Tunisia dan Qatar Dorong Diskusi Islam-Barat untuk Cegah Gerakan Anti-Muslim

Kompas.com - 16/11/2020, 09:30 WIB
Akademisi konservatif Kais Saied menyapa para pendukungnya di tengah perayaan unggulnya dia di Exit Poll Pilpres Tunisia pada 13 Oktober 2019. Politisi berjuluk Robocop itu meraup di atas 70 persen dalam exit poll. AFP PHOTO/FETHI BELAIDAkademisi konservatif Kais Saied menyapa para pendukungnya di tengah perayaan unggulnya dia di Exit Poll Pilpres Tunisia pada 13 Oktober 2019. Politisi berjuluk Robocop itu meraup di atas 70 persen dalam exit poll.

DOHA, KOMPAS.com - Presiden Tunisia Kais Saied dan Qatar pada Minggu (15/11/2020) di Doha mengatakan akan berusaha untuk mendorong adanya dialog antara Muslim dan Barat untuk mencegah reaksi anti-Muslim menyusul serangan ekstremis.

Saied mengatakan kepada kantor berita Qatar bahwa Doha dan Tunis mengusulkan untuk mengadakan "konferensi Islam-Barat...yang bertujuan untuk mencapai pemahaman yang lebih besar dan untuk mengatasi hambatan yang muncul setelah beberapa operasi teroris".

Inisiatif tersebut tampaknya menjadi bagian dalam menanggapi pernyataan baru-baru ini oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron bahwa Islam sedang "dalam krisis" menyusul serangkaian serangan ekstremis di Perancis.

Baca juga: Teror di Perancis, Macron Perkuat Kendali di Perbatasan

Pada Oktober, pemimpin Perancis itu juga mengumumkan rencana untuk mempertahankan nilai-nilai sekuler negaranya melawan "radikalisme Islam", yang memicu kecaman dari seluruh dunia Muslim.

Saied mengatakan bahwa "tujuan konferensi Islam-Barat itu juga untuk menghindari kebingungan Muslim dengan ekstremis yang mengaku sebagai Muslim," lapor kantor berita yang dikelola pemerintah.

Baca juga: 3 Terdakwa Aksi Teror 2015 Positif Corona, Sidang Charlie Hebdo Ditunda

Ada "kebutuhan untuk membedakan antara Islam dengan tujuan sebenarnya dan terorisme, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam", tambahnya seperti yang dilansir dari AFP pada Minggu (15/11/2020).

Tidak ada rincian lebih lanjut yang diberikan Saied dari konferensi yang diusulkan.

Baca juga: Disebut Teroris, Erdogan Gugat Politisi Sayap Kanan Belanda Geert Wilders

Menurut Kementerian Luar Negeri Qatar bahwa Saied dan sebagian besar delegasi Tunisia berada di Qatar untuk kunjungan kenegaraan selama 3 hari, di mana kedua pihak juga membahas topik panas Libya yang dilanda konflik.

Kementerian tidak memberikan rincian lebih lanjut dari pertemuan yang membahas tentang Libya.

Baca juga: Dapat Stigma akibat Teror di Perancis, Umat Islam Merasa Tertekan

Kunjungan itu dilakukan selama sepekan pembicaraan yang dipimpin PBB tentang Libya yang diadakan di negara tetangga Tunisia yang akan ditutup pada Minggu.

Pembicaraan politik mempertemukan 75 delegasi yang dipilih oleh PBB untuk mewakili berbagai daerah pemilihan dalam upaya terbaru untuk mengakhiri konflik selama satu dekade di negara Afrika Utara itu.

Baca juga: Putra Mahkota Arab Saudi Bersumpah untuk Lawan Ekstremis Tanpa Ampun

Para pengamat telah mengkritik cara para delegasi dipilih dan meragukan pengaruh mereka di Libya, di mana dua pemerintahan sudah bersaing untuk mendapatkan kekuasaan.

Qatar telah memainkan peran aktif di Libya, dengan menandatangani perjanjian keamanan dengan Pemerintah Kesepakatan Nasional yang diakui PBB pada Oktober.


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Siswi Australia Dapat Nilai Bahasa Indonesia Tertinggi di Kelasnya

Siswi Australia Dapat Nilai Bahasa Indonesia Tertinggi di Kelasnya

Global
Taiwan Batalkan Festival Lentera Tahun Baru Imlek Setelah Kluster Baru Covid-19 Muncul

Taiwan Batalkan Festival Lentera Tahun Baru Imlek Setelah Kluster Baru Covid-19 Muncul

Global
Jaket Melania dan Beragam Momen Ikonik Lainnya Selama Trump Berkuasa

Jaket Melania dan Beragam Momen Ikonik Lainnya Selama Trump Berkuasa

Global
WHO: Rebutan Vaksin, Dunia Hadapi Kegagalan Moral yang Dahsyat

WHO: Rebutan Vaksin, Dunia Hadapi Kegagalan Moral yang Dahsyat

Global
Dituduh Hina Keluarga Kerajaan Thailand, Wanita Ini Dihukum Lebih dari 43 Tahun

Dituduh Hina Keluarga Kerajaan Thailand, Wanita Ini Dihukum Lebih dari 43 Tahun

Global
PM Inggris Boris Johnson Disebut Sering Tidur Siang, Downing Street Membantah

PM Inggris Boris Johnson Disebut Sering Tidur Siang, Downing Street Membantah

Global
Kota Tertua di Benua Amerika Terancam Musnah akibat Virus Corona

Kota Tertua di Benua Amerika Terancam Musnah akibat Virus Corona

Global
Seorang Salesman Dituding sebagai “Superspreader”, Sebabkan 102 Infeksi Baru di China

Seorang Salesman Dituding sebagai “Superspreader”, Sebabkan 102 Infeksi Baru di China

Global
Truk Oleng Tabrak 15 Orang Tidur di Pinggir Jalan, Semua Tewas

Truk Oleng Tabrak 15 Orang Tidur di Pinggir Jalan, Semua Tewas

Global
Fenomena Salju Efek Laut Melanda Asia, Timbulkan Cuaca Ekstrem hingga Makan Korban di Jepang

Fenomena Salju Efek Laut Melanda Asia, Timbulkan Cuaca Ekstrem hingga Makan Korban di Jepang

Global
Tabrakan Beruntun 134 Mobil di Tol Jepang, Angin Kencang 100 Km Per Jam dan Salju Lebat

Tabrakan Beruntun 134 Mobil di Tol Jepang, Angin Kencang 100 Km Per Jam dan Salju Lebat

Global
200 Orang dan 134 Mobil Kecelakaan Beruntun di Jepang, 1 Tewas

200 Orang dan 134 Mobil Kecelakaan Beruntun di Jepang, 1 Tewas

Global
Kecelakaan Fatal Terjadi di Jepang 130 Kendaraan Saling Bertabrakan

Kecelakaan Fatal Terjadi di Jepang 130 Kendaraan Saling Bertabrakan

Global
Singapura Mulai Vaksinasi Massal Pekerja Sektor Penerbangan dan Maritim

Singapura Mulai Vaksinasi Massal Pekerja Sektor Penerbangan dan Maritim

Global
Deretan Kebijakan Trump yang Membuat AS Penuh Gejolak Selama 4 Tahun

Deretan Kebijakan Trump yang Membuat AS Penuh Gejolak Selama 4 Tahun

Global
komentar
Close Ads X