Terus Diterpa Tuntutan Reformasi Monarki, Raja Thailand Serukan Persatuan Nasional

Kompas.com - 15/11/2020, 05:49 WIB
Raja Thailand Raja Maha Vajiralongkorn berjalan untuk mengikuti upacara wisuda di Universitas Thammasat di Bangkok, Thailand, Sabtu, (31/10/2020). AP Photo/Sunti TeapiaRaja Thailand Raja Maha Vajiralongkorn berjalan untuk mengikuti upacara wisuda di Universitas Thammasat di Bangkok, Thailand, Sabtu, (31/10/2020).

BANGKOK, KOMPAS.com – Raja Thailand Maha Vajiralongkorn mengatakan kepada para pendukungnya tentang pentingnya persatuan nasional.

Hal itu dia sampaikan ketika dia meresmikan stasiun kereta bawah tanah pada Sabtu (14/11/2020) malam waktu setempat.

Pernyataannya tersebut keluar setelah para pengunjuk rasa menyambut iring-iringan mobil kerajaan saat melewati pusat ibu kota Thailand, Bangkok.

Sekitar 2.500 demonstran berkumpul di Monumen Demokrasi Bangkok pada Sabtu malam, melanjutkan aksi protes yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

Mereka menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-o-cha dan menyerukan reformasi monarki sebagaimana silansir dari Channel News Asia.

Baca juga: Unjuk Rasa di Thailand Terus Berlanjut, 2.500 Pedemo Turun ke Jalan

Para pengunjuk rasa menutupi bagian tengah monumen, yang telah menjadi tempat berkumpulnya aksi protes, dengan kain yang berisi tulisan-tulisan protes.

“Kediktatoran dihancurkan, demokrasi akan langgeng,” teriak salah satu pengunjuk rasa yang memanjat bangunan setinggi 3 meter tersebut.

Saat iring-iringan mobil kerajaan yang membawa Raja Maha dan Ratu Suthida lewat, mereka langsung menghadap iring-iringan tersebut.

Setelah itu, para pengunjuk rasa memberi salam tiga jari seperti pada film Hunger Games, dan menyanyikan lagu kebangsaan untuk menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap monarki.

Setelah melewati para pengunjuk rasa, iring-iringan mobil kerajaan tiba di lokasi peresmian stasiun kereta bawah tanah yang baru.

Baca juga: Sekitar 200 Resor dan Hotel di Thailand Dibangun Ilegal di Lahan Pertanian

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

20 Migran Tewas Dilempar ke Laut oleh Kelompok Penyelundup Manusia

20 Migran Tewas Dilempar ke Laut oleh Kelompok Penyelundup Manusia

Global
7 Orang Etnis Minoritas Hazara Diikat Lalu Ditembak Brutal di Afghanistan

7 Orang Etnis Minoritas Hazara Diikat Lalu Ditembak Brutal di Afghanistan

Global
Korban Tewas Demo Myanmar 54 Orang, Begini Respons PBB

Korban Tewas Demo Myanmar 54 Orang, Begini Respons PBB

Global
Pengadilan Turki Menolak Menambahkan Laporan AS dalam Persidangan Khashoggi

Pengadilan Turki Menolak Menambahkan Laporan AS dalam Persidangan Khashoggi

Global
Puluhan Garda Nasional AS di Gedung Capitol Jatuh Sakit Gara-gara Daging Mentah yang Disajikan

Puluhan Garda Nasional AS di Gedung Capitol Jatuh Sakit Gara-gara Daging Mentah yang Disajikan

Global
Ambergris Bisa Menguntungkan dan Legal? Ini Kumpulan Faktanya

Ambergris Bisa Menguntungkan dan Legal? Ini Kumpulan Faktanya

Internasional
Peringatan NATO: Uni Eropa Tak Bisa Bertahan jika Sendirian

Peringatan NATO: Uni Eropa Tak Bisa Bertahan jika Sendirian

Global
Bagaimana jika Tak Ada Perbedaan Waktu di Dunia? 2 Ilmuwan Ini Beberkan Penjelasannya

Bagaimana jika Tak Ada Perbedaan Waktu di Dunia? 2 Ilmuwan Ini Beberkan Penjelasannya

Internasional
China Wajibkan Pelancong Asing Tes Covid-19 dengan Swab Anal

China Wajibkan Pelancong Asing Tes Covid-19 dengan Swab Anal

Global
Sejarah Penetapan Zona Waktu di Dunia hingga Usulan Penghapusannya

Sejarah Penetapan Zona Waktu di Dunia hingga Usulan Penghapusannya

Internasional
Dinyatakan Mati, Seorang Pengendara Motor Hidup Sebelum Dibedah

Dinyatakan Mati, Seorang Pengendara Motor Hidup Sebelum Dibedah

Internasional
Sebelum Ditembak Mati dalam Demo Myanmar, Angel Ingin Sumbangkan Organ Tubuh

Sebelum Ditembak Mati dalam Demo Myanmar, Angel Ingin Sumbangkan Organ Tubuh

Global
Kematian Tentara Transgender Pertama Korea Selatan Picu Amarah Publik

Kematian Tentara Transgender Pertama Korea Selatan Picu Amarah Publik

Internasional
Selamatkan 4 Kucing dari Kapal Tenggelam, Pelaut Thailand Banjir Pujian

Selamatkan 4 Kucing dari Kapal Tenggelam, Pelaut Thailand Banjir Pujian

Internasional
3 Tentara Myanmar Mengungsi ke India daripada Turuti Perintah Junta Militer

3 Tentara Myanmar Mengungsi ke India daripada Turuti Perintah Junta Militer

Global
komentar
Close Ads X