Eks Presiden Perancis Bebas dari Tuduhan Curi Uang Muammar Gaddafi

Kompas.com - 12/11/2020, 12:41 WIB
Nicolas Sarkozy AFPNicolas Sarkozy

PARIS, KOMPAS.com - Pebisnis keturunan Perancis-Lebanon, Ziad Takieddine mencabut tuduhannya terhadap mantan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy pada Rabu (11/11/2020). 

Mantan presiden Perancis sebelumnya dituduh mengambil jutaan uang tunai dari pemimpin Libya, mendiang Muammar Gaddafi, untuk kampanye pemilihan presiden tahun 2007.

Pengusaha Perancis-Lebanon, Ziad Takieddine, mengklaim telah mengirimkan beberapa koper yang berisi lima juta Euro dari Tripoli, Libya kepada kepala staf Sarkozy tahun 2006 dan 2007.

Baca juga: 1 September 1969, Muammar Gaddafi Pimpin Kudeta Libya

Sarkozy melalui Facebook mengatakan, "Kebenaran akhirnya terungkap." 

"Selama tujuh setengah tahun, investigasi belum menemukan bukti sedikit pun akan [adanya] pembiayaan ilegal apapun," tulis Sarkozy.

"Saksi utama penuduh mengakui kebohongannya," tambah Sarkozy. "Dia tidak pernah memberi saya uang, tidak pernah ada pembiayaan ilegal untuk kampanye saya pada tahun 2007."

Baca juga: Mantan Presiden Sarkozy Bantah Dirinya Terima Dana dari Gaddafi

Takieddine, yang berada di Beirut dalam pelariannya dari peradilan Perancis untuk urusan keuangan lainnya, merilis video yang mengatakan bahwa hakim yang memberi instruksi telah memutarbalikkan kata-katanya.

"Saya mengatakan dengan keras dan jelas [bahwa] hakim... benar-benar ingin mengubahnya seperti yang dia inginkan dan membuat saya mengatakan hal-hal yang sangat bertentangan dengan apa yang saya katakan," kata Takieddine, yang sudah berusia 70 tahun itu.

"Tidak ada pembiayaan untuk kampanye kepresidenan Sarkozy," tambahnya.

Baca juga: Mantan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy Didakwa Korupsi

Sarkozy mengumumkan bahwa dia akan memerintahkan pengacaranya agar menghentikan kasus yang menyerangnya dan menuntut Takieddine dengan tuntutan pencemaran nama baik.

Jaksa Perancis bulan lalu mengatakan mereka telah mendakwa Sarkozy atas keanggotaannya dalam sebuah konspirasi kriminal setelah lebih dari 40 jam diinterogasi selama empat hari, menurut keterangan jaksa penuntut kepada AFP.

Hal itu menambah dakwaan yang sudah diajukan pada tahun 2018 tentang menerima suap serta mendapatkan keuntungan dari penggelapan dana publik juga pembiayaan kampanye ilegal.

Baca juga: Katakan Tidak untuk Sarkozy

Tuduhan pada bulan Oktober dianggap meningkatkan peluang persidangan untuk Sarkozy menjadi mantan presiden Perancis pertama yang dituduh korupsi.

Jaksa menduga Sarkozy dan rekan-rekannya menerima puluhan juta euro dari rezim Gaddafi untuk membantu membiayai pemilihannya.


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Joe Biden Tekankan ke Raja Salman Kerja Sama Bilateral Kuat dan Transparan

Joe Biden Tekankan ke Raja Salman Kerja Sama Bilateral Kuat dan Transparan

Global
Dipindah dari Penjara Moskwa, Dibawa ke Mana Alexei Navalny?

Dipindah dari Penjara Moskwa, Dibawa ke Mana Alexei Navalny?

Global
Gedung Capitol Kembali Terancam Pendukung Trump Ingin Ledakkan dan Bunuh Anggota Kongres

Gedung Capitol Kembali Terancam Pendukung Trump Ingin Ledakkan dan Bunuh Anggota Kongres

Global
Raja Yordania: Selama Covid 19, Terorisme dan Ekstremisme Kian Subur

Raja Yordania: Selama Covid 19, Terorisme dan Ekstremisme Kian Subur

Global
[POPULER GLOBAL] Dokumen 'Sangat Rahasia' Peran Putra Mahkota Arab Saudi dalam Pembunuhan Khashoggi | Seorang Wanita Singapura Siksa dan Bunuh PRT

[POPULER GLOBAL] Dokumen "Sangat Rahasia" Peran Putra Mahkota Arab Saudi dalam Pembunuhan Khashoggi | Seorang Wanita Singapura Siksa dan Bunuh PRT

Global
Survei Ketakutan Warga Amerika terhadap Risiko Kematian Covid-19 Menurun

Survei Ketakutan Warga Amerika terhadap Risiko Kematian Covid-19 Menurun

Global
5 Destinasi Wisata Thailand Masuk Kelompok Pertama Peneriman Program Vaksin Covid-19

5 Destinasi Wisata Thailand Masuk Kelompok Pertama Peneriman Program Vaksin Covid-19

Global
China Setujui Pemakaian Vaksin Sinopharm dan CanSino

China Setujui Pemakaian Vaksin Sinopharm dan CanSino

Global
China dan India Berebut Pengaruh Politik Lewat Diplomasi Vaksin Covid-19

China dan India Berebut Pengaruh Politik Lewat Diplomasi Vaksin Covid-19

Global
Media Asing Ramai Beritakan Hiu Berwajah Mirip Manusia di NTT

Media Asing Ramai Beritakan Hiu Berwajah Mirip Manusia di NTT

Global
Kisah Desa yang Dihuni 3.000 Janda, Para Suami Tewas Diterkam Harimau

Kisah Desa yang Dihuni 3.000 Janda, Para Suami Tewas Diterkam Harimau

Global
Duterte Sedih atas Baku Tembak Antar-anggota Aparat Penegak Hukum Filipina

Duterte Sedih atas Baku Tembak Antar-anggota Aparat Penegak Hukum Filipina

Global
Kisah Misteri: 8 Pendaki Dilaporkan Hilang, 'Dyatlov Pass' Semakin Misterius

Kisah Misteri: 8 Pendaki Dilaporkan Hilang, "Dyatlov Pass" Semakin Misterius

Global
Diisukan Meninggal, Menteri Ini Tiba-tiba Muncul dengan Napas Terengah-engah

Diisukan Meninggal, Menteri Ini Tiba-tiba Muncul dengan Napas Terengah-engah

Global
14 Jam Mengapung di Samudera Pasifik, Pelaut Setengah Baya Berhasil Selamat

14 Jam Mengapung di Samudera Pasifik, Pelaut Setengah Baya Berhasil Selamat

Global
komentar
Close Ads X