mulus Jalannya

Global
Biden Undang Taiwan dalam Pelantikannya, Apa Artinya?

Biden Undang Taiwan dalam Pelantikannya, Apa Artinya?

Global
Biden akan Perpanjang Perjanjian Pembatasan Senjata Nuklir AS-Rusia

Biden akan Perpanjang Perjanjian Pembatasan Senjata Nuklir AS-Rusia

Global
[POPULER GLOBAL] Pesan Terakhir Ketua DPR AS kepada Trump | 17 Perintah Eksekutif Joe Biden

[POPULER GLOBAL] Pesan Terakhir Ketua DPR AS kepada Trump | 17 Perintah Eksekutif Joe Biden

Global
[Kisah Misteri] Kasus Pembantaian Massal di Kapal Ikan Investor 1982 di Alaska, Siapa Pembunuhnya dan Mengapa?

[Kisah Misteri] Kasus Pembantaian Massal di Kapal Ikan Investor 1982 di Alaska, Siapa Pembunuhnya dan Mengapa?

Global
Selesai Dilantik, Biden Langsung Teken 3 Keppres

Selesai Dilantik, Biden Langsung Teken 3 Keppres

Global
Jungkat-jungkit Pink di Tembok Perbatasan AS-Meksiko Menang Penghargaan Desain

Jungkat-jungkit Pink di Tembok Perbatasan AS-Meksiko Menang Penghargaan Desain

Global
Bagaimana Pengamanan di Gedung Capitol Pasca Pelantikan Joe Biden

Bagaimana Pengamanan di Gedung Capitol Pasca Pelantikan Joe Biden

Global
Gagal Pecahkan Kasus Pramugari Christine Dacera, Kepala Polisi Makati Akan Dipecat

Gagal Pecahkan Kasus Pramugari Christine Dacera, Kepala Polisi Makati Akan Dipecat

Global
Gempa M 7,0 Guncang Filipina Selatan, Bersamaan dengan Sulawesi Utara

Gempa M 7,0 Guncang Filipina Selatan, Bersamaan dengan Sulawesi Utara

Global
WHO Bocorkan Calon Vaksin Covid-19 Generasi Baru: Ada yang Lewat Hidung dan Cukup 1 Suntikan

WHO Bocorkan Calon Vaksin Covid-19 Generasi Baru: Ada yang Lewat Hidung dan Cukup 1 Suntikan

Global
Netizen Ramai Bicarakan “Sanitizer in Chief” dalam Pelantikan Presiden AS, Siapakah dia?

Netizen Ramai Bicarakan “Sanitizer in Chief” dalam Pelantikan Presiden AS, Siapakah dia?

Global
komentar
Close Ads X